Sabtu, 26 September 2009 08.59
Evening Solace / III
Satu jarum lebih panjang bergerak konstan mengiringi pergerakan semu nyawa yang terkumpul. Sekedar satu atau dua atau selusin, secara perlahan kesadaran mulai terbentuk. Sedikit demi sedikit maya berubah menjadi fana, lalu realita tersentak ke permukaan, dan tiba-tiba saja semuanya menjadi jelas. Ujung-ujung kakinya yang berbalut kulit sepatu bahkan bisa merasakan dinginnya permukaan marmer koridor lantai dasar, dan pori-porinya mengerut ketika menyadari bahwa tempat ini kini sepi bagai tak berpenghuni. Angin kemudian berhembus dengan sendirinya, dan Charlotte berjengit sebentar. Satu nafas terhela, dada gadis itu naik turun sekali dalam gerakan lambat, dan semuanya benar-benar jenih dan transparan.
...
Ada laki-laki dengan kaki menjejak tanah di hadapannya. Dan meski rambutnya yang pirang pucat sedikit berkilau terbias cahaya, laki-laki itu jelas manusia. Tak lebih dari seorang murid tingkat atas pemilik buku-buku brengsek yang kini ada di dekapan Charlotte. Bukan malaikat, karena bahkan dia bersepatu dan kini sedang menalikan tali sepatunya secara manual. Ilusi. Kedua sudut bibirnya kini tertarik membentuk seulas senyum tipis-formal yang biasa, sekedar berbasa basi meski tak ada maksud yang hendak diutarakannya. Hatinya beku, minatnya mati rasa. Kehidupan di sini begitu membosankan sampai membuatnya sulit bernafas, semua siklus yang berulang bahkan membuat kepalanya pening.
Ia bagai robot, kau tahu? Dengan
setting default yang sudah diatur sedemikian rupa, tak ada yang bisa dilakukannya selain makan, tidur, dan mengikuti pelajaran. Kulitnya berangsur-angsur menjadi baja hingga tak terjamah, dan kelembutan dalam suaranya lenyap seiring berjalannya sang waktu. Ia bahkan, meski kelereng coklat terangnya menyorot tajam, menatap tanpa makna sosok berambut pirang pucat di depannya. Robo-Charlotte—untuk apa memulai simpul? Segera setelah buku-buku ini kembali ke tangan kurus pemiliknya, mereka akan kembali tak saling mengenal. Tak ada yang harus dijalin.
Warnanya sama dengan dinding, dan nadanya seirama dengan hembusan angin—tak tersadari. Ia tak lebih dari tiang gantungan yang mematung tanpa arti. Menyedihkan.
"Berapa ya... berapapun."Tapi ia tidak hina. Seperti apa yang disangka laki-laki pirang itu begitu ia menaikkan satu sudut bibirnya dengan janggal yang menyebalkan—ia telah salah menanggapi Charlotte. Itu berarti pemerosotan harga diri, dan Charlotte tidak semelarat itu hingga harus mengemis keping dari keringat yang ia hasilkan sendiri. Keringatnya bukan mata pencaharian, meski itu setetes, dan semua yang menganggapnya bisa dipekerjakan haram untuk hidup tenang. Harga dirinya tak terjangkau, langit ke tujuh hanya sepersekian lintasannya. Harga dirinya tak bisa dibeli dengan satu Galleon, dan bahkan jika balok-balok batu penyusun dinding ini adalah batangan emas, semua itu masih tak cukup untuk menebus harga diri Charlotte. Laki-laki pirang itu mengusik, dan diam tanda pengecut.
Sayangnya Charlotte tidak setakut itu, meski ia hanya seorang gadis kecil dan laki-laki itu sudah uzur.
Harga diri segalanya,
Tequilla Sirius—tidakkah kau belajar itu?
Sudut mata gadis itu memicing, menatap dalam tangan Sirius yang terulur. Satu laki-laki lewat, disusul Karl dengan sapaan. Menarik sekali—apa maksudnya dengan menarik sekali? Charlotte bukan sirkus, Tuan Juutilainen, dan tak ada yang berhak mengatainya
menarik dalam situasi seperti ini. Ia bukan manekin, Demi Merlin. Mari kita urus satu persatu.
"Aku bukan pengemis, sayangnya. Dengan kemurahan hati kukembalikan bukumu cuma-cuma," ujarnya pahit, sudut bibirnya tertarik kecut. "Kuberitahu kau, Tuan—" lanjutnya, buku-buku itu kini berada beberapa senti di atas tangan pemiliknya, "—
aku tersinggung,"
BRUKK!Ucapan terakhir gadis itu manis. Dan bagai jangkar yang membentangkan layar, senyum angkuh gadis itu terkembang seiring menggemanya debam buku di koridor, bunyinya membelah udara dan memekakkan telinga. Satu detik, kemudian semua kembali hening.
"
Ups,"