Minggu, 29 November 2009 03.51
Pesta Awal Tahun Ajaran 1984 / I
Merry go round and round and round.And so does the life.
Hidup itu bagai roda yang berputar pada porosnya tanpa henti—pepatah basi yang dipercaya oleh hampir semua orang di dunia—bagai baling-baling, juga kincir, atau bola yang menggelinding. Mereka berputar, tak membiarkanmu berada di satu tempat lebih lama dalam lingkaran kehidupan yang telah digariskan. Ada waktu di mana sang hidup melambungkanmu jauh ke ujung langit, tapi di waktu lain mereka akan menjatuhkanmu ke pusat bumi hingga kau terhempas sedalam-dalamnya. Ada waktu ketika kau berada di tengah dalam perjalanan naik-atau turun—sesuatu yang wajar jika kau manusia dengan interaksi.
Merry go round and round and round.Mereka berputar, dan putaran itu mengubah banyak hal : termasuk perasaan. Miliknya kini terombang-ambing seperti perahu Nabi Nuh di gulungan air bah.
Charlotte Demelza Ryan, gadis kecil yang sampai tahun lalu di hatinya ada rasa benci. Pada sekolah, pada sihir, dan segala kehidupan mereka yang memuakkan juga mengusiknya sedemikian rupa—yang kini sudah berubah seiring dengan putaran roda. Menjadi cuek, mungkin? Atau biasa? Kecuali 'kecintaan', Hogwarts kini sudah menjadi rumah keduanya. Tempat bernaungnya selama pembuangan yang entah sampai kapan.
Lupakan Waterloo, Charlotte. Apalagi Palermo. Di hadapanmu kini ada pintu Aula Besar dan itulah yang harus kau hadapi sekarang : kehidupan, aktivitas, harapan, mimpi,
perbudakan—lupakan.
Meja SlytherinMeja itu tanpa perubahan sejak pertama bayangannya tertangkap oleh iris mata Charlotte yang coklat terang lebih dari dua tahun lalu : memanjang dari dekat pintu sampai ke dekat meja staff di ujung lain ruangan, kokoh berdiri dengan entah berapa kakinya sebagai sanggaan dan terbuat dari kayu berkualitas terbaik yang dipelitur. Berjajar membentuk barisan bersama tiga meja asrama lain dan tegak lurus pada meja staff, hanya penghuninya yang membedakan sang meja dengan meja-meja lain yang serupa. Meja itu mungkin sama kokohnya dengan meja lain yang ada di Aula Besar—sama bagusnya, sama lamanya—tapi tidak begitu sama di mata Charlotte begitu ia melihat kepala-kepala siapa saja yang duduk di baliknya. Mereka, yang tidak ada di meja Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw maupun meja staff. Teman-temannya—dan mungkin, dengan sangat berat ia akui ini hanya dalam hati—
keluarganya. Murid-murid asrama Slytherin.
Zeelweger, Sirius, Guillory, Mallandrt (?)—Charlotte tak terlalu yakin ia tahu dua terakhir, namun yang kedua membuatnya berjengit dan memalingkan pandangan—segelintir orang yang dapat ia identifikasi di pandangan pertama. Ia duduk di tempat kosong terdekat yang bisa ia dapat begitu tiba, melayangkan pandangannya sekilas hanya sebagai pertanda bahwa ia menyadari ada orang lain di sana, kemudian tanpa acuh menatap meja guru melihat siapa yang sedang berpidato. Tak peduli, selfish—begitu kan katanya Slytherin sekarang?—berharap sambutan guru Pertahanan ilmi Hitam baru bisa mengisi kebosanannya.
...
Tapi ternyata ia salah, hm?
Totally. Penampilan Profesor baru itu bahkan membuatnya berpikir bahwa matanya sudah tak normal lagi! Dan telinganya—astaga!—dia
benar-benar minta dipanggil 'om'?!
Charlotte bergidik ngeri tak kentara, mengalihkan pandangannya dengan bola mata hampir keluar menahan kaget sebelum ada kontaminasi negatif mengganggu pandangan dan pendengarannya. Ia membetulkan posisi duduknya hingga lurus, sedikit tak peduli siapa yang duduk di samping maupun depannya, dengan punggung tegak dan tangan di pangkuan. Helai-helai rambut coklat emas lurusnya jatuh ke bahu begitu ia menoleh—meyakinkan diri bahwa kini Profesor Dumbledore yang berbicara—dan menoleh lagi, kemudian mendapati berpiring-piring makanan juga berpiala-piala jus labu muncul begitu saja dari udara.
Bagus, pikirnya. Ia sudah sangat lapar tanpa sarapan dan bertahan dengan beberapa bungkus coklat di Hogwarts Express, jadi jangan salahkan dia kalau pie-pie hangat dengan bau manis itu begitu menggodanya. Dia lapar, tahu. Dan dengan harapan tak ada yang menyela makannya sampai selesai, ia menarik sepiring rasa coklat lebih dekat di atas meja. Satu garpu, pisau, juga serbet, dan kini gadis itu akan memulai ritual manusiawinya untuk dapat bertahan hidup.
Satu potongan pertama menguarkan asap manis yang hangat ke penciuman, lalu tusukan pertama, dan gigitan pertama lumer dalam lidah sebelum masuk ke tenggorokan.
Sambil makan ia sedikit berpikir, mungkin kini ia tahu : satu yang disukainya dari Hogwarts hanyalah, makanan-makanan mereka tidak protes dan menyebalkan ketika dikunyah dan masuk perut. Tidak seperti orang-orangnya yang disentil saja meledak-ledak—ternyata ia lebih cocok bergaul dengan makanan.