Minggu, 29 November 2009 03.52
Pesta Awal Tahun Ajaran 1984 / II
Meja Slytherin"Tak ada bicara ketika makan, Charlotte. Seorang mafia tidak mati karena tersedak tulang ayam,"Satu hal yang harus kalian percayai untuk saat ini adalah bahwa dia, Charlotte Demelza Ryan, adalah anak baik-baik yang polos dan tidak tahu apa-apa. Dia hanya seorang gadis kecil yang menuruti kata-kata orang tua dan tanpa membantah menerapkannya mentah-mentah dalam kehidupan, dan kecuali untuk beberapa hal setelah kematian ayahnya, ia adalah anak yang sangat-sangat patuh. Ia mengatupkan mulut ketika makan kecuali untuk menyuap, berdoa dalam banyak hal pada Tuhan yang tak pernah dilihatnya, tidur sebelum pukul sepuluh lewat semenit dan mencuci tangan sebelum makan. Dan dengan penampilannya yang tampak suci, juga rambut coklat emasnya yang berkilau tertimpa cahaya matahari, tidakkah ia tampak seperti malaikat kecil?
(Smirk)
...
Menurutmu
tidak? Tapi orang-orang berkata
iya—dan mereka berkicau macam-macam seperti burung kuau ketika kali pertama mereka melihat gadis itu.
Don Bontade, kata mereka, lalu sejuta pujian penuh bual muntah dari lidah mereka yang bercabang dua bagai air bah yang keruh dan kotor. Tentang betapa Charlotte begitu mirip luar biasa dengan sang ibu kecuali mata jernihnya yang mirip ayah, dan tawaran-tawaran tak menyenangkan berkedok pemurnian keturunan yang tak seharusnya disodorkan di depan anak kecil; katanya, kau harus menikah dengan sisilia jika ingin terus bertahan—
orang asing tak memberikanmu apa-apa.
Cough.
Tanpa ia sadari Aula Besar sudah begitu ramai ketika ia menyuapkan potongan pie-nya yang terakhir, dengan orang-orang barbar berteriak di mana-mana seolah ini hutan belantara. Seorang pria yang katanya Ketua Murid muncul secara sensasional dari pintu yang terbuka lalu berpidato seolah dia penguasa jagat raya, yang ditanggapi sang ratu dengan tak kalah kerasnya menggunakan mantra pengeras suara. Prefek Gryffindor yang tak puas menjadikan meja asrama panggung Hogwarts Idol kedua, dan di Ravenclaw, seorang anak berambut hitam berteriak-teriak ke arah pengajar baru Pertahanan Ilmu Hitam. Lalu di Hufflepuff—dan yayayaya silahkan tuan, pintu masuk Troll sebelah sana, dan Centaurus pintu kedua, lalu Mermaid—
—
mereka pikir ini taman safari.Charlotte menghela nafas dalam dengan sepiala jus labu dalam genggaman ketika seseorang bertanya tentang liburannya. Ia memutuskan untuk menyesap cairan manis kekuningan itu barang sekali, sebelum menoleh dan menemukan Winsome sedang menatap ke arahnya, menunjuk satu arah dan tanpa sadar membuat Charlotte ikut menoleh. Ada satu laki-laki di arah yang ditunjuk Winsome di meja tetangga, dan kalau ia tidak salah, maka yang dimaksud adalah yang rambut gelap dengan poni sebelah sana.
Apa tadi katanya? Bagaimana menurutmu?
Bagaimana menurutmu? Bagaimana menurutmu—apanya?
Charlotte meletakkan pialanya tanpa denting di atas meja, menggulirkan manik coklat terangnya untuk menelisik meski ia sendiri bingung harus menilai dari segi apa. Si anak lelaki jelas bukan tipenya; dari hal fisik, pipi pemuda itu terlalu tirus dan Charlotte lebih suka lelaki berbibir mungil—dan dari segi perilaku? Kenal saja tidak, mana bisa dia nilai?
Kapan sih orang belajar bahwa ia, Charlotte Demelza Ryan, bukan seorang tukang taksir yang bisa dimintai pendapat tentang tetek bengek macam cinta? Ia bukan konsultan, dan suaranya jadi terlalu berharga untuk sekedar mengomentari seseorang yang tak ia kenal sama sekali.
"Lumayan,"
Jadi 'lumayan' mungkin kata yang pantas. Dan kini gadis itu mulai berusaha tak peduli dengan mengambil kembali piala jus labunya untuk disesap. Mengerling sebagai tanda maaf sekilas pada Winsome, manik coklat terang Charlotte kini bergulir ke samping—ke arah surai pucat pirang milik seseorang yang kiranya ia kenal. Gadis itu, ya, anak aneh yang ia temui barang sekilas di Leaky Cauldron.
Ternyata dia masuk Slytherin juga, hm? Dan tak ada yang dikenalnya selain Charlotte, katanya.
"Tentu saja, kursi ini bukan milikku, gadis kecil. Silahkan duduk," layar itu masih terkembang, dalam balutan senyum formal tanpa makna ia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya—menyilahkan si gadis pirang untuk duduk. Niatnya untuk meneruskan makan, melahap beberapa makanan ringan lain sebelum meluruskan otot-otot dengan tidur, mengingat perjalanan tadi begitu menguras perjalanannya hingga habis. Tapi memang dasar Charlotte, ia tak pernah pandai menghitung kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
“Tapi seeker baru kita jauh lebih manis, Mallandrt. Lihat?”Seperti Tequilla Sirius, misalnya. Siapa yang menyangka kalau ia akan berkata sekeras itu seperti tadi? Rasa-rasanya kemarin ia sudah lupa siapa itu Tequilla Sirius, melayang-layang di udara dalam kebahagiaan ia tak perlu jadi budak dan mengenal lagi si Prefek pirang, tapi kata-kata barusan menjatuhkannya terlalu keras ke permukaan tanah. Anggap seluruh tubuhnya kini mendadak sakit, dan spanduk
'Welcome to the reality' di sebelah sana terlihat begitu mencolok.
Ia jelas tahu siapa
seeker baru yang dimaksud Tequilla Sirius, butir
snitch yang kini tergolek manis di saku jubah menjelaskan segalanya. Membuatnya lantas mengangguk samar, meski dalam kejengkelan luar biasa, karena baru ia sadari bahwa tak ada yang dilakukannya selain menangkap snitch-snitch itu untuk sang kapten. Sayangnya, kaptennya kini bukan Freyr Lovecraft tapi Tequilla Sirius, dan selamat datang untuknya masa jahiliyah, kini harga dirinya tak lebih dari nol koma sekian sekian sekian.
Mengedarkan pandangannya untuk mengalihkan perkara, kini Charlotte tahu apa yang kurang yang membuatnya mencari-cari sejak tadi. Hey hey, di mana Bradley Crook ngomong-ngomong?
(Winsome, Shea, dan ngangguk2 sama Tequilla =)) *shot*)