Minggu, 29 November 2009 03.49
Hng? / I
Ctik. Ctik.Apa?
Sshhhh...Api itu menyambar cepat ujung kertas dari linting yang sedang dikepit kedua jari, terus menjalar dalam bara merah kecil sampai ke tembakau paling dalam. Menciptakan asap keputihan yang melayang dari ujung terus ke atas, sebelum kemudian menghilang membaur bersama udara dan debu Leaky Cauldron. Sesekali ujung lain yang tak terbakar dari si lintingan mampir di antara bibir mungil seorang gadis, yang kemudian menghisapnya perlahan dan menghembuskan asapnya lagi dengan cepat. Tak pernah mempertahankan asapnya apalagi sampai menghirupnya ke dalam paru-paru, pertahanan kecil masa muda.
Gadis itu namanya Charlotte Demelza Ryan, yang umurnya baru tigabelas beberapa hari lalu dan matanya coklat terang. Sedang duduk di atas salah satu kursi reyot Leaky Cauldron yang catnya sudah mengelupas beberapa tahun lalu. Ia tak pernah suka keramaian di tempat kumuh sebenarnya, tidak dengan kehidupannya yang menjunjung tinggi keindahan dan kebersihan di atas segalanya. Tapi lagi-lagi mendekam sendirian di hotel menghabiskan liburan bukan nutrisi yang tepat bagi jiwa, mencari seseorang yang dikenalnya (asal bukan Tequilla Sirius) di tempat ini mungkin lebih baik.
Mungkin... ia bisa 'main' lagi dengan si bocah Bradly siapa tahu dia lewat; memakaikan baju-baju lucu juga
make up dan menyuruhnya menggoda lelaki. Atau 'berbincang ringan' dengan Dylan Klebold kalau dia datang ke tempat ini, bertanya mengapa dia terlalu pengecut untuk datang ke Hogsmeade kemarin lalu. Atau dengan Czechkinsky... atau mengembalikan saputangan Vittore—Dubonnet mungkin? Segelintir orang yang dikenalnya di Hogwarts dua tahun belakangan.
Banyak yang bisa dilakukan dengan berbagai macam orang, namun sepertinya, menunggu sambil menghisap rokok bukan hal buruk untuk menghabiskan waktu. Perlahan tulisan 'Davidoff' yang tercetak di atas kertas kecoklatan pembungkus rokok di tangannya hangus sedikit demi sedikit, menyisakan 'David' kemudian 'Davi' sebelum hilang sama sekali—menyisakan puntung yang lama kelamaan apinya akan padam. Ia mengedarkan pandangannya sekali lagi, mengusap-ngusap bibir gelas berisi Butterbeer yang masih penuh di hadapannya sebelum sebuah sentakan membuat punggungnya setegak papan.
Duk.
Seorang dungu menyenggol kursinya dengan keras sebelum meminta maaf selewat dan pergi tanpa rasa berdosa. Membuat abu keputihan memenuhi mantel bepergian hijau tuanya yang baru dicuci. Tsssk. Gadis itu menggerutu pelan, mengibaskan rambut coklat terangnya yang jatuh ke bahu sebelum menepuk-nepuk mantelnya dengan satu tangan.
Lalu apinya mati. Dan rokok di tangannya padam tak bersisa.