Sabtu, 26 September 2009 09.00
Evening Solace / IV
Terkadang ada esensi tak terpahami, dari sebuah makna yang sisi lainnya tak tersadari. Tak terjangkau oleh andai-andai manusia yang hanya berisi hal-hal positif, yang di beberapa kesempatan menciptakan penyesalan yang mendalam. Lebih karena ternyata esensi itu memberikan keuntungan dengan nihil. Nol besar—persepsinya selama ini tentang interaksi-membawa-kebahagiaan ternyata salah total. Dan entah mengapa kini penyesalannya tentang betapa kesepiannya dirinya selama berjam-jam tadi terasa benar-benar bodoh.
Apa?
Tuhan mengabulkan doamu, Charlotte. Bukankah ini yang kau inginkan?Omong kosong. Semua makhluk-makhluk ini penuh dengan tipu daya dan wajah mereka ditutupi topeng. Ia telah mengenal, sebelumnya, bagaimana cara kerja otak Karl yang tak jauh dari harta. Atau orang-orang dengan marga Sirius—ia benar-benar serius ketika entah bagaimana caranya menyadari bahwa marga itu benar-benar tak asing di telinga—tak akan jauh dari keping dan lembar berharga bernama uang. Uang uang uang, siapa yang tidak bisa menebak? Bahkan dari sikap sengak Tequilla tadi pun semua orang sudah tahu bahwa pemuda itu tak lebih dari tuan muda pemalas yang duduk di singgasana dengan kucuran warisan dari tiga generasi di atas.
Pemalas. Tipe-tipe manusia yang tak pernah disukainya. Yang tak pernah tahu bagaimana dan dari mana uang itu didapatkan, dan bahkan terlalu bingung untuk menggunakan uang-uang itu untuk apa alih-alih membagikannya bagi orang-orang busung lapar yang terseok-seok di pinggir jalan Afrika. Mereka mati kelaparan dengan tubuh terbakar sementara tuan muda di sini menghambur-hamburkan uang. Ck.
Ulasan senyum dibalas seringai. Dari turquoise yang berkilat itu bisa Charlotte pastikan bahwa Tequilla sama tidak terimanya. Mata dibalas mata, tak ada tawar menawar dalam kamus seorang Charlotte. Meski itu seorang kakak kelas yang jauh empat atau lima tahun di atasnya—siapa yang peduli? Senioritas itu basi, tuan, harga diri tidak berporos pada seberapa tua kau menjejakkan kaki di dunia.
BRUKK!Lalu sebuah sahutan terdengar tak jauh setelah buku-buku tebal milik pemuda di depannya beradu dengan lantai, disusul seorang laki-laki pirang lebih tua memungut dengan terburu. Buku-bukunya jatuh, dan Charlotte hanya bisa memandang tanpa melakukan apapun untuk membantu. Kelereng coklat terangnya menyorot tanpa arti. Pun ketika buku-buku yang tadi dijatuhkannya dikembalikan ke genggaman. Siapa laki-laki itu? Makhluk berkedok yang mengincar uang juga, hm?
Sementara laki-laki itu berurusan dengan Tequilla, mendadak tempat ini jadi ramai. Vassily, Arvid—oh nice, kini tempat ini sudah jadi lahan piknik, heh?
"Kebetulan sekali aku juga tersinggung, Charlotte. Karena kecerobohanmu barusan. Beruntung tuan ini," satu sudut bibirnya tertarik kecut, seiring kelereng coklat tuanya yang bergulir antara Tequilla dan si laki-laki yang katanya—
"berbaik hati. Nah."—berbaik hati. Nah? Nah.
"Mari kita ulang. Berikan bukuku, dengan sopan. Tanpa galleon, oke."Dan sekarang Tuan Tequilla yang berharga diri tinggi sudah bisa mengeja kata sopan, hm? Sosialisasi tidak sempurna—berkoar-koar padahal dia salah. Meminta Charlotte sopan sementara permintaannya seperti itu, eh? Sopan versi Tequilla—mari kita ajari
Tuan Muda itu kesopanan yang seutuhnya.
Charlotte maju sedikit, sehingga jarak antara mereka berdua tak serenggang tadi. Mengabaikan bau mesiu yang entah dibawa siapa tercium sejak tadi, dan orang-orang ingin tahu yang sok ikut campur, lagi-lagi bibirnya mengulas senyum formal-tipis yang selalu ia jadikan topeng.
Manis. Kepalanya terangkat beberapa derajat, membuat rambut coklat emasnya yang tergerai di bahu jatuh ke punggung. Tangannya terlipat di depan tubuh, menahan berat buku-buku yang membuat ujung jarinya memerah menekan sampul. Jangan bertele-tele.
"Mari kita ulangi lagi. Kau lupa kata kuncinya,
Tuan.
Tolong berikan bukuku, dengan
sopan dan tanpa galleon,
Nona Charlotte.
Please?," ujarnya halus menyindir, dengan kedua alis naik begitu kata terakhir diucapkan. Nah, ayo ucap ulang, Tuan Tequilla?
—hanya jika kau ingin bukumu kembali.