Sabtu, 26 September 2009 08.57
Evening Solace / I
Tak ada yang memberitahunya kalau semua akan seperti ini...
Tak ada yang peduli, bahkan sosok dua dimensi lukisan-entah-siapa yang terpaku di dinding tak jauh darinya hanya menatap malas sambil menggaruk hidung. Seolah tak ada masalah, di hidupnya, apalagi hidup orang lain—apa peduli mereka? Juga seorang gadis yang sejak entah satu atau dua jam lalu bersandar tak bergeming di dinding koridor lantai dasar kastil Hogwarts, masalahnya, sangat-sangat tak penting untuk dipedulikan. Mereka tak kenal gadis itu, tak pernah melihat, tak pernah berbincang, dan untuk apa juga mereka peduli? Mereka, mungkin, hanya beberapa garis sapuan semu yang terkurung dalam kanvas dan terpaku lekat ke dinding. Hidup dalam ketidakpastian, semu, dan terlalu tak penting untuk mengurusi masalah orang lain. Tak dianugerahi minat ke arah hal-hal duniawi semacam itu.
Ini mungkin musim semi. Kuncup-kuncup bunga mulai bermunculan bersamaan dengan matahari, dan udara sedikit lebih hangat. Ada yang berubah. Ketika putihnya lapisan salju mulai mencair digantikan hamparan rumput bercampur bunga. Asap yang mengabut dan melayang-layang di udara seolah lenyap, dan sebagai gantinya burung juga kupu-kupu beterbangan di sekitar. Semua seolah berubah. Tapi itu di luar, jika kau melongokkan kepala ke halaman dan meninggalkan dinding-dinding kastil yang berbatu. Di dalam rasanya sama saja. Tak ada perubahan yang berarti, sejauh mata memandang. Kecuali semua orang seolah lebih ceria dan celotehan di koridor makin ramai.
Tapi itu orang-orang. Tidak dengan Charlotte. Tak ada yang berubah dari gadis itu sejak pertengahan musim dingin lalu. Ketika seekor burung hantu dengan tak biasanya mengantar surat langsung ke asrama Slytherin, berisi secarik perkamen berisi tulisan ramping yang rapat-rapat. Tulisan ibunya, ia sangat tahu. Memberitahu bahwa ada masalah lagi yang terjadi dan harapan serta permintaan maaf agar Charlotte tidak pulang saat liburan natal.
...
Awalnya Charlotte senang. Menduga bahwa ibunya sudah tak sabar untuk bertemu, mengingat ia anak tunggal dan tak ada lagi anggota keluarga yang mereka punya selain satu sama lain. Padahal Charlotte belum terbiasa di tempat ini, di tengah-tengah banyak orang yang seolah menutup mata terhadap sesama. Ia rindu rumahnya, Ibunya, juga Guiseppe. Charlotte rindu kehangatan di Waterloo, dan sarapan setiap pagi begitu ia bangun. Gadis itu begitu menikmati semua perhatian dan pelayanan yang diberikan pelayannya, meski sebenarnya ia gadis yang mandiri. Dan di sini, semua itu seolah terenggut begitu saja dari kehidupannya.
Apa yang bisa ia lakukan? Bahkan di sini tak ada yang mengajaknya bicara lebih dari lima kalimat atau lebih. Tak seperti di rumah ketika Ibunya dengan senang hati menanggapinya berdiskusi tentang banyak hal.
Hogwarts busuk, pikirnya setiap saat. Dengan penghuninya dan semua ketidakpedulian mereka yang memuakkan—Charlotte benar-benar ingin pulang. Andai saja ia bisa.
Beberapa orang lewat begitu saja di hadapan, sementara gadis itu, dengan rambut coklat keemasan panjangnya yang terurai melewati bahu, masih menempelkan punggungnya yang hanya terhalang pakaian ke dinding. Menyesali berulang-ulang betapa tak beruntungnya keadaannya kali ini. Di satu sisi ia hanyalah anak sebelas tahun yang merindukan kehangatan rumah, di satu sisi ia harus mempertahankan prinsip hidupnya sebagai seorang yang mandiri dan tak bergantung terlalu jauh pada seseorang—ajaran yang diberikan almarhum ayahnya.
Yang pasti, satu hal yang dia dapat : dia benci Hogwarts. Ah, dua : juga Slytherin.
...
Ah, hari sudah sore—menjelang malam.