Sabtu, 26 September 2009 09.02
Two Parasites. Galleon REALLY Needed.
Ini memuakkan, semua yang baru saja terjadi akhir-akhir ini benar-benar mencoba membunuhnya secara perlahan dengan terjadinya mereka secara beruntun dan berangsur-angsur. Bagai batu, sekeras apapun permukaan mereka membentuk pertahanan, ketika dihantam berkali-kali dengan benda yang sama keras lama-lama kesatuannya akan hancur. Seperti Charlotte, yang hidupnya akhir-akhir ini begitu memusingkan sampai membuatnya sulit bernafas dan kepalanya berubah pening. Ia, hanya seorang anak dua belas tahun yang selalu mendapat apa yang ia inginkan. Dan ini ironi, ketika semua ini terjadi begitu cepat dan bertubi-tubi.
Merlin, ini Diagon Alley—
lagi.
Tempat yang sudah, dengan sungguh-sungguh, ia sumpah tak akan didatanginya lagi. Haram sebenarnya, mengingat seorang Charlotte tak pernah dan tak akan sekalipun menjilat ludahnya sendiri—tapi apa yang bisa ia lakukan? Ibunya memohon sedemikian rupa hingga membuatnya menyerah, dan Charlotte sama sekali tidak ingin menghianati kepercayaan ibunya yang sangat ia hargai. Meski kenyataan bahwa kembali ke tempat ini, Leaky Cauldron, Hogwarts, dan semua yang berbau sihir benar-benar membuatnya terluka untuk ke sekian lagi. Karena lagi-lagi, ia sendiri. Di tengah keramaian yang begitu menyesakkan.
Charlotte ingin Guiseppe.
Menghela nafas dalam, kedua kaki mungil Charlotte perlahan melangkah keluar dari gerbang yang menghubungkan Diagon Alley dan Leaky Cauldron. Berdesak-desakan dengan banyak orang dari dua arus jalan membuatnya merutuk beberapa kali sebelum memutuskan untuk menepi dari kerumunan untuk merapihkan mantel bepergian merah marunnya yang sedikit kusut. Gadis itu tak punya tujuan, sebenarnya. Membeli perlengkapan untuk tahun keduanya pun tak lebih dari hal yang sia-sia karena kedua lengannya tak akan sanggup untuk membawa tumpukan buku berat sendirian selain karena alasan ia malas.
Jadi mungkin sedikit berjalan-jalan tak akan merugikan; alih-alih mendekam di Jury's Inn yang membunuhnya perlahan hingga membusuk, di sini kulitnya bisa tersinari cahaya matahari dan paru-parunya bisa menghirup udara segar.
...
Niatnya polos dan sederhana—tak pernah ia sangka sebelumnya bahwa akan ada hal menarik yang terjadi kemudian, hm? Terlebih bila atraksi yang ditampilkan berpemeran utama Tequilla Sirius; mengamen di panggung sederhana pinggir jalan Diagon Alley dengan biola dan dua teman satu sekolah. Apa artinya ini? Tequilla Sirius jatuh miskin, heh? Atau dia Sirius jadi-jadian? Apapun itu, panggung ini lebih menarik untuk disaksikan daripada serangkaian opera karya Shakespeare.
Entah mengapa Tequilla Sirius memiliki daya tarik tersendiri yang terlalu menggoda untuk dilewatkan.
Charlotte berjalan mendekat, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis penuh arti. Dan kedua kelereng coklat gadis itu mendadak berbinar secara janggal. Penonton berangsur-angsur berdatangan, dan rangkaian pemain musik di hadapan langsung saja memainkan satu lagu dengan manis. Sekumpulan melodi yang tak dikenalnya—Charlotte tidak terlalu peduli lagu apa yang sedang ia nikmati. Fokusnya sekarang tertuju pada sesosok laki-laki pirang dengan biola. Dan tanpa menunggu pertunjukan selesai, gadis itu menyusupkan satu tangannya yang sejak tadi bersidekap ke dalam mantel—
CRINGG!—lalu sekeping koin emas jatuh ke tanah, bermakna penghinaan terselubung namun terlalu kentara. Tepat berhenti di depan kaki Tequilla Sirius.
"Untukmu," ujarnya sambil menahan tawa mengejek.