Sabtu, 30 Januari 2010 07.38
>3 / I
Jangan tanya perihal kapan tepatnya ia mulai 'mengenal' seorang Blake Guillory dengan cukup baik. Rasanya baru kemarin mereka berdiri di balik topeng mereka masing-masing di Halloween Ball, berdansa kecil dengan absurdnya, dan kemudian ia mengenal lelaki itu dari selentingan-selentingan juga cerita dari bibir Proust. Meski pada kenyataannya Guillory amat sangat sulit ditemui di waktu-waktu senggang dalam wujud manusia yang berjalan dengan dua kaki, akan sangat keterlaluan kalau kau tak mengenal Prefek Slytherin berambut gelap yang satu itu. Charlotte sendiri tak mengerti mengapa tepatnya ia bisa memulai pembicaraan dengan makhluk abstrak itu kali pertama, namun yang pasti, obrolan mereka selalu di luar konteks manusia normal.
Satu atau dua kali—namun cukup membuatnya paham (dan maklum) tentang orang seperti apa sebenarnya yang kini duduk di depannya. Sedikit lebih rendah, dapat ia lihat dengan jelas lewat bola matanya yang cokelat terang puncak kepala Guillory dengan rambut hitamnya yang berantakan. Ini jelas karena lelaki itu duduk di kursi kayu kecil berkaki tiga yang mereka dapatkan entah dari mana, sementara Charlotte berdiri tegak di belakangnya. Tangan kanan gadis itu memegang gunting, perak berkilat dengan matanya yang masih tajam; sementara di tangan kirinya ada sisir, warnanya biru dan matanya banyak.
Tentang apa sebenarnya yang hendak mereka lakukan di Gubuk Hagrid jauh dari kerumunan, kau bisa tanya pada satu oknum di depan. Satu tarikan kesimpulan yang diambil dari serangkaian percakapan absurd mereka pagi tadi di Meja Asrama membawa mereka ke tempat ini.
Dengan bangku kayu itu.
Dengan gunting dan sisir di tangannya itu.
Dan demi seluruh angin yang berhembus menerbangkan surai-surai gelap mereka, misinya kali ini adalah untuk—EHEM—
merapihkan rambut kepanjangan Guillory yang sudah seperti spesies-spesies Homo Erectus penghuni zaman Paleolitikum. Masa bodoh dengan pendapat Guillory bahwa rambut jabriknya itu adalah suatu apresiasi dari 'kejantanan primitif', lelaki berbadan besar dengan rambut panjang itu sesuatu yang tak cukup pantas untuk dilihat. Banci nanggung, tahu tidak? Meski tidak panjang-panjang amat, panjangnya yang sudah melebihi kerah menggelitik Charlotte untuk mengepangnya sampai rapih.
Nah, daripada dikepang, lebih baik dipotong—ya kan?
"My my... kau mau rambutmu kupotong dengan gaya bagaimana, hm?" ujarnya, memperhatikan bagian belakang kepala Guillory untuk mencari model yang tepat. Ketika tiba-tiba ia terbayang sosok pemuda itu Halloween Ball lalu. "Pakai jambul?"
Heh, kayak yang kau bisa saja, Charlotte.
(smirks)