Minggu, 29 November 2009 03.48
Karnı Aç / IV
Dari Bademli Tavuk si sup ayam dengan almond sampai İç pilav yang terdiri dari nasi dengan potongan hati, kacang-kacangan dan kayu manis. Dari Kuzu Güveç, kaserol daging kambing sampai Etli Taze Fasulye, kacang polong yang direbus bersamaan dengan daging. Dari Güllaç sampai ke Kavaklıdere, lalu Ayran, bahkan Boza—susuri daftar menu dengan teliti maka kalian akan menemukannya tersempil di antara sekian banyak menu lain yang disediakan tempat ini. Makanan-makanan terbaik dari seantero Turki, dimasak dari bahan-bahan paling berkualitas yang bisa ditemukan dan diolah oleh koki-koki yang kerjaannya selain memanaskan wajan, mereka juga menulis buku resep.
Bisnis ini mungkin hanya main-main. Dari sekumpulan bocah yang dipaksa memakai baju menyalahi kodrat, tak seharusnya ada menu sebanyak itu. Tapi kualitas biasanya menunjukkan seberapa baik selera seseorang, dan maaf saja, Charlotte tak serendah itu untuk menyajikan makanan-makanan pinggir jalan yang dimasak seadanya. Abaikan dekorasi ruangan ini yang memang dia ambil dari sampel yang salah, maka sebut seleranya tinggi dan tak main-main—orang-orang trasgender itu seharusnya tahu bagaimana menghadapi Charlotte setelah ini.
Untuk tidak bermain-main.
Ia menimang-nimang kumis palsunya yang menjalarkan sensasi geli di sela-sela jari, memutuskan keluar dari ruangan sempit yang lembap dan pengap itu setelah sempat tak tahan dengan ocehan Dawne tentang banyak hal (seperti ck-cengiranmu-sungguh-tidak-wanita dan aku-lebih-jago-dalam-berdandan). Menutup pintu reyot di belakang hingga berdebam, sedikit waktu pribadi rasanya perlu diberikan pada tiga orang yang masih di dalam untuk membulatkan tekad dan membangun keberanian. Ia tahu tak mudah untuk berpenampilan seperti itu di depan umum dan dengan resiko ketahuan cukup besar, rasanya mereka harus mempersiapkan mental jika ternyata ada salah satu dari pengunjung yang mengenali. Dan membayangkan Czechkinsky, Dawne, dan Thanatos saling memberi semangat dalam kostum mereka masing-masing entah mengapa membuatnya geli.
Semacam—
'Aku tahu kau bisa Dawne, kau sangat cantik dengan polesan lipstik oranye cerah itu. Aku jadi ingin menciummu,' atau
'Mereka pasti akan menyukaimu, Czechkinsky. Kau bahkan lebih cantik dari Ryan!'—tidakkah itu membuat mereka terlihat menggemaskan? (lols)
Pengunjung tidak bertambah ketika Charlotte selesai mentransformasi tiga adam menjadi hawa, tapi suasana bertambah ramai dengan datangnya tiga anonim yang, dari sikap malu-malu dan pakaiannya, dapat ia tebak bahwa mereka 'pelayan-pelayan' lain yang baru datang. Ada satu pirang yang terlampau cantik memesan minuman dekat tempat para koki sementara dua lain dengan
coat kembar beringsut mendekat sambil menyeret langkah. Tatapannya skeptis sejenak, mengeja dalam otak siapa-siapa saja yang belum datang, sebelum kemudian binar senada muncul seiring seringai kecil merangkai wajah. Mendengus kecil, sebuah deguk tertahan menandakan ada tawa yang ditahan ketika ia menyadari siapa si pirang cantik berwajah masam di sebelah sana.
Vittore dan Yuuren tak terlalu membuatnya tertarik, meski akhirnya ia mendekat, memasang senyum bersahabat yang dibuat-buat. "Tentu. Tentu saja aku sudah menyiapkannya untuk kalian. Terus ke dalam lalu belok kiri, pintu pertama yang kalian temukan, dengan tiga gadis cantik di dalamnya," ujarnya lembut dan persuasif, seperti sales yang menawarkan barang dagangannya yang imitasi. "Kalian tak perlu berdandan banyak kan? Kalau begitu aku mengurusi seseorang dulu.
Bye Vittore,
bye Yuuren..."
Satu lambaian kecil pada
teman baik. Satu helaan nafas, kemudian langkah-langkah cepat menuju si pirang. Sekian langkah yang cukup untuk membuat Charlotte menyetel wajah—lihat perubahan menjadi polos di rautnya?
“Ini aku.”
Pffttt...
"Aku?" dua alisnya yang terukir sempura naik, dengan jari menimang-nimang kumis palsu, pandangannya menyorot 'si cantik' dari atas ke bawah untuk mengingat-ingat. Pura-pura, tentu saja. "
Aku siapa ya, nona?
Sorry?" Oke, sumpal mulutnya dengan kain kalau berani. Tapi bermain-main dengan Tequilla Sirius yang cantik sepertinya sama sekali bukan dosa. Ingat taruhan kalian, Charlotte. Dan sebelum ia dijadikan budak Nubia oleh Tequilla Sirius, sedikit dipermalukan takkan setimpal bagi Prefek sialan itu.
Tatapannya masih jenaka, menatap Tequilla Sirius sambil mendudukkan diri di kursi terdekat. Menopang kepala berturbannya dengan tangan, ia memulai perannya sebagai lelaki macho—om-om mesum, mungkin; contoh yang paling banyak ia lihat semasa hidup. "Tapi kau cantik juga... mau menemani aku minum, hm?" ia menempelkan kumisnya asal di atas bibir dengan satu tangan lain yang masih bebas, memelintirnya, memasang wajah sok-sok mesum yang gagal. Tepat ketika dua sejoli lain datang, yang ia identifikasi sebagai Cromwell dan Diaconu dari asrama singa dan elang. Membuatnya meloncat turun dari kursi sebelum membungkuk kecil, menunjuk deretan kursi dengan kerlingan mata.
"Pelayan terbaik kami akan segera mengantarkan menunya pada Anda, Tuan. Silahkan pilih tempat yang paling nyaman." ujarnya sambil tersenyum, kumis coklat emasnya bergerak-gerak seperti anjing laut.
"Nah Sirius
ku yang cantik," katanya setelah berbalik, memberi tambahan yang ditekan sekedar penegas kekuasaan—o, ia yang berkuasa menitah di sini sekarang, semua ini dibiayai dari kocek pribadinya, "Layani mereka, 'kay? Atau bagaimanapun caranya fotomu dengan baju ini akan ada di halaman utama Tattler,"
manis, terdengar tak seperti sedang mengancam.
Dia mengerling Cromwell-Diaconu sebagai isyarat untuk menyuruh mereka bersabar. "Ngomong-ngomong, kumisku lurus kan hm?" tanyanya sambil berbisik, menggerak-gerakkan bibirnya sementara tangannya bergerak mengambil buku notes juga pulpen. Ia kemudian menyerahkannya pada Tequilla Sirius.
Nikmati Charlotte, sebelum kau jadi budak Nubia.