Sabtu, 26 September 2009 08.58
Evening Solace / II
Ada desir yang mengalir di setiap pori-pori putih gading gadis itu, lalu hati yang mencelos ketika sekelompok anak yang baru kembali dari makan malam berjalan lewat tanpa melirik. Ada kelopak layu yang semakin terkatup, ketika hembusan angin yang gerombolan itu bawa dari desiran jubah mereka menyapu wajah yang tertunduk. Dimulai dari hampa dalam diam, berputar dalam dimensi waktu yang tak sebentar, ocehan meledak satu detik kemudian kesunyian disusupi pedih. Tembok ini begitu nyata, meski transparan, membatasi dua dunia yang semestinya sama. Menjadi penyebab satu alasan berbunyi 'seleksi alam', bukti kekejaman yang tak tersadari.
Satu kata 'peduli' perlu ditinjau ulang. Frasa basi yang zaman kini hanya untuk orang-orang yang saling mengenal dan rasa senasib. Sementara orang di luar bersenang-senang, satu gadis tak penting tanpa kenalan terbuang di sudut begitu saja. Charlotte bukan melebih-lebihkan, bukan juga merasa orang paling malang. Tapi tak adakah yang bisa mengerti? Perasaan ini baru satu kali hinggap di hati, dan pengalaman hidup sebelas tahun tak memberinya apa-apa. Mungkin ini memang hal kecil, ketika kematian tragis sosok idola merupakan masa lalu, rindu akan rumah
seharusnya bukan menjadi masalah berarti.
Tapi ini lain, keadaan jelas tak sama. Dulu orang-orang mengelilinginya, mengucapkan banyak kata penghiburan tentang ayahnya yang damai di surga meski ada bisik-bisik yang mereka alirkan di belakang. Tapi Charlotte senang. Setidaknya dia tak harus merasa sendiri dengan ruang kosong menekan dadanya hingga sesak, ada kehangatan yang orang-orang itu pancarkan untuk menguatkannya. Tak seperti saat ini. Semua orang sama bisunya seperti patung-patung zirah, sama dinginnya dengan dinding-dinding batu kastil Hogwarts. Sulit ditembus. Apalagi gadis itu kini benar-benar rapuh dan menyedihkan.
Bisa-bisa dia yang hancur, batinnya sementara ujung sepatu gadis itu kini memutari lantai.
Koridor kini benar-benar sepi. Tak ada suara berarti kecuali dengkur lembut angin yang menghantam permukaan kaca jauh di belakang. Semua bunyi seolah ilusi dari tempat yang begitu jauh. Persis seperti kumur orang sakit gigi.
“Oi,”Meski entah mengapa yang baru saja didengarnya kali ini aneh. Lebih ke nyata dan dekat dari telinga. Kedua alis gadis itu refleks terangkat, wajahnya yang tertekuk masih menunduk. Apa? Kenapa bisa? Apa Charlotte sudah benar-benar putus asa sampai kini dunia nyata dan mayanya tak dapat dibedakan? Apa kini kakinya masih menjejak Hogwarts? Atau ia sudah—
mati?“Pegangkan sebentar.”Tapi suara itu terlampau nyata. Kepala Charlotte terangkat beberapa derajat, mengganti layar pandang gadis itu dari gelapnya lantai marmer Hogwarts menjadi sebuah sosok berambut pirang yang menyodorkan buku.
Pegangkan sebentar, dan refleks tangannya terulur meraih tumpukan.
Berat, lalu ia mendengus pelan dalam hati ketika buku-buku itu hampir terjatuh dari raihan, membuatnya sejenak tersadar dari lamunan.
Kalau Charlotte benar-benar sudah mati, berarti yang dilihat di depannya itu—
malaikat?...
Tapi malaikat tak pernah menyuruh seorang gadis memegangkan tumpukan buku begitu lama. Apa yang malaikat itu lakukan? Menalikan sepatu?
...
Sejak kapan malaikat bersepatu?
"Kau mau bayar berapa per detik aku memegangkan bukumu?" gumamnya halus, bola mata coklat terangnya kini menyorot tajam. Bukan... bukan karena Charlotte mata duitan. Tapi karena ia sadar bahwa makhluk di depannya tak lebih dari sesosok manusia. Dengan rambut pirang.
Tsk. Ia memindahkan buku-buku brengsek itu ke dalam dekapannya. Pegal.