Minggu, 29 November 2009 03.57
Event Halloween Ball / III
Kau... tidak maniak kan?
Pfftt...Gemerincing yang terdengar samar saja, dari bandul-bandul perak gelang yang melingkari pergelangan tangan mungil sang gadis ketika Charlotte melipat kedua lengannya di depan dada. Kepalanya miring sedikit membuat surai-surai coklat emasnya jatuh ke bahu dan matanya masih menyipit dengan tatapan curiga. Ada topeng emas yang mengisolasi matanya jadi tinggal segaris, yang sebenarnya sedikit mengganggu setiap kali ia menggerakkan wajah dam matanya tanda tak nyaman—strukturnya yang kelewat solid membentur garis hidung sang gadis yang tak cocok dan sepertinya menggurat berkas kemerahan di persinggungannya. Charlotte, sepanjang malam ini, telah berusaha mati-matian untuk menahan perih karena lecet dan dingin karena minimnya pakaian yang ia kenakan. Jangan tanya berapa sulit ia menahan kesal hanya untuk menjadi pembawa acara di event ini—kalau bukan karena Profesor Dumbledore, sampai matipun ia tak ingin.
Banyak yang Charlotte korbankan mengingat bisa saja kasur empuk dan selimut hangat yang sekarang membungkusnya—tapi toh kenyataan tak selalu sesuai harapan. Sesuatu yang harus ia telan bulat-bulat... ha!
Si Elvis Presley di depan dengan gayanya yang (sok-sok) meyakinkan bicara pada Charlotte tentang niat awalnya yang tak ingin terlihat maniak, namun pasrah karena Elvis Presley (kedua lengkung alis gadis itu terangkat sempurna di bagian ini, sedikit tak mengerti) sebelum dengan sopan memohon diri untuk pergi. Yang dibalas Charlotte dengan anggukan samar dan gesture tak peduli—gadis itu mengangkat bahu sebelum beranjak mundur. Ia bahkan tak mengenal siapa Prefek maniak dengan jambang tak imbang dan suara aneh yang tak pantas, jadi wajar saja kalau ia memutuskan untuk tak peduli.
Secarik kertas undian bernomor '2' sempat menjadi fokusnya sebelum ia dengan bola matanya yang coklat terang menangkap beberapa kejadian beruntun yang membuat mulutnya terbuka tak percaya.
Saling memukul, potong poin beruntun, kata-kata kasar—lalu setelah ini apa lagi? Keadaan sedikit tak terkendali dengan aksi (sok) heroik dari beberapa orang, pukul memukul itu, membuatnya sangat-sangat tak heran ketika kata-kata Profesor Dumbledore kembali berputar-putar dalam benak dan membuat kepalanya pening tanpa alasan. Ia, secara tak langsung telah dititahkan dan diberi kekuasaan penuh oleh sang Kepala Sekolah untuk menjaga keberlangsungan acara agar tetap lancar. Tapi sialnya tak dianugerahi wewenang apapun untuk menghukum para penjahat-penjahat kecil yang mengacau di acara
nya.
Ia kesal, gadis italia berambut coklat itu, dan kekesalannya terpancar jelas dari sorot manik coklat terangnya yang menajam dan tubuhnya yang membalik dengan kasar. Langkahnya lebar-lebar, duduk di kursi kecil belakang gramafon dengan tak sabar, Charlotte memutuskan mungkin ini sudah saatnya. Saat untuk apa—kau akan lihat sendiri sebentar lagi. Dengar, tepatnya. Salah satu dari sekian rangkaian acara yang seharusnya dimunculkan beberapa puluh menit ke depan, tapi siapa peduli? Mendelik sewot, tangan mungilnya yang masih memegang kertas undian menekan keras sebuah tombol di belakang gramofon yang kemudian mengeluarkan bunyi aneh yang keras dan sumbang:
TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEET!Suara terompet, sebagai tanda kalau berpasang-pasang insan di lantai dansa sana harus mengganti pasangan mereka apapun yang sedang mereka lakukan. Tarik siapapun, lalu kembali berdansa kecuali kau ingin didepak keluar dari arena. Sebuah kembang api yang meletus di angkasa membentuk rangkaian huruf sebagai instruksi bagi para pedansa. Duar! Duar! Suaranya yang berulang entah mengapa menghipnotis sang gadis yang kelelahan.
Di tengah kehirukpikukan perlahan kesadarannya kembali, siapapun yang telah memberinya nomor undian benar-benar penipu. Tak ada si romeo nomor dua, takdirnyalah untuk mengurusi acara sampai akhir. Lugas, satu tarikan membawa tongkat sihirnya tertarik keluar. Dan setelah satu helaan nafasm bara api biru mungil yang keluar dari ujungnya membakar sedikit demi sedikit nomor undian yang perlahan hangus.
"Brengsek," tukasnya tajam, melempar kertas yang terbakar itu ke sembarang arah. Kesal. Oh, ia bahkan tak peduli ketika si kertas mengenai pakaian seseorang dan perlahan membakarnya, sudah cukup ia dibuat marah malam ini.
Semua orang harap membaca post saya baik-baik, yang tidak ganti pasangan silahkan meninggalkan lantai dansa :-". Yang kena kupon-terbakar saya Mr. Anselm, btw
yang katanya mau cari masalah sama CDR *shot*