Sabtu, 30 Januari 2010 07.37
Chit Chat / II
Sebagai seorang gadis, tak ada seorang pun yang bisa ia jadikan contoh untuk berperilaku layaknya 'wanita' selain ibunya yang bahkan sudah tak pernah ia temui sejak tiga tahun lalu. Kehidupannya di Hogwarts tak bisa dibilang menyenangkan, empat tahun dilaluinya dengan segudang masalah yang harus diselesaikan. Jangan tanya mengapa ia sama sekali tak pernah lirik-lirik lelaki, essay sejarah sihir saja sudah membuatnya kebingungan setengah mati—ia bukan tipe orang yang bisa menguraikan sesuatu dengan panjang lebar, apalagi menyisipkan basa-basi dan sedikit bualan di dalamnya—lalu tambahkan perasaannya yang kelewat peka, dan beberapa kisah sentimentil pengundang derai air mata—oke,
sinetron—maka takkan kau temukan secuil waktu untuknya bermain-main.
Kematian ayahnya bukan sesuatu yang begitu mudah dilupakan. Keengganannya yang membuat gadis itu kesulitan mencari teman, lalu segelintir orang-orang menyebalkan dan pihak sekolah yang memperlakukannya bagai mainan—kau pikir perasaannya masih bisa senormal gadis seumurannya yang lain?
Ia kira ia hampir tak waras, malah. Empat tahun pertamanya di Hogwarts benar-benar membuat nalarnya jungkir balik tak karuan.
Pembicaraan tentang 'cemburu' dan 'bosan' lewat di telinganya begitu saja bagai hembusan angin, benar-benar tak ada yang ia mengerti. Meski coba ia simpan baik-baik dalam benak, siapa tahu bisa digunakan KAPAN-KAPAN, tapi yah tetap saja untuk sekarang tak begitu menarik perhatiannya. Ia dibesarkan di keluarga yang penuh dengan lelaki, Tuan. Ayahnya, sepupunya, pamannya, Giuseppe, lalu banyak kaki tangan ayahnya yang ia sendiri tak kenal membuat perasaannya pada lawan jenis sedikit hambar. Ia hidup bersama mereka, melakukan banyak bersama mereka, lalu kenapa kalau mereka bosan? Toh kebosanan itu masalah perasaan, tak lama juga kembali lagi.
Seperti Gabriele, seperti Giuseppe—kecuali untuk orang-orang yang sudah mati, bosan itu sesuatu yang wajar kan?
Lalu Devindra menyodorkannya beberapa nama, membuat otaknya dengan cepat membayangkan beberapa wajah yang rasanya ia kenal. Czechkinsky dengan keramahannya yang khas; Luitgard si pirang bermulut bocor; Singh—ia tak ingat; lalu Zeelweger yang wajahnya mirip tikus dengan bibir kelewat merona; Thanatos Ravenclaw bayangan Christabel; Walther—entah yang mana. Lalu mendesah, menyadari tak ada satupun yang menarik perhatian ataupun terlalu dekat dengan gadis itu, Charlotte menegakkan tubuh, menyandarkannya begitu saja ke permukaan batang pohon yang mengelupas kasar. Menggigiti bibirnya sembari menatap langit.
"Ryan, tidakkah kau punya seseorang yang berarti bagimu? Yang selalu mengganggu tidurmu---dalam artian positif, tentu? Yang tiba-tiba saja terbayang di kepalamu saat kau melakukan sesuatu yang sangat kau sukai dan berharap kau bisa membagi kesenangan itu dengannya?"Surai cokelat gelapnya bergoyang pelan ketika gadis itu menoleh, manik cokelat terang gadis itu menyisir wajah-wajah di depannya. "Tidak," ujarnya, tersenyum kecut. "Kalau ayahku?" lanjutnya nyengir kecil.
Satu yang disadarinya, ia sulit 'menyukai' seseorang tanpa orang itu menyukainya lebih dulu. Sesulit ia membenci seseorang yang tak membencinya—istilahnya, buat apa? Tak mudah bagi gadis itu melihat kelebihan-kelebihan dari seseorang, sayangnya. Tidak, ketika hampir semua lelaki bertingkah begitu menyebalkan di matanya.