Sabtu, 26 September 2009 08.56
Kelas 1, Transfigurasi
Akhirnya—mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang menari-nari di otak gadis kecil itu sejak tadi. Tiap langkahnya yang bergema di koridor mengulang kata itu dalam benaknya, melengkungkan senyum puas di kedua sudut bibirnya.
Akhirnya—setelah penantian seminggu penuh, hm? Hogwarts terlalu mengulur-ngulur, setelah seminggu awal tak ada jadwal sama sekali, pelajaran pertama mereka di akhir pekan malah melayang-layang menggunakan sapu butut,
akhirnya pelajaran mereka dimulai juga. Transfigurasi, Charlotte membaca lekat-lekat tulisan miring-miring yang ramping di jadwal yang sedari tadi diceknya; pelajaran yang ia ketahui sebatas mengubah suatu benda menjadi benda lain.
To transfigure—untuk merubah bentuk. Charlotte melangkahkan kakinya tak sabar menaiki undakan demi undakan untuk mencapai kelas Transfigurasi, kelas pertamanya. Karena entah mengapa, pelajaran-pelajaran itu menarik minatnya sedemikian rupa.
Mungkinkah pelajaran-pelajaran itu juga telah disihir sehingga memiliki daya tarik tersendiri? Atau memang Charlotte yang terlalu bersemangat menerima hal-hal baru?
Pintu kayu berat yang di atasnya ada plang 'Kelas Transfigurasi' berdecit dalam ketika Charlotte mendorongnya terbuka dengan susah payah, menampilkan ruang kelas cukup besar yang tadinya tak terlihat. Bagai layar televisi yang dinyalakan, kelopak yang menaungi bola mata coklat terang gadis itu mengerjap-ngerjap terbias cahaya. Tak ada yang memperhatikannya sejauh ini, sementara Profesor McGonagall merubah diri menjadi kucing, dia menyelinap. Menutup pintu dengan debam samar yang teredam, gadis sebelas tahun itu akhirnya mendudukkan diri di salah satu kursi terdekat, menyusun buku-buku dan gulungan perkamennya di atas meja sebelum memfokuskan diri pada apa yang dikatakan Profesor McGonagall di depan. Sesuatu tentang mengubah korek menjadi jarum. Dan Scaramouche.
ScaramoucheLalu jari-jari kurus panjang sewarna susu itu bergerak membuka sampul tebal Pengantar Transfigurasi bagi Pemula oleh
Emeric Switch; membolak-balik halamannya dengan gerakan lugas dan bertahap. Sementara pandangannya menyusuri tiap kalimat, dan ujung-ujung jari tangannya yang satu lagi memainkan korek api, baru dia sadari bahwa di sampingnya ada Juutilainen. Atau Karl, panggilan berupa nama depan yang sudah ia putuskan akan panggil pada anak-anak Slytherin, seperti apa yang mereka perkenalkan lebih dari seminggu lalu di Ruang Rekreasi.
Kedua sudut bibirnya refleks tertarik, tak ada ungkapan lain yang bisa dipakainya untuk menjawab selain anggukan pelan. Sebagian anak-anak rambutnya bergoyang anggun ketika gadis itu menggerakkan kepalanya, kembali terkulai lemas kemudian. "Tentu. Nah, kau mau tunjukkan padaku lebih dulu?" ujarnya memiringkan tubuh. Dia perlu contoh. Charlotte perlu melihat karena sayangnya, ia datang terlambat.