Sabtu, 26 September 2009 09.01
Stupid Cupid Again
Meja SlytherinKau tahu, seorang Charlotte Demelza Ryan tidak pernah salah—setidaknya dalam beberapa hal di hidupnya ia selalu melakukannya dengan sempurna.
Hari masih sangat pagi ketika Charlotte, dengan kebiasaannya bangun sebelum matahari sempat terbit, menyusuri koridor demi koridor untuk mencapai Aula Besar karena tak lama lagi sarapan pagi akan dimulai. Segala yang melekat di tubuh gadis itu sudah disiapkan serapih mungkin—rambut coklat emas panjangnya terurai jatuh ke punggung dan jubah hitam licinnya berdesir anggun setiap kaki mungilnya melangkah. Ia memang masih sebelas tahun—hampir dua belas, bisa dibilang—umur-umur transisi dari kanak-kanak menuju dewasa, di mana manusia mulai belajar lebih jauh tentang tata kehidupan yang lebih baik, dan melakukan banyak hal dengan salah karena proses belajar mereka yang masih awal; tapi tak ada sedikit pun yang boleh memiliki cela dari diri seorang Charlotte. Jadi, jangan salahkan kalau ia dewasa lebih awal, atau sok sopan atau apapun, karena inilah dirinya, dengan segala didikan keras dari kedua orang tua dan orang-orang di dekatnya. Segalanya penuh kesempurnaan. Dan harus.
Meski itu hanya menu sarapannya di pagi yang biasa akhir pekan di Sekolah Sihir Hogwarts.
...
(Aula Besar)
Juga tempatnya makan, tak ada cerita atau sejarah yang mencatatkan seorang Charlotte makan di tempat ramai dan penuh sampah seperti ini.
Apa-apaan semua ini? Ekor mata gadis itu menyipit sedikit, langkahnya yang lambat-lambat dari Ruang Bawah Tanah mendadak tersendat begitu kelereng coklat terangnya menangkap pemandangan yang tak biasa dari Aula Besar Hogwarts ketika ia sampai. Merah jambu di mana-mana dan suara berisik—begitu tak biasa mengingat jarum pendek masih belum menunjukkan pukul delapan. Biasanya, di waktu-waktu lalu sarapan pagi selalui dilalui tanpa ocehan maupun teriakan, apalagi suara yang dikeraskan melalui mikrofon. Tapi sekarang?
...dan apa maksudnya kertas-kertas yang berguguran dari langit itu? Ini bukan musim gugur kan?
Kenyataannya memang bukan, dan mengetahui hal itu entah mengapa membuat nafsu makannya menguap bagai mentega di penggorengan. Yang ada dia malah mual, apalagi melihat kertas-kertas yang belum tentu steril itu bercampur dengan makanan. Ugh, apa yang terjadi sebenarnya? Kaki gadis itu refleks melangkah, di tengah ketidakpercayaannya akan suasana ruangan tempatnya berada, ia tiba-tiba saja sudah duduk di meja Slytherin (seperti biasa duduk dengan anggun setelah mengangkat sedikit rok agar tidak kusut)
...
Kemudian menyadari bahwa di tempat ini sedang diadakan acara kirim-surat-cinta-cukup-tiga-sickle yang diadakan oleh dua prefek lincah dari Ravenclaw dan Slytherin—
menggelikan. Jadi ini 14 Februari, hm? Hari yang orang-orang sebut hari kasih sayang? Pfft, Charlotte mencibir dalam hati, tak menaruh sedikit pun minat pada hari kasih sayang. Apa maknanya? Tak ada yang perlu diberikannya ucapan hei-aku-menyayangimu, semua orang yang disayanginya tak lagi terjangkau. Tak ada alasan baginya untuk ikut memeriahkan acara ini—
To Charlotte D.Ryan, Siete Mio.
From Your Lord, Tequilla von Sirius.—kecuali jika seorang brengsek tak tahu diri mengirimkan surat yang ditujukan padamu, tentang perbudakan, dan proklamir sepihak tentang sang pengirim sebagai Tuhannya. Ha. Ha. Ha. Astaga, ini lucu. Tequilla Sirius, pemuda pirang kelas empat yang ditemuinya di koridor penghujung musim dingin lalu. Ukh, dan apa tadi dia bilang?
Siete Mio—you are mine?Mimpi.
...
Astaga. ASTAGA TEQUILLA VON SIRIUS SIAPA SIH KAU BERANI-BERANI BERBUAT BEGITU PADA CHARLOTTE HAH KAU KIRA KAU TUHAN?! Bahkan Ayah Ibu atau Guiseppe pun tidak pernah berbuat semena-mena padanya! Sekarang Tequilla von Sirius—
astaga (lagi).
Mungkin lebih baik sekarang dirinya yang bermimpi. Ha! Bangunkan Charlotte kalau begitu,
please? Bahkan gadis itu tidak sempat mendapat firasat buruk sebelum pergi ke Aula, semua baik-baik saja! Kenapa—oh well, untung tadi minatnya untuk minum atau makan apapun menguap begitu sampai tempat ini. Kalau tidak mungkin gadis itu sudah kejang-kejang tersedak makanan sejak tadi...
...Tequilla Sirius
sinting. Manusia ajaib, dia itu; pantas dibiakkan di penangkaran.
Menelan ludah menahan geram, Charlotte yang benar-benar belum bisa mempercayai apa yang terjadi dengan cepat menarik keluar selembar perkamen dan pena bulu baru dari dalam saku. Entah sejak kapan kakinya mulai mengetuk-ngetuk lantai cepat dengan irama konstan—berimbas efek senada pada tempo tangannya yang kini mulai menulis.
Dan dalam sekejap perkamen yang tadi tersimpan rapih di saku Charlotte sudah melayang cantik bersama tiga sickle menuju siapapun-yang-jadi-cupid-jejadian-di-ujung-sana; menunggu dibacakan. Na-ah, sementara itu, di sini, di meja Slytherin, mari anggap Charlotte baru saja mengalami kecelakaan hebat yang merenggut seluruh ingatannya dan kini gadis itu terlahir kembali sebagai seorang suci yang tak tahu menahu tentang apa-apa. Dan yang lebih penting, tak mengenal Tequilla von Sirius.
Eh? Sorry Mister Tequilla Sirius, Io non ti conosco—aku tidak mengenalmu.SREKKLalu sebuah gesekan halus dari jubah yang melawan tekstur kursi mengiringi pergeseran tubuhnya yang beringsut menjauh. Mengambil jarak sejauh mungkin dari Tequilla von Sirius di sebelah sana. Bahkan mungkin, kalau bisa, biarkan gadis itu keluar secepat mungkin begitu tubuhnya mencapai ujung meja asrama. Bye, Mr. Tequilla.
Tsch,
Pazzo.