Minggu, 29 November 2009 03.50
Mereka Bilang Aku Jalang
Satu-satunya hal yang patut dipertanyakan dari hari ini hanyalah : fakta bahwa Gabriele secara mengejutkan mau mengabulkan permintaannya pergi ke Wina.
...
Dan menemani gadis kecil itu dengan segala permohonannya untuk jalan-jalan. Begitu mengejutkan.
Mereka sedang duduk di sofa empuk di balik panel kayu
Café Schwarzenberg yang tersembunyi ketika hari menunjukkan hampir petang—lilin-lilin dinyalakan di sini meski belum malam, membuat suasana menjadi begitu terang benderang namun hangat dibanding di luar, di mana suasana muram menyelimuti udara bagai kabut. Menikmati lantunan Chopin yang tercipta dari jemari lincah seorang pianis di sudut tak terlihat, ia menatap sedikit tak berselera
apfelstruder di hadapannya. Memutuskan untuk membuka
pastrynya yang penuh gula : satu belahan melintang di permukaan membuah potongan-potongan apel dan kismis memenuhi piringnya dalam serakan.
Ia sedang berpikir betapa janggalnya hari ini ketika pandangannya terlempar ke luar, ke arah Schwarzenberg Park di mana
Cardillac Brougham hitam milik Gabriele terparkir mantap di depan patung Karl von Schwarzenberg yang sedang naik kuda, sebelum mengalihkan satu potongan menggiurkan dari atas piring ke dalam mulut. Alunan Chopin yang sedang dimainkan masuk ke nada-nada tinggi yang lebih cepat ketika akhirnya
Gabriele di hadapan melipat
Zeitung yang sejak tadi dibacanya, meletakkannya di meja untuk kemudian menghirup kopinya yang hampir dingin. Charlotte kemudian meletakkan garpunya di atas meja, dan dengan Gabriele tak tertimbun di balik halaman-halaman koran, kini untuk pertama kalinya sejak memasuki cafe mereka bisa menatap satu sama lain.
Dan tak dapat ia pungkiri bahwa alis yang membingkai mata teduh sepupunya itu begitu indah. Di balik kehidupannya yang keras dan begitu kotor, Gabriele Bontade, tak terelakkan lagi seorang pemuda yang sangat tampan. Mengesampingkan kenyataan bahwa orang ini dan Mama-nya yang telah menjerumuskannya ke kehidupan Hogwarts yang menjemukan, ia tersentak ketika menyadari betapa ia baru saja mengagumi keindahan garis wajah si sepupu yang begitu tegas dan membuatnya tampak dewasa. Charlotte berdeham pelan kemudian, meraih kembali garpunya untuk kemudian menyentil-nyentil
pastrynya tanpa minat. Keheningan ini begitu membuatnya tak nyaman sedemikian rupa.
"Mengagumkan betapa kau masih bisa menemaniku di sini, Gabriele. Semuanya tak seburuk yang dipikirkan, hm?" ia memulai percakapan, dan dengan sedikit keberanian, pertanyaan itu akhirnya terlontar juga. Niatnya basa-basi, tapi ternyata untuk bicara saja sulitnya setengah mati. Terlalu banyak yang mendesak di benaknya dan terlalu sulit bahkan untuk memikirkan, basa-basi apa yang sebaiknya dilontarkan. Asal tembak—
dor!—dan semua habis perkara. Begitu kan, yang mereka lakukan dengan senjata-senjata itu?
Gabriele tertawa kecil, lagi-lagi mengangkat cangkir kopinya untuk disesap.
"Keadaan membaik, Charlotte. Beberapa telah dibereskan." (untuk ini entah mengapa ia mengerti apa maksud 'dibereskan')
"Tapi kalau kau kira kau bisa pulang ke rumah setelah ini, aku takkan mengizinkanmu. Untuk itulah aku setuju membawamu ke tempat sejauh ini. Jadi jangan merengek, 'kay?" ujarnya sambil lagi-lagi mengangkat cangkir, membuat Charlotte membuka suara hendak protes. Apa-apaan ini? Konspirasi untuk menyingkirkannya sejauh mungkin, hm?
"Tapi—" ia memulai protes.
"Kau tak kuizinkan menyanggahku, Charlotte." balas Gabriele dengan tajam.
"Tapi kau tak bisa melarang—" potongnya lagi.
"Tidak ada pilihan—" yang langsung disela Gabriele dengan cepat.
"Kalau aku bilang aku menderita di sekolah itu?" tawarnya, memikirkan ia harus menjadi budak Tequilla Sirius satu atau dua tahun ke depan menyentak dasar perutnya hingga mual. Tapi ia yakin Gabriele seorang yang kata-katanya merupakan final. Seperti sisilia lain, pendiriannya tak bisa digoyahkan. Hanya karena Charlotte sepupunya dan seorang gadis kecil, mungkin, ia diperlakukan sedikit lebih baik seperti ini. Dan tebak apa yang akan si sepupu katakan selanjutnya pada Charlotte?
"Charlotte, sayangku, penderitaan apa yang bisa diberikan sekolah selain hukuman pada anak-anaknya yang nakal? Dan aku tahu kau bukan tipe barbar yang hobi merusak properti sekolah—ya kan?"Nah, jika sudah dikatai seperti itu, kau pikir apa yang bisa ia pakai sebagai senjata untuk mengelak? Mereka memaksaku menjadi pembawa acara? Lalalalala—
brengsek.
Belom beres keburu subuh nanti dilanjut 8) Closed. Invited only.