Minggu, 29 November 2009 03.56
Leluhur, Carikan Kami Pacar! / I
"Maaf, sepertinya aku mu—" kata-katanya terhenti begitu ia menangkup bibirnya cepat dengan kedua tangan, berbalik tanpa aba-aba sebelum berlari layaknya cheetah meninggalkan Dedalu Perkasa menuju kastil. Gramofon di Pesta Dansa Halloween memang masih meneriakkan nada-nada merdu untuk berdansa, dan beberapa pasangan masih betah untuk bergoyang, tapi Charlotte harus segera pergi dari tempat diadakannya acara meski rangkaian belum selesai sepenuhnya. Ia memang pembawa acara, dan sudah tugasnyalah menutup dan membuka acara sampai tuntas. Tapi perutnya bergolak mual sejak beberapa saat tadi tanpa alasan, sepertinya akan sangat sangat sangat gawat kalau ia tak segera pergi dan mencari kamar mandi.
Bisa-bisa ia memuntahi gaun atau tuxedo seseorang di dalam sana...
Charlotte mual, perutnya bergolak aneh dan gejolaknya membuat kepala gadis itu pusing. Pandangannya dipenuhi kunang-kunang; sepertinya sebentar lagi isi perutnya akan terkuras habis meski belum ada makanan layak yang mengisi perutnya sejak pagi, dan beberapa hari ke depan gadis itu akan absen meringkuk di balik selimut kamar anak perempuan. Charlotte mungkin saja sakit, kebiasaannya sejak kecil yang meski jarang, sekalinya ia ambruk butuh waktu lama untuk pulih. Dua atau tiga hari membolos sepertinya menyenangkan.
Satu tangannya yang putih susu masih menangkup bibir dengan erat, manik coklat terangnya bergulir gelisah ke berbagai arah seiring kakinya melangkah dengan cepat terus ke dalam kastil. Sesekali ia membenturkan bahu kirinya dengan tembok, beberapa kali nyala obor tepat di garis lurus retina matanya, dan beberapa kali pula kelopaknya mengerjap pelan kepanasan hampir berair. Wajahnya pucat—bisa ia yakinkan itu meski tak ada cermin yang bisa ia tatap untuk membuktikan, tapi dapat ia rasakan kalau aliran darah di wajahnya sudah hampir terhenti.
Ia-butuh-wastafel-sekarang-juga—gadis itu butuh kamar mandi dan air!
Pintu reyot kamar mandi Myrtle berderit halus begitu tangannya yang sedikit gemetar memutar kenop pintu dan masuk. Satu hitungan ia melongokkan kepalanya ke dalam, hitungan kedua matanya melotot kecil sebelum mengerjap—
"UHUK UHUK!"
—dan terbatuk pelan. Entah bagaimana caranya ada bubuk aneh yang terhirup ketika Charlotte mengambil nafas. Dan baru ia sadari kalau ada titik-titik kecil cahaya dari banyak tongkat berpendar muram di tengah kegelapan. Mengabaikan mual dan pusing yang seolah menjungkir balik tubuhnya tanpa henti, atas dasar penasaran gadis itu melangkah masuk tanpa menimbulkan suara. Duduk di samping seorang anak berambut keriting aneh, Charlotte baru sadar kalau mereka tengah membuat sebuah lingkaran.
"Leluhur, carikan kami pacar!"E-eh?!
"Ini... acara macam apa sih?" bisiknya penasaran; masih menahan mual.
Talking to Neir.