Minggu, 29 November 2009 03.47
Fireflies / I
Fireflies.
”They are winged beetles, and commonly called fireflies or lightning bugs for their conspicuous crepuscular use of bioluminescence to attract mates or prey. Fireflies are capable of producing a "cold light", containing no ultraviolet or infrared rays,”*Pemandangan itu sekilas bagai lukisan cat minyak di atas kanvas yang ditilik dari kacamata orang semi-buta warna ketika ruas-ruas batang pohon menggelap dalam bayangan. Lengkung setengah matahari yang perlahan terbenam merangkak dalam kecepatan siput, membuat bayang-bayang bergerak memanjang sesenti demi sesenti sampai akhirnya tenggelam melebur dalam warna monokromatik. Angin-angin berhembus lebih cepat dan menampar-nampar, ketika langit berubah gelap dan suasana sesaat senyap, selengkung lain lebih sempurna berangsur-angsur muncul dari balik awan. Memancarkan cahaya berkilau keputihan yang memantul di atas batu-batu, atap-atap kastil dan permukaan danau hitam.
Petang beranjak malam dan warna udara berubah dari oranye ke biru gelap dalam hitungan jam, begitu cepat secepat menyusutnya populasi siswa yang berkeliaran di koridor-koridor Hogwarts. Obor-obor berbahan bakar lemak menyala dengan sendirinya dan serta-merta koridor-koridor dipenuhi hawa hangat yang memabukkan. Ia berjalan dengan cepat menaiki undakan demi undakan untuk mencapai gerbang kastil, melewati kantor Filch yang pintunya tertutup dan Aula Besar tanpa penghuni, sebelum patroli para prefek dimulai dan siapapun yang tak berada di balik selimut mereka dihukum menggosok kamar mandi, ia menyusupkan tubuh mungilnya di antara celah pintu. Menyelinap hanya dengan gaun tidur berbalut mantel dan sandal rumah. Langkah terakhirnya di lantai marmer kastil menunjukkan, betapa dari balik jendela Hogwarts yang berembun halaman sekolah itu tampak begitu tak menyenangkan.
Seperti penjara tanpa dinding yang menahanmu secara mental.
Seluruh bagian kastil ini, luar dan dalam, bagaimanapun terlindung perisai kasat mata bernama ‘sihir’ yang takkan bisa ia tembus apalagi ia hanya gadis kecil dua belas tahun yang efek lambaian tongkatnya hanya cukup memingsankan anak ayam. Ia tak pernah mencoba kabur, karena bagaimanapun keras usahanya ia tahu takkan pernah berhasil. Tapi merenggangkan sedikit saja himpitan-himpitan yang menggilas tubuhnya sampai rata perlu sering-sering dilakukan sebagai anti-depresi. Alih-alih mencoba berdebat tentang bagaimana senapan bekerja dengan para lukisan yang bahkan tak tahu senapan itu benda jenis apa, bukankah meraup waktu untuk sendiri jauh lebih baik?
Bibirnya menyenandungkan lulabi asal sebagai gumaman seiring kaki mungilnya berjalan lambat-lambat menyeberangi halaman, rasanya tak terlalu buruk terdendang dari sepasang bibir merah jambu yang sesekali mengulas senyum masam itu. Manis. Ia tahu suaranya masih cempreng khas anak kecil, tapi justru itulah yang membuat nyanyiannya terkesan polos. Nada-nadanya yang tanpa syair tak mengisyaratkan apa-apa, bukan ratapan apalagi sarkasme. Rumput-rumput panjang khas musim semi bergemerisik ketika kakinya terseret, bersama deguk air, dan nyanyian belalang juga kodok membentuk harmoni sumbang malam hari namun alami. Ia, entah mengapa, begitu menikmati kesendiriannya malam ini.
Meski aneh, karena rasanya ia melayang tanpa tubuh, setidaknya ia tak merasa sakit maupun beban.
Sebongkah batu berselimut debu tipis bahkan tak ia bersihkan sebelum duduk. Menyandarkan tubuhnya di permukaan batang pohon, lalu kepala, pandangannya menyipit ketika sadar, kemudian membesar, karena ternyata permukaan danau hitam tak sepekat dan sepolos biasanya. Bagai hamparan langit kelewat cerah yang ditarik secara vertikal, kerlingan itu bagai bintang yang bergerak.
Kunang-kunang.
*credit to wikipedia. Limited for 2 other peoples, no one repp before MHD^^