Sabtu, 26 September 2009 08.55
Kelas Terbang
Ini hari minggu.
Minggu ini ada kelas terbang.
Terbang.
Gawatnya ia lupa.
Charlotte lupa.
Sinting, bahkan Charlotte lupa kalau penyihir bisa terbang.Ini menggelikan—Charlotte sudah sangat-sangat-sangat terlambat tapi ia sama sekali tidak berusaha untuk bergegas. Matahari hampir naik mengguyurkan cahayanya di atas kepala tapi seorang gadis kecil sebelas tahun yang ceritanya sedang terlambat malah melangkahkan kakinya lambat-lambat menuju Lapangan Quidditch Hogwarts yang benar-benar jauh dari kastil. Jubah hitamnya yang sedikit kebesaran berkibar-kibar memperlambat langkahnya diterbangkan angin, seiring rambut coklat emasnya menari-nari dipermainkan udara yang bergerak.
Angin—mungkin akan menjadi faktor penting di pelajarannya kali ini.
Pelajaran terbang; kira-kira apa yang akan dipelajarinya nanti? Charlotte bahkan tidak bisa menebak dengan apa mereka-mereka ini terbang. Sayap? Sapu? Karpet? Atau bahkan mantra? Seminggu di sekolah ini tanpa ada jadwal membuatnya sedikit sangsi; apa ini betulan? Maksudnya—sungguh-sungguh? Kastil ini saja bahkan masih bagai bayang-bayang baginya. Tak nyata. Fiksi. Ilusi. Mengapa seminggu ini mereka dibiarkan saja kalau semua ini memang sungguh-sungguh? Jangan-jangan ini bentuk penipuan baru. Atau malah akal-akalan untuk menyingkirkannya sementara—apapun itu, yang pasti ilusi yang mereka—siapapun itu—ciptakan benar-benar bagai kenyataan. Sampai hampir beberapa kali ia sentuh dengan kesepuluh ujung jemarinya.
Hampir saja Charlotte percaya, tapi tak ada yang didapatnya sampai saat ini kecuali kenyataan bahwa kamarnya begitu lembab. Tak ada mantra ataupun guna-guna; dan kalau pelajaran terbang kali ini hanya tipuan ia bersumpah akan mengepak kopernya saat itu juga.
Udara segar rerumputan langsung menyergap hidungnya begitu kakinya menjejak rumput. Menampilkan pemandangan hijau yang menenangkan sepanjang mata memandang. Lapangan ini berbentuk oval, sengan masing-masing tiga tiang di ujung-ujungnya, menjulang tinggi seolah menembus langit, lalu di sekelilingnya ada tribun. Titik-titik kecil yang berjajar memberitahukannya bahwa kelas sudah dimulai, meski belum terlalu terlambat, tetap saja sudah dimulai dan tak ada banyak waktu baginya untuk belajar lebih jauh. Padahal ia tidak tahu apa-apa; padahal ia muggle yang terbangnya naik pesawat. Siapa yang sangka bahwa—ouch, mereka pakai sapu—gagang panjang beranting yang biasa dipakai membersihkan debu itu bisa dipakai terbang?
Charlotte berdiri di samping satu sapu tua yang gagangnya sudah boncel-boncel, mengesampingkan kenyataan bahwa ia bersalah karena sudah terlambat, manik coklat beningnya terpancang kuat pada seorang gadis lebih tua yang sepertinya pengajar mereka. Murid Hogwarts, tebaknya, tak lebih dari itu karena wajahnya tak setua guru-guru lain. Tapi masa bodoh, apa pedulinya? Yang harus ia fokuskan saat ini adalah sapu di depannya, bagaimana cara terbang, lalu menyelesaikan semuanya secepat mungkin dengan sempurna. Charlotte tidak suka kegagalan atau kecacatan.
"Naik," ujarnya dalam, pandangannya kini sudah tercurah ke arah sapu yang tergolek di hadapannya sepenuhnya. Satu tangannya, yang kanan, teracung beberapa derajat membentuk sudut mati. Siap menangkap sapu yang
seharusnya terlontar ke genggamannya. Kini. Tapi tak ada yang terjadi, sapu itu tak bergeming sedikit pun dari tempatnya, memacu kedua alis gadis itu yang sempurna terangkat naik. "Naik," perintahnya lebih tegas, dan serta merta sapu yang sedang ditatapnya terlontar naik, yang segera ditangkapnya meski dengan tiba-tiba. Tekstur gagang sapu yang kasar mengiritasi kulitnya, apalagi ketika benda solid itu menghantam permukaan tangannya begitu keras.
Bibir mungilnya mendesiskan gerutuan pelan, mengabaikan kerumunan heboh yang ternyata mengurusi tangan berdarah, perhatiannya ia tumpukan pada seorang pemuda lain, lebih tua yang kini mengambil alih instruksi. Naiki sapunya, gerakkan sedikit agar naik, tak lebih dari sepuluh meter atau dia akan menjatuhkan yang melanggar dengan Bludger. Sial. Charlotte menelan ludah dalam sambil menatap sapu di tangannya sedikit tak percaya. Bukan ancaman Bludger yang menakutinya, melainkan kenyataan bahwa mereka harus menaiki sapu ini dengan posisi mengangkang. Maksudnya—itu kan melanggar tata krama! Seorang lady yang baik sudah seharusnya merapatkan kedua lutut ketika duduk. Dan kini—
—tapi tidak ada kata 'tak bisa' bagi seorang Charlotte. Apapun tantangan yang diajukan padanya harus ia selesaikan dengan sempurna. Egonya yang tak suka kekalahan mendominasi, membuat gadis bermata cemerlang itu dengan keteguhan hati mendudukkan dirinya di atas sapu. Dengan posisi seperti seharusnya, mengabaikan tata krama yang mati-matian dijaganya. Meski setelah itu dia mati-matian menahan rasa malu yang mulai merambati pipinya, dengan instingnya gadis itu mulai menggerakkan ujung sapunya yang perlahan naik... naik... naik... hingga kini posisinya entah berapa meter di atas tanah.
Ini gila—
—
gila.