Sabtu, 26 September 2009 09.00
Interruption
Hari ini seharusnya normal senormal biasanya (dan membosankan semembosankan hampir setengah tahun hidupnya di Hogwarts)—matahari bersinar tanggung di balik gumpalan awan-awan musim dingi dan kepingan salju luruh dari langit bagaikan
cornflakes, menciptakan saputan tipis menyeluruh di hampir seluruh permukaan halaman dan danau Hogwarts. Putih, tak terbaur oleh hijaunya rerumputan yang sudah mati kecuali oleh coklatnya batang-batang pohon yang mulai mengurus. Bebatuan bahkan hampir tak terlihat, warna sekitar yang keperakan membuat pandangan sedikit kesilauan.
Murid-murid banyak melakukan aktivitas dengan normal di sekitar sini, bercanda, mengobrol, mengerjakan tugas, bermain, dan segala hal-hal remeh lainnya seolah mereka tak memiliki masalah yang berarti selain pelajaran selanjutnya dengan guru
killer atau tugas-tugas yang membotakimu secara perlahan. Atau mungkin tidak sama sekali—ketika seluruh keluarga mereka masih hidup sejahtera sentosa dan pelajaran bukan masalah bagi mereka.
Mereka bukan Charlotte Demelza Ryan. Yang, meskipun umurnya masih sebelas—hampir duabelas—sudah tertempa kerasnya kehidupan seolah umurmu sudah setara dengan kakek-kakek bungkuk dengan tongkat. Ayahnya mati mengenaskan, hidup dalam penyamaran dan sekarang, ia bahkan tak bisa pulang dari kungkungan rangkaian batu yang membentuk sebuah kastil tanpa makna macam Hogwarts. Padahal sebentar lagi hari natal.
Dan ia rindu rumah—menyedihkan.
'Minta maaf kau tidak bisa pulang. Semuanya serba membingungkan dan bahaya di sini. Hogwarts mungkin lebih aman. Maaf.'
Ibu.Lalu setelah ini apa? Ia akan mendapat berita kematian Ibunya dan Guiseppe?
Semua di sini berbahaya, gadis itu merutuk dalam hati, satu tangannya yang mungil meremas perkamen di genggaman, membuatnya menjadi tak lebih dari sebuah gumpalan kecil. Langkah-langkahnya yang terbenam salju lambat, melintasi halaman menuju kastil dari kandang burung hantu. Keadaannya mungkin saja kacau—nafasnya tersengal dan wajahnya memerah meski bagian lain dari tubuhnya sama normalnya seperti kebanyakan orang di musim dingin.
Hanya saja hatinya kacau, dan mungkin Charlotte butuh pelampiasan. Tapi apa? Siapa? Dan dalam bentuk apa? Gadis itu menghela nafasnya sekali, lalu kabut keperakan sewarna salju tercipta di depan wajah. Ia berhenti, menyusupkan remasan surat ke dalam saku mantelnya, ketika tak jauh dari tempat kakinya menjejak, beberapa ketukan tanpa irama terdengar jelas.
...
Dikiranya tempat ini sepi, tapi ternyata ada orang di balik pohon.
Dan entah sejak kapan ia memiliki rasa penasaran ke hal-hal tak penting yang tak harus diurusi macam begini.
Sudah dibilang Charlotte sedang kacau, jadi jangan naikkan satu alismu begitu ia menghampiri seorang Michael Renault Dominique begitu kelereng cokelat terangnya menangkap sosok anak laki-laki itu sedang memecah permukaan es danau hitam. Melangkah santai, yang dilakukan gadis itu hanya berdiri di samping pemuda itu dengan kedua tangan di saku mantel. Pandangannya yang lelah menyisir seluruh permukaan danau sejauh batas pandang. Diam sebentar, ia kemudian tersenyum kecut.
"Mau mencoba cari masalah denganku agar aku dikeluarkan dari sekolah ini?" ujarnya tanpa melirik, berharap pemuda di sampingnya sadar siapa yang Charlotte sedang ajak bicara.
Slytherin—siapa lagi yang bisa diajak bernegosiasi kalau bukan teman sekampung?