Minggu, 29 November 2009 03.58
Ruang Rekreasi Slytherin / I
Jangan remehkan seorang gadis,
cherie. Mereka bisa lebih mengerikan dari apa yang bisa dan pernah kau bayangkan—
even in your wildest dream. Di balik tubuh mereka yang lemah dan jerit mereka yang cempreng, ada sesuatu yang terkubur jauh di lubuk hati. Yang jadi liar jika diusik, apalagi jika si pengganggu tak tahu malu dan berkulit tebal layaknya badak. Yang tertanam di ladang hati setiap makhluk berkromosom double X, bersebelahan dengan gerumbulan perasaan mereka yang paling peka jika disentuh. Mereka memang lemah dan mudah pecah seperti kaca,
sayang. Tapi sekalinya retak, ujung-ujungnya yang tajam akan menggoresmu hingga berdarah. Tak perlu disiram, tak mempan meski tanpa pupuk, seorang gadis dengan dendam itu menyeramkan.
Serius, bahkan Charlotte sendiri kaget atas semua yang telah ia lakukan seharian ini. Tanpa jam pelajaran, angin musim dingin yang menusuk-nusuk penghuni bawah tanah membuat kebanyakan orang memilih untuk bergelung di balik selimut beledu mereka yang hangat atau mengeram di depan perapian. Tanpa essay atau tugas yang harus dikerjakan, gadis berambut coklat emas itu benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. Tidur? Hei, ia baru saja bangun. Makan? Tidak, terima kasih; Charlotte belum mau tubuhnya menggembung seperti beruang. Beruntung sisi feminismenya masih berfungsi sejauh ini—all hail—dibekali sedikit gulungan kain serta beberapa jarum juga benang, Charlotte Demelza Ryan sedang praktek menjahit...
...namun sayangnya, aplikasi prakteknya menjurus ke sesuatu yang kurang—err...bisa dibilang tidak baik : membuat boneka voodo. Sambil bertanya-tanya di mana ia bisa mendapat foto kepala Tequilla Sirius untuk ditempel di bagian wajah bonekanya, dan rambut pirang sang Prefek untuk direkat di tubuhnya, jemari mungil gadis itu bergerak cekatan menjelujur kain berisi busa. Charlotte telah menggunting kainnya mengikuti bentuk tubuh, dan memilih warna-warna lucu untuk benangnya hanya karena ia senang. Eh, tanyakan padanya kapan terakhir kali ia menjahit sesuatu. Rasanya menyenangkan bisa melakukan semua itu lagi. Apalagi ini hari kosong—hei, biarkan Charlotte bersenang-senang sebentar, 'kay? Terbebas dari segala beban tak adil yang harus dilaksanakannya, gadis itu manusia bebas khusus hari ini. Berdoa saja Tequilla Sirius tidak muncul tiba-tiba, jadi ia bisa leha-leha.
Lidah-lidah api yang menari lincah di perapian membuat wajah sang gadis Italia kepanasan dengan tak rata; sangat kontras dengan hangat tubuhnya yang hanya berbalut mantel tipis berbentuk jaring, jemari kakinya yang terselubung selembar selimut sedikit beku. Charlotte jadi seperti nenek-nenek,
no? Boneka voodonya selesai, dan kini gadis itu beralih ke sebuah rajutan syal tiga perempat jadi. Seingatnya ia sudah mulai merajut syal itu tiga tahun lalu, menyimpannya di kotak ketika keadaan mendadak buruk dan—ah! Tinggal satu sentuhan saja maka lembaran hijau tua bonus sedikit debu ini akan selesai.
Ia, tentu saja, berharap tak ada yang mengganggunya barang secuil. Jarang-jarang ada pekerjaan yang bisa dilakukannya dengan sukarela. Mungkin setelah ini ia akan mulai menyulam sesuatu?
"Oy Ryaaaaan! Aku ada mainan baru! Ayo main, ehe, di pojok situ, ehe," Hooo... tapi sepertinya niatan tadi perlu ditunda. Bradley Crook, Charlotte tak ingat kapan terakhir kali ia 'bermain' dengan sang bocah dan kini tiba-tiba saja dua buah kotak yang katanya
mainan disodorkan di depan wajah. Gadis itu tak menjawab, malah asyik menyelesaikan sulaman hingga benar-benar selesai sebelum kemudian mengangkat wajah. Manik cokelat terangnya menajam ketika beradu dengan safir jernih lelaki di depan, menarik beberapa otot wajah hingga kedua sudut bibir sang gadis tersenyum jumawa—hampir nyengir. Melepas pegangan pada jarum sulam, Charlotte melambai singkat pada Bradley Crook, menghempaskan punggungnya yang sedikit pegal ke sandaran empuk sofa Ruang Rekreasi.
"Oi, di sini saja mainnya, Bradly. Kita lihat mainan apa yang kau punya," ujarnya, memijit-mijit pelan sebelah pelipis ketika sekelebat bayangan menjatuhkan sebuah lembaran tepat di pangkuan—di atas syal hijau tuanya yang sudah selesai.
Wassup emo gurl :):):):) P.S. i still keep the Davidoff, thanks for that anyway
-Boyd |
Ada dahi yang berkerut hebat dan dua alis yang bersatu ketika manik sang gadis memindai isi, bertanya-tanya sejak kapan ia kenal seseorang bernama Boyd. Charlotte baru ingat saat jemarinya membalik penasaran si kartu pos yang baru sampai, melihat dari mana tepatnya ia dikirim. Oh.
Si itu.
Si itu siapa, Charlotte?
Postcard dari Boyd : 1, 2.