Sabtu, 26 September 2009 08.54
The Intros
Sekitar empat jam dua puluh menit, udara yang memenuhi paru-parunya berasal dari Sekolah Sihir Hogwarts.
Tapi bahkan ia belum bicara satu patah kata pun semenjak kakinya menjejak lantai pualam yang menyambutnya tadi, seolah dinginnya lantai itu berimbas pada gadis itu, meresap melalui pori-pori kulitnya. Bibirnya yang biasa menyunggingkan senyum meski tipis dan formal kini tak tertarik sedikit pun, sementara sorot coklat beningnya tampak bosan. Tak ada yang berarti di sini selain duduk di atas kursi berkaki tiga dan mengenakan topi, lalu topi itu berteriak Slytherin dan tepukan pelan mengiringimu menuju meja, makan steik lalu mereka semua digiring dua murid lebih tua yang di dadanya ada lencana, bagai kambing atau sejenisnya. Dan tak ada yang menarik dari semua itu; kecuali mungkin mengetahui kenyataan bahwa kini rambutnya sedikit berantakkan dikunyah topi dan bahwa dua murid lebih tua yang menggiring mereka sepertinya mempunyai
affair.
Charlotte melenguh pelan, menghela nafas lega ketika akhirnya murid lebih tua yang menggiring mereka—namanya Prefek—menyebutkan password asrama dan serta merta dinding di hadapannya terbuka. Meski ia sedikit berjengit tidak terima ketika tahu asrama mereka di bawah tanah, tak ada yang bisa dilakukannya dengan tubuh sangat lelah seperti ini. Rasanya dagingnya memar-memar dan tulangnya ngilu. Ia butuh istirahat tentu saja, makan steik atau apapun tak membantu banyak. Duduk seharian di Kereta Api bukan hal yang menyenangkan; ditambah setelah itu kau malah harus bertravelling konyol naik perahu, lalu mengantri, diseleksi dan mendengarkan pidato sebelum makan.
Hari sudah larut meski malam tak nampak dari jendela-jendela di ruangan ini (karena memang tak berjendela) tapi kuap yang mati-matian ditahannya menandakan sudah waktunya ia tidur. Dan ini memang sudah jamnya. Mencari perlindungan di balik selimut beledu yang hangat ditemani mimpi indah tentang bertemu presiden atau apapun. Dan bangun di pagi hari yang hangat dalam kondisi segar untuk memulai pelajaran pertamamu.
"Aku yakin tidak ada seorangpun di antara kalian yang merasa nyaman melewatkan malam bersama orang asing. Jadi aku ingin sekarang juga kalian duduk dan saling memperkenalkan diri satu sama lain. Tanpa terkecuali."Pikirnya itu ide bagus, tapi sepertinya dua sejoli Prefek itu tidak sependapat. Charlotte mendelikkan pandangan tidak percaya ketika Prefek yang perempuan menyuruh mereka duduk, meski toh akhirnya ia duduk juga karena kelewat lelah. Tubuhnya yang ringan terhempas begitu saja bagai daun gugur, air mukanya yang tertekuk tak lebih dari bunga layu. Charlotte sangat parah malam ini, dan kalau acara 'perkenalan' ini tak diselesaikan secepat mungkin ia bersumpah akan tidur di tempat ini. Masa bodoh tata krama atau aturan apapun, tapi tubuhnya sudah bagai diremukkan.
Satu bocah laki-laki dengan rambut coklat berantakkan memperkenalkan diri sebagai Caspian blablabla Altosaar. Yang ditanggapi Charlotte selewat saja karena toh gadis itu tidak akan tidur sekamar dengan si Caspian (nama panggilannya, katanya). Tapi lalu pemuda itu menyerukan giliran selanjutnya pada seseorang di belakangnya sebelum menghempaskan diri ke sofa, dan Charlotte langsung berdiri, menyela siapapun giliran selanjutnya dipacu keinginannya yang begitu keras akan selesainya acara ini.
Ia berdeham kecil, kelopak matanya yang sayu dipaksa membuka lebar-lebar. "Charlotte Demelza Ryan. Panggil Ryan atau Charlotte," tukasnya singkat dan tegas, kembali menghempaskan tubuhnya dengan tak peduli.