Minggu, 29 November 2009 03.52
Pesta Awal Tahun Ajaran 1984 / III
Meja SlytherinTolong, jangan pernah tanyakan ia perihal alasan mengapa ia mencari-cari Bradley Crook sejak tadi, karena ia sendiri tak tahu jawabannya apa. Ada hal-hal yang muncul tanpa ia sendiri tahu apa penyebabnya, dan untuk kasus ini, sialnya, ia bahkan tak bisa mengira-ngira apa yang sebenarnya menjadi alasan manik coklat terang itu masih menyisir wajah-wajah yang berdatangan di Meja Slytherin sampai ke pintu Aula Besar. Ia tidak rindu Bradley, tolong ditebalkan dan digaris bawahi,
ia tidak rindu bocah barbie itu. Dan anggap semua ini kebetulan, mari kita tanya sekali lagi : ngomong-ngomong, di mana Bradly?
Sementara rombongan anak yang diseleksi menyusut sedikit demi sedikit, meja masing-masing asrama berangsur-angsur penuh. Ia dapat melihat para Prefek dan senior berduyun-duyun menempati kursi demi kursi yang kosong dan meja asrama lain semakin rusuh seperti Pompeii setelah diguncang gempa bumi. Junior-junior, dengan kepolosan mereka yang luar biasa, saling berkenalan dan bertukar nama satu sama lain seolah tak ada hari esok. Mereka ribut dengan mulut penuh makanan. Dan di sini, di Meja Slytherin, konspirasi untuk menyuruh Prefek baru mereka pidato awal tahun muntah dari mulut banyak orang—paling gencar dari Prefek-Prefek lama dengan Tequilla Sirius dan Solathel sebagai contoh.
Sangat menarik memperhatikan Guillory yang tampak enggan sementara semua orang menyeretnya ke depan mimbar. Kaki pialanya berdenting pelan ketika beradu dengan meja, isinya sudah habis lebih dari setengah. Ia yang kini bosan memutuskan untuk memetiki butir demi butir anggur di depannya sebelum mencernanya dalam mulut, tubuhnya condong sedikit ke arah meja.
"Hai, Seeker,"Sampai seseorang memanggil
nya, pandangannya lurus ke depan tanpa fokus, melihat entah apa atau siapa di meja sebrang. Ia akhirnya menoleh karena suara yang kemudian mampir di telinga, memutar kepalanya empat puluh lima derajat sebelum manik coklat terangnya menangkap seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Maverick, kalau tidak salah—seseorang dari Slytherin. Kedua lengkung alisnya sontak terangkat, manik itu menyipit kecil memperhatikan Maverick dari atas ke bawah seperti tukang taksir hendak membeli kuda. Lalu dagunya naik sedikit—gesture bertanya.
Baru kali ini ada yang memanggilnya
seeker, dan itu keluar dari mulut orang yang tak dikenalnya sama sekali. Apa? Mungkin suatu saat nanti orang-orang akan mulai memanggilnya 'Si Seeker', hm? Ia mengernyit, sedikit tak setuju dengan senyum yang terulas di bibir laki-laki di depannya tanpa alasan.
"Apa keperluanmu denganku?" tanyanya sambil menegakkan tubuh, tanpa memutarnya, sontak kepalanya harus miring sedikit agar tetap bisa melihat si lawan bicara.
To the point—Charlotte tak terlalu suka berbasa-basi. Tapi lalu ia menoleh lagi, ketika seseorang menyenggolnya, menyerempet sedikit duduknya dan membuat bola matanya membesar sekilas karena kaget. Ia, awalnya ingin memprotes. Tapi tebak siapa yang datang—
"...hai,"—nah si Bradley ini, yang sejak tadi dicarinya tanpa alasan. Akhirnya bocah itu datang juga, meski rasa-rasanya ada yang aneh, setidaknya kedua mata dan hidung bodah itu masih lengkap. Charlotte lagi-lagi mengangkat kedua alisnya sebagai sapaan, 'hai' pelan terlontar dari bibirnya sekedar balasan. Ia kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan, dan dengan kedua tangan terlipat bosan di atas meja, surai coklat emas gadis itu bergoyang sedikit ketika kepala sang pemilik menoleh ke samping. Ke arah Bradley Crook, tentu saja.
"Eh Ryan, kau sudah bisa sihir air? Apa tuh... Augmentum?""Tidak," ia mengerutkan dahi, "Tapi kalau mengeluarkan api aku bisa—kau mau aku membakar rambutmu, hm? Sepertinya sudah panjang sekali," ujarnya asal. Lagi-lagi menoleh ke arah lain ketika seorang Prefek Gryffindor berbicara dengan sangat keras tentang 'para-prefek-lelaki-yang-harus-memapah-Profesor-Angin'. Dan Tequilla Sirius yang harus memberi nafas buatan—hell, ini benar-benar sangat menarik.
Kalau benar kata orang-orang bahwa Profesor di depan itu berjenis kelamin laki-laki (berhubung benar-benar dari jarak ini benar-benar tidak bisa diidentifikasi)—Tequilla Sirius yang memberinya nafas buatan pasti akan jadi sensasi. Kedua sudut bibir Charlotte tertarik sedikit membentuk senyum—tapi jangan harap itu yang manis.
"Kau akan punya pacar baru eh, Sirius?" di nada bicaranya terselip ejekan.