Minggu, 29 November 2009 03.48
Fireflies / II
Fireflies.
"Fireflies love moisture and often live in humid regions of Asia and the Americas. In drier areas, they are found around wet or damp areas that retain moisture."*Wow.Bahkan ia tak berusaha mengatupkan bibirnya yang sedikit ternganga saking pemandangan di hadapan begitu membuatnya takjub. Bola-bola cahaya mini melayang-layang di udara bagai lampion para peri, bergerak-gerak tanpa lintasan dilatari kepekatan hutan terlarang jauh di seberang danau. Memantul di permukaan air tanpa riak, membentuk refleksi cantik bersama sinar bulan. Begitu menakjubkan, mengingat ia sama sekali tak pernah melihat kunang-kunang sebanyak ini sebelumnya, pemandangan malam ini betul-betul mengagumkan. Meski ia sedikit ragu semua ini bukan tipuan sihir, Hogwarts mengajarinya untuk tak percaya begitu saja fenomena alam.
Kalau burung dan anggrek saja bisa keluar dari tongkat, mengapa kunang-kunang tidak? Atau semua ini ternyata hanya ilusi―hanya bola-bola api kecil yang melayang dan bukan kunang-kunang? Cahaya yang bisa ditangkap retinanya begitu minim, dan ia sama sekali tak bisa mengidentifikasi dengan pasti apa yang sebenarnya melayang-layang di hadapan. Menyipitkan mata sampai segaris pun tak jauh berguna, cahaya-cahaya itu terbang begitu jauh dari jangkauan.
Tapi toh tanpa sadar ia mengangkat tangannya juga, perlahan, berharap bisa meraih salah satu dari mereka. Sadar bahwa semua ini akan berakhir ketika fajar datang bersama matahari, bolehkah ia membawa pulang satu? Untuk menerangi hari-harinya yang bisa dibilang suram, atau sekedar menjadi lampu bagi jalannya yang sunyi―bisakah? Ia tak minta seorang teman atau seseorang yang akan membelanya apapun yang terjadi, seekor kunang-kunang mungkin cukup.
Mungkin.
Ia lagi-lagi menghenyakkan tubuh, dengan kepala naik sedikit menengadah menatap langit, angin malam yang menusuk-nusuk porinya bahkan tak teracuhkan. Satu angin lebih keras mendadak datang menerbangkan anak-anak rambutnya ke segala arah, membuat gadis itu memalingkan wajahnya sebentar untuk menghindar. Lalu sadar, ternyata ada seseorang lain jauh di belakang. Bayangannya lebih pekat daripada sekitar, di antara batang-batang pohon dengan dahan mereka yang bergerak―sosok itu terdiam dengan ujung tongkat bercahaya. Bagai dipahat dari kayu hitam yang dipelitur, sosok itu melebur bersama bayangan.
Dia...
...
Dubonnet?"Jangan berdiri di sana seperti maling. Kau bisa disangka mau berbuat jahat padaku,
Dubonnie," smirk.
*credit to National Geographic.