Sabtu, 26 September 2009 08.53
Pesta Awal Tahun / I
Degup jantung gadis itu masih berpacu kian kencang, telinganya yang awas bergerak-gerak samar menunggu keputusan. Kesepuluh jari-jari Charlotte Demelza Ryan, gadis berambut coklat keturunan Italia saling bertautan satu sama lain; bergerak-gerak cemas sementara di atas kepalanya, menutupi rambut coklat emasnya sebuah topi lusuh berdebu melakukan gerakan mengunyah. Menciptakan sensasi tak nyaman di sekitar tengkorak sang pemakai. Cukup lama topi itu tak meneriakkan apapun yang berarti, membuat Charlotte benar-benar waswas. Dari apa yang dibacanya memang tak ada satupun asrama yang menurutnya sesuai kriteria; apa ini berarti Charlotte tidak diterima masuk?
Ia memejamkan matanya gusar, tidak suka dengan keadaan menyedit perhatian seperti ini—
"SLYTHERIN!"—tapi ketika suara yang memenuhi telinganya bagai dengungan seribu lebah itu berteriak lantang, kedua kelopak mata sang gadis dengan cepat terbuka, memperlihatkan dua bola mata coklat cemerlangnya yang menyorot tajam.
Meja SlytherinTidak banyak yang ia tahu tentang Slytherin, kecuali bahwa penghuni mereka kebanyakan berambisi. Charlotte tidak berambisi, setidaknya itu menurutnya. Kecuali sedikit keinginan untuk membalas dendam atas kematian ayahnya itu disebut ambisi, mungkin Charlotte bisa terima. Meskipun itu hanya sedikit; atau mungkin topi itu bisa melihat yang lain? Atau sebenarnya di balik pembawaannya yang tenang ini sebenarnya tertanam benih-benih ambisi yang akan tumbuh subur beberapa tahun kemudian? Itu berarti topi itu bisa melihat masa depan? Charlotte jelas tidak tahu apa-apa, buku memberinya pengetahuan yang begitu terbatas. Sekedar teori, bukan penggambaran mendalam tentang emosi dan perasaan.
Ia berdiri tegak, melepas topi di kepalanya sebelum melangkahkan kakinya mantap menuju meja berlambang ular. Kebanyakan dari mereka acuh tak acuh, segelintir kecil nampak tertarik. Satu yang paling tua malah dengan nyamannya duduk dikelilingi beberapa gadis yang lebih kecil, menggambarkan dengan jelas kekuasaannya; bagai Odin sang penguasa alam dewa. Tapi Charlotte justru tidak merasa terusik, dengan ini ia malah bisa mengamati dengan cermat tentang
keluarganya selama tujuh tahun ke depan. Bagaimana mereka bersikap, bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain.
Ujung jemarinya yang lentik mengangkat sedikit jubah hitam yang menyelubungi tubuhnya begitu ia duduk, mengambil tempat di paling ujung yang tidak ditempati siapapun. Berpiring-piring makanan penuh lemak dan gula langsung tersaji di depannya, diselingi tangan-tangan yang menyisihkan untuk mereka sendiri. Tidak tahu siapa yang duduk di depan atau sebelahnya, dan tidak berusaha untuk peduli sedikit pun, ia menarik sepiring kuningan mendekat. Menata sepotong steik sapi hangat yang terlihat menggoda, lalu mulai mengirisinya perlahan. Bukannya Charlotte tidak peduli, ia hanya punya urusannya sendiri. Perutnya yang belum diisi berkeriuk lapar menunggu untuk diisi. Dan tidak bisa disela kecuali oleh sapaan singkat yang tidak bertele-tele.
Charlotte masih mau hidup.
Dan satu-satunya cara adalah dengan makan. Siapa yang peduli kalau bahkan, suatu hari nanti tidak ada yang mengenal namanya?
Hai, namaku Charlotte Demelza Ryan, boleh berkenalan?—sesuatu yang tak akan pernah diucapkannya. Pertama.