Minggu, 29 November 2009 03.54
Event Halloween Ball / I
Dulu.
Dulu sekali ketika rasanya kesepian hanya milik orang-orang di luar sana, bukan miliknya, ia sering berbincang-bincang dengan sang Ayah tentang banyak hal yang mereka pikirkan dan mereka lalui. Bertukar pikiran akan semua yang mereka ingin katakan. Mereka berbincang di mana saja dan kapan saja, ketika sedikit waktu mempertemukan mereka berdua di hari-hari yang sulit dan sibuk. Mereka berbincang tentang kabar, keluhan, sekolah, teman, pie, awan, permen, sepatu, buku, tidur, sampai apa ibunya memasukkan bawang atau tidak di sup mereka. Ia biasanya selalu menikmati setiap lontaran-lontaran kalimat yang terjadi di antara mereka, tersenyum di setiap perpisahan dan menyimpan semuanya lekat-lekat dalam benak. Ada satu yang menjadi kesukaannya, ia ingat dengan baik dan ia simpan dengan lekat. Yang membuatnya mencibir ketika ia menatap pantulan sosoknya sendiri di dalam cermin. Yang menggelitiknya...
Yang seharusnya,
"Charlotte! Apa cita-citamu di hari nanti, sayang?"
"Aku ingin jadi seperti Papa, tentu saja."Bukan,
"Charlotte! Apa cita-citamu di hari nanti, sayang?"
"Aku ingin jadi pembawa acara, tentu saja."Tapi kenyataannya, kini ia
harus jadi pembawa acara
lagi. Sepertinya Profesor-Profesor yang kegirangan itu terlanjur mempercayainya, dan kini malah menyerahkan pengawasan acara tahun ini pada gadis kecil tigabelas tahun itu. Sementara mereka melakukan entah apa di balik dinding-dinding kastil, ia harus kedinginan di Dedalu Perkasa sambil berbicara panjang lebar di hadapan semua orang.
***[Pembawa Acara]Namanya Charlotte Demelza Ryan, dan ia bukan tuan putri seperti di cerita-cerita dongeng.
Ia bukan Cinderella. Gaun yang ia pakai tidak mengembang dan tidak ada mahkota penuh permata bertengger dengan cantik di atas kepala. Hanya sehelai gaun putih sederhana sedikit di atas lutut dan tanpa hiasan rambut. Sepatunya pun bukan sepatu kaca, dan ia tidak naik kereta kuda yang disihir dari labu. Ia tidak sedang di istana luas dengan dinding-dinding dan pilar berukir, pun tidak memiliki seorang pangeran yang mengamit lengan dan menuntun berjalan. Ia hanya seorang pembawa acara yang dipaksa tampil meski tak ingin, dengan sepatu kain, sedang menyalakan lilin-lilin di balik labu di Dedalu Perkasa yang anginnya membuat bulu kuduk berjengit.
Halaman yang ia pijak dengan kedua kakinya ini dulunya hanya hamparan rumput luas dengan struktur tanah yang melandai di beberapa tempat. Banyak batu, dan sedikit angker ketika malam dengan siluet Dedalu Perkasa mencambuk-cambuk udara tanpa henti. Sedikit sentuhan telah mengubah tempat ini menjadi lebih hangat untuk pesta dansa Halloween : ada pembatas berbentuk tapi tipis yang membentuk sebuah lingkaran besar, tempat berlangsungnya acara, dan sebagai pintu masuk, dua pilar dengan replika labu dari kaca menyambut setiap orang yang hendak masuk.
Tak jauh dari situ, sebuah piala dari kaca bertengger manis di atas meja batu, gagangnya yang berukiran naga memendarkan cahaya biru elektrik lembut yang membuat piala itu tampak 'lain'. Piala itu, kalau Charlotte tidak salah dengar, akan dipakai untuk menampung suara untuk entah apa, ia tak terlalu peduli. Fokusnya kini beralih pada gramofon tak jauh dari piala yang mulai memuntahkan lagu-lagu pengantar tidur yang mendominasi suasana, membuat Charlotte rasanya benar-benar ingin pulang dari tempat ini. Ia tak begitu suka berdansa, sebenarnya, tak begitu mahir dalam hal menggoyang-goyangkan tubuh meski dalam gerakan lembut yang luwes.
Lagipula, tak ada yang menarik perhatiannya di tempat ini selain bermeja-meja makanan dan permen manis yang membuatnya benar-benar lapar, takkan ada hal menarik yang mungkin terjadi di tempat ini sesuai perhitungannya. Hanya berdansa―setelah itu apa?
Gadis itu menggerutu dalam hati, merogoh sakunya untuk melirik sekali lagi nomor undian yang dia tarik duluan―yah, setidaknya, ia ingin bersenang-senang di tempat ini. Menengadahkan kepalanya ke untaian lampu yang terjalin menggantikan bintang, dapat ia lihat dari sudut matanya kalau orang-orang sudah mulai berdatangan. Ya?
"Selamat datang semuanya, selamat menikmati acara Anda. Silahkan tarik nomor undian Anda dari mulut replika labu di gerbang sebelah sana, laki-laki sebelah kiri dan kanan untuk perempuan. Cocokkan nomor Anda dengan seseorang di tempat ini dan selamat berdansa untuk semuanya," ia berbisik pelan namun dibesarkan secara sihir hingga terdengar ke seluruh penjuru halaman. Ia mengeratkan topeng yang dipakainya sebelum berjalan sedikit ke depan, "Kepada para Prefek dan Ketua Murid silahkan ke tengah," ujarnya sambil melirik tempatnya berdiri, siap mundur saat acara akan dimulai.
Baju Charlotte dan
topengnya
- Setting malam hari, Dedalu Perkasa.
- Para peserta mengambil nomor undian di pintu masuk, di mulut jack o'latern boongan di pintu masuk. Nomor undian tolong sesuaikan saja dengan nomor urut para lelaki ya. Jadi nanti nomor yang cocok jadi pasangan.
- Jangan ada yang dansa sebelum para Prefek

- Seluruh yang datang DIWAJIBKAN memakai topeng dalam bentuk apapun.
- DEDALU PERKASANYA DIFREEZE SAUDARA-SAUDARA
- Yang tidak mendaftar boleh ikut, tapi tidak boleh dansa