Minggu, 29 November 2009 03.56
Event Halloween Ball / II
[Pembawa Acara]Ada untaian lampu yang berkelip di atas sana menyaingi bintang, diikuti langkah kaki yang berayun dalam ritme. Ada uluran tangan yang tersambut, setelah sebelumnya ajakan parau yang malu-malu terdengar hampir di seluruh penjuru Dedalu Perkasa yang telah disulap menjadi perhelatan pesta. Ada pipi-pipi yang merona, kemudian denting gelas yang beradu ketika gramafon akhirnya mendendangkan alunan nada-nada waltz yang sedikit ceria. Charlotte melangkahkan kakinya mundur beberapa hitungan, ketika bola mata coklat cerahnya menatap beberapa sosok yang melangkah maju : para Prefek dengan pasangan mereka yang bertugas mengawali rangkaian acara. Mereka memulai langkah-langkah pertama mereka sebelum larut dalam sebuah rangkaian dansa yang anggun dan memabukkan, sementara ia terus mundur mendekati gramafon yang suaranya terus memekakkan telinga sementara layar di hadapan semakin mengecil.
...
Bilang ia iri, ketika binar coklat terangnya menatap lekat sosok-sosok bagai opera di hadapan dengan lekat, tak bisa ia pungkiri kalau benaknya mengulang adegan di hadapan dengan ia sebagai pemeran. Tambahkan spotlight—ha! Impiannya sejak dulu ketika Ibunya dengan getol menceritakan tentang dongeng-dongeng tentang putri raja. Tapi sekali lagi : ia bukan seorang putri—dan takkan ada pangeran yang akan mengulurkan tangannya sambil berjongkok sebagai ajakan untuk berdansa, dengan tatapan lembut memegang kekang seekor kuda putih yang gagah. Ini bukan istana, dan ingatkan ia untuk menjalankan tugasnya sebagai pembawa acara plus plus, memastikan gramafon di belakang sana memutar lagu yang tepat untuk sesi dansa selanjutnya.
Ia memutar tubuhnya hingga berbalik, menimang-nimang nomor undian di sela-sela jari dengan tatapan skeptis tiap manik coklat cerahnya menumbuk si perkamen dengan nomor. Nomor dua, diberi oleh Profesor Dumbledore beberapa saat sebelum acara dimulai.
Nak, katanya,
ini untuk masa mudamu yang menyenangkan. Semoga kau beruntung! Nyatanya, bahkan ia sendiri tak yakin kalau pasangan dansanya benar-benar ada dalam bentuk manusia. Mungkin ini hanya jebakan—bukankah dansa = melalaikan tugas?
“Care to dance?”Tapi kemudian seseorang mengamit lengannya sebelum ia mencapai gramafon, mengiringnya tanpa basa-basi ke lantai dansa. Dua lengkung alis sang gadis terangkat naik, kerutan-kerutan di alisnya menandakan kebingungan yang mendalam. Ia tak mengenal si orang yang mengajaknya berdansa—tapi jika mereka berdansa di pembukaan, berarti laki-laki ini Prefek? Tapi Prefek mana yang dandanannya aneh dengan model rambut jambang tak imbang macam Elvis Presley?
Lagu dari Gramafon berganti; dan ini berarti, sesi dansa selanjutnya akan dimulai, dan ia harus mencari pasangan sesuai dengan nomor undian yang tergenggam di tangannya. Kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis formal seperti biasa, dengan kedua alis masih terangkat manik coklat terangnya menyisir si Prefek-entah-siapa dari atas ke bawah seolah menaksir kuda belian. Bukan apa-apa, hanya sedikit takut...
"Terima kasih atas dansanya. Kau..."
...kadang ia berpikir, kadang Prefek-Prefek itu punya kebiasaan aneh saking stressnya mereka patroli.
"...tidak maniak kan?" (senyum simpul, alis masih naik.)
...
"Maaf,"
ia asal bicara. Maniak selalu membuatnya takut setengah mati.