Minggu, 29 November 2009 03.58
Megophrys Montana / II
"Maaf mengganggu, aku salah tempat,"
Maaf mengganggu aku salah tem—
Maaf mengganggu aku sal—
Maaf mengganggu ak—
Maaf menggang—
Maaf—
tsche!—
maaf....
Demi Merlin—percayalah kalau ia sendiri kaget akan getar yang muncul dalam bisiknya barusan. Tiga belas, hampir empat belas umurnya dan seorang Charlotte Demelza Ryan tidak pernah takut bicara pada orang lain sebelumnya. Pengaruh kehidupan, mungkin, dengan setidaknya dua orang bersenjata (biasanya Gabriele dan Guiseppe) selalu menemaninya ke manapun ia pergi, kiranya tak ada yang perlu gadis itu takuti meski bahaya mengintai sesering angin berhembus. Istilahnya,
anjing menggonggong kafilah berlalu—siapa yang peduli meski seseorang membidik kepalamu dengan senjata ketika kau berjalan-jalan di taman kota? Orang-orang memanggilnya 'Little Bontade', dan selama ujung rambutnya tak keluar dari Santa Maria di Gesù, ia tak tersentuh.
Percayalah.
Tapi itu masa lalu, tiga tahun ke belakang paru-parunya masih bisa menghirup harumnya kebebasan. Kini di Hogwarts—tumpukan batu-batu tanpa perekat yang mereka sebut SEKOLAH—Charlotte tak lebih dari domba tak bergembala yang diintai sekumpulan singa lapar. Hidupnya tak tenang, dia sendirian, dan yang lebih parah seorang Prefek inkompeten menyalahgunakan kekuasaannya dengan menjadikan Charlotte budak yang bisa disuruh-suruh. All hail Tequilla Sirius, semoga dia mati cepat.
Amen. Meski salahnya juga telah—dengan gobloknya—setuju untuk mengikuti taruhan tahun lalu. Siapa yang tak ingat kalau di balik rambut pirangnya, otak lelaki itu penuh taktik licik? Ibaratnya, Charlotte si gadis kecil bertudung merah yang jatuh ke perangkap serigala dalam balutan daster milik nenek. Menyedihkan—
sigh.
“Masuk.”Clik.Lalu dapat ia dengar dengan jelas lewat gendang telinganya yang masih normal, suara bagai geraman khas anak lelaki sebelum pintu kayu yang dia tutup mengeluarkan derit perlahan. Hatinya mencelos, dan mendadak otot-otot di seluruh aliran tubuhnya mengejang singkat. Ia meringis di tempat, memejamkan mata menahan bisikan malaikat untuk kabur sebelum kemudian kembali membuka pintu dengan sama perlahannya.
Itu... suara Tequilla Sirius si Prefek semena-mena. Rasanya ironi menyadari bahwa jemarinya bahkan belum lepas dari gerendel pintu, dan entah mengapa kenyataan itu membuatnya kesal setengah mati. Langkahnya belum beranjak. Ah
andai tadi ia cepat-cepat kabur tanpa basa-basi... tak peduli Tequilla Sirius akan mengobrak-abrik kamarnya besok pagi.
...andai...
...Merlin, mengapa garis hidupnya serumit ini?
"Jangan bilang aku harus mengurusi semua makhluk bau itu
hanya karena sebatang rokok. Ini tidak adil, Sirius. Kau tidak bisa sembarangan padaku," protesnya, kedua tangan bersidekap. Manik coklat terangnya menatap sambil berjengit tumpukan kodok mati yang bercecer di banyak ember dan baskom, tangan Tequilla Sirius yang memegang bangkai kodok, seorang lain yang ternyata Prefek Gryffindor...
Sumpahnya dalam hati, untuk diri sendiri : ia
tak akan pernah mau mengeluarkan isi perut kodok. Apapun yang terjadi—camkan itu!