Minggu, 20 Desember 2009 05.23
Ruang Rekreasi Slytherin / II
Fordemnshire. Boyd.
Si itu. Yayaya, bagaimana Charlotte bisa lupa?
Padahal harum tembakau yang tercium lewat koloid padat-gas waktu itu masih bisa ia ingat dengan jelas, bercampur dengan segarnya rumput juga embun di rongga-rongga pernafasannya. Setahun sudah lewat, hei, tapi gesekan lembut punggungnya dengan batang pohon di masa lalu masih bisa ia rasakan dengan pasti, goresan di pipinya, suara seseorang bernama Sverre (yang ternyata salah satu seniornya di Slytherin—Salisverre Gilchrist), lalu siluet Boyd Fordemnshire yang membelakangi matahari tak pernah lekang dari ingatan. Meski ia tak punya ingatan fotografis yang dapat merekam dengan jelas semua kejadian, Demi Tuhan, bukan berarti ia benar-benar seorang uzur yang lupa bahwa barusan ia duduk ketika berdiri kan?
Kedua sudut bibir sang gadis tersenyum kecil yang kecut, memasukkan kartu pos dari Fordemnshire turut ke dalam kotak peralatannya bersama jarum dan benang, batinnya berjanji untuk membalas sekadarnya lain kali. Dengan sebatang Davidoff, mungkin? Beberapa. Charlotte masih tak percaya orang aneh itu menyimpan pemberiannya setahun lalu sampai detik ini. Tapi kini ada hal lain yang harus dia urusi, secarik kertas berisi petunjuk bagaimana-bermain-Monopoly disodorkan Bradley secara tak langsung di hadapan. Kedua lengkung alis Charlotte yang sempurna lagi-lagi menyatu bingung, menurunkan kedua kaki menjejak lantai untuk kemudian menumpangkannya, jemarinya yang memegang kertas memilin sang objek kecil.
Heh, jangan salahkan kalau Charlotte kelamaan bingung, masa kecilnya memang tak terlalu menyenangkan. Hm... (titik dua, tanda hubung, tanda tanya)
Tapi sepertinya permainan yang namanya Monopoly ini mudah saja. Hanya memainkan masing-masing satu pion dengan dadu, sedikit uang yang harus kau jaga, beberapa aset yang harus dibeli dengan bijaksana; jangan sampai kau bangkrut. Rumah-rumah, hotel-hotel—sedikit mirip dengan bisnis Ayahnya di bidang real estate. Hanya saja di sini mereka memperjualkan... jalan? Dua perusahaan dan beberapa stasiun. Hoooo... tidak sulit-sulit amat, toh Charlotte tak begitu dungu. Dan soal lamanya permainan, ia tinggal pergi jika bosan. Bilang ada essay atau pelajaran, Bradley pasti mengerti (atau lebih tepatnya tak tahu)
Jadi ia mengangguk mafhum sambil melipat kembali si kertas petunjuk. Mengerling singkat dengan kernyitan ketika Bradley saling teriak bagai di gurun dengan seseorang yang disinyalir temannya, menarik-narik bajunya, mengajak mereka semua bermain bersama dengan girangnya; Charlotte rasa tak ada salahnya menemani Bradley bermain meski sebentar. Yang dilakukannya untuk menyapa si teman-Bradley-Crook hanya tersenyum tipis-formal seperti biasa—tak terlalu minat maupun peduli. Toh, Charlotte
belum kenal, dan selama si gadis tak mempengaruhi hidupnya sedemikian rupa, bukan urusannya bahkan untuk sekedar mengetahui nama gadis itu.
(smirk)
Mengikuti Bradley, Charlotte merosot turun dari sofanya ke arah lantai. Menjadikan selimut tipis yang tadi menutupi tubuhnya sebagai alas, ia duduk di samping si bocah. Ada sesuatu yang membuatnya kaget setelah ia meraih kotak Monopoly dan membukanya, secara random mengambil sebuah kartu sebelum membaliknya.
Meski tidak jelas ulang tahunmu kapan. LOL. Meski tidak jelas ulang tahunmu kapan... Eh? Memangnya Bradley ulang tahun?
(lirik curiga)
"Wah wah, kukira kau kelewat senang begini karena apa. Hadiah ulang tahun, hm?" tawanya tertahan, masih membalik kartu ucapan dari seseorang berinisial RB—entah siapa. "Well,
a happy birthday for you, then. Bagaimana kalau kau menerima ini dan kita mulai permainannya?" lanjutnya lagi, menarik selembar syal yang baru selesai ia rajut dari atas kursi sebelum mengalungkannya ke leher si bocah. Hadiah.
Lalu manik cokelat terangnya melirik satu kotak lain yang tergeletak tak jauh, "Ngomong-ngomong, boleh minta?" Benson & Hedges.