Minggu, 20 Desember 2009 05.24
Wurstelprater, Leopodstat, Vienna, Austria. / I
"Gabriele?"Tahu tidak... kalau ia hanya seorang gadis kecil yang masa lalunya tak menyenangkan. Empat belas tahun umurnya, dan yang ia inginkan hanya jalan-jalan sepuasnya di hari ulang tahun. Bukan hadiah yang indah-indah, bukan pula yang setumpuk. Hanya...
waktu—mengerti?
(menggeleng) "Aku tidak bisa, Charlotte. Maafkan aku... ya? De Luca bilang ada yang memeriksa salah satu toko kita di New York sana, jadi aku harus terbang sesegera mungkin. Sepertinya FBI—ah, aku benar-benar harus pergi, Charlotte. Bagaimana dengan Guiseppe?" nadanya buru-buru, melirik gusar ke segala arah. Berpaling ke arah lipitan jasnya yang rapih dan terlihat halus, Charlotte mendesah menahan kesal.
Ia kembali mengarahkan tatapan tajamnya ke mata gelap milik Gabriele, yang masih menatap Charlotte penuh permohonan. Gadis itu tahu, mengantarnya jalan-jalan tidaklah sepenting ketika beberapa orang berseragam mengobrak-abrik toko mereka mencari sesuatu, tapi biarkan ia egois sekali saja. Untuk kali ini. Charlotte sudah kesepian selama berbulan-bulan—hampir setahun, terkungkung di balik dinding-dinding batu yang hambar benar-benar menyiksa kesehatan fisik dan jiwa gadis itu. Melirik sebentar ke arah Cadillac hitam mereka yang terparkis tak jauh, tatapannya menunggu ke arah Gabriele.
"Tapi hari ini ulang tahunku, kukira kau ingat. Aku sakit, Gabriele. Dan ingin main," Oke, memang tidak nyambung—tapi siapa peduli?
"Aku ingat. Aku ingat, Charlotte. Bagaimana mungkin aku lupa? Lusa, oke? Aku janji lu—"
"Sudahlah, tidak perlu! Aku pergi dengan dia saja!" Grep. Tangannya meraih sebuah pergelangan milik seorang anak lelaki, matanya melotot kecil sebagai isyarat. Ikuti aku, please? Dan andai si anak lelaki bisa mengartikan tanda yang ia berikan lewat kerlingan manik cokelat terangnya, ia pasti sedang pasrah diseret Charlotte ke mobil saat ini. Ikal cokelat gelapnya (oh yea, Charlotte sudah cat rambut jadi gelap, ngomong-ngomong) bergoyang kecil ketika kepala sang pemilik menggeleng acuh ke arah Gabriele. Lalu pintu berlapis beledu itu ditutup dengan kasar, dan tanpa menoleh untuk terakhir kali pada sang sepupu, ia melaju meninggalkan London—meninggalkan Inggris.
Matahari bersinar kelewat cerah ketika
Cadillac Brougham hitam legam yang dikemudikan Guiseppe melaju mulus di sepanjang jalan Nordoportalstr, sebelum berbelok ke Meiereistr di mana sepanjang jalan pepohonan dari Ernst-Happel Stadion tumbuh rimbun sampai ke jalan. Pohon-pohon itu memiliki daun-daun kecil rimbun yang membuat kisi, tempat cahaya menerabas ke arahnya dan membentuk bilah-bilah kuning sampai ke jalan. Sebuah toko bunga tertangkap oleh maniknya yang cokelat terang ketika mereka lewat, bunga-bunga berwarna-warninya yang dipajang di etalase membuat seorang gadis di dalam semakin cemberut.
Gadis itu, yang rambut ikal cokelat gelapnya panjang sepunggung, menempelkan dahinya denga frustasi ke jendela. Tak ada satupun kata yang terlontar dari bibir merah muda si gadis yang sedari tadi mendesah, sekali-kali digigitnya bibir itu menahan kesal. Ia memejam-buka-kan matanya berulang kali sambil melihat jendela, bola matanya panas ingin menangis dan matanya perih. Charlotte kesal, tahu? Kesal sekesal-kesalnya pada Gabriele yang lebih mementingkan toko kumuh di Amerika sana dibanding hari ulang tahunnya yang berharga. Setelah terusir secara tak langsung dari rumah mereka di Waterloo, dan dengan kesibukan Gabriele yang setumpuk, Charlotte hampir tak pernah bertemu dengan sepupu juga ibunya. Dan kini bahkan tak ada secuil pun waktu yang disisihkan untuk gadis yang harus kembali sekolah sebentar lagi itu.
Uh-huh, kasihan sekali ya si Charlotte itu?
Memang.
Dan hal ini semakin menegaskan eksistensinya sebagai orang yang tak perlu untuk dijadikan prioritas. Sama sekali tak perlu—toh dia hanya anak kecil, dan hei! Dia perempuan, beri saja dia permen atau bunga dan habis semua perkara. Alih-alih akan balas memukulmu dengan tinjunya, apa sih yang bisa dia lakukan? Biarkan dia menangis, perempuan memang cengeng dan mata mereka keran air. Kecuali Guiseppe yang setia menyupirinya ke mana-mana, tak ada yang peduli kalau ia butuh mainan. Ia ingin main. Charlotte ingin bersenang-senang.
Merengut pelan sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya ke arah kaca, ia tanpa sengaja menyadari bahwa mobil mereka sudah belok kanan ke arah Hauptallee... dan ini berarti sebentar lagi mereka akan tiba di Prater. Prater! Charlotte masih ingat tahun lalu ketika hujan deras kemudian mengguyur Wina dan mereka tak jadi jalan-jalan, jadi jangan salahkan ia kalau sekarang, ia tak ingin ada gangguan. Sedikit roller coaster dan merry-go-round sepertinya tak buruk juga. Lalu ketika gelap mulai merayap, ia ingin berada di puncak Riesenrad. Sedikit terlonjak di kursi mobil, tubuh Charlotte menegak dan bola matanya membesar antusias. Melirik ke arah bagian belakang kepala Guiseppe di sebelah kiri-depan, sedetik kemudian tatapannya makin membesar, kaget.
...
Gadis itu benar-benar lupa bahwa Czechkinsky sejak tadi mengikutinya tanpa suara, duduk di sampingnya, dan—ahaha, dengan bodohnya Charlotte lupa saking kesedihan menyelubunginya bagai udara. Dengan labil ia lalu salah tingkah, melirik takut-takut kalau-kalau Czechkinsky
ngamuk, Charlotte menunggu saat-saat yang lumayan tepat untuk bicara. O, tadi ia menyeret begitu saja si lelaki Gryffindor dan memaksanya masuk mobil tanpa penjelasan, lalu naik pesawat, mobil lagi, dan mengacuhkannya benar-benar perbuatan yang tak bisa dimaafkan. Ohoho...
"Err... maafkan aku, Czech. Kins. Ky," ujarnya terbata-bata pada akhirnya, mencuri-curi lirik dengan takut.