Sabtu, 26 September 2009 09.23
Transfigurasi Kelas 2 / I
Ada tahun pertama. Ketika Charlotte telah benar-benar memahami apa arti harfiah dari Transfigurasi : mengubah suatu bentuk ke bentuk lain sehingga beralih fungsi; dan dengan baik dapat mempraktekkan bagaimana caranya mengubah tisu menjadi perkamen atau korek api menjadi jarum. Ini sudah tahun kedua, satu langkah lebih maju dari umurnya yang dulu sebelas; dan bagai de javu, lagi-lagi pelajaran Transfigurasi adalah yang pertama di minggu kedua, beberapa hari setelah kelas terbang.
Dan kini, hari ini, detik ini, pelajaran Transfigurasi kelas 2 akan segera dimulai. Di hari yang cerah di penghujung musim panas, tepat ketika Profesor McGonagall menyampaikan sapaannya.
Selamat pagi anak-anak, hari yang cerah untuk memulai pelajaran Transfigurasi―'
Buk'
Satu debam kecil juga halus menandai sampul yang tertutup. Jalinan kalimat-kalimat ramping yang sejak tadi menghiasi layar kemudian turun jangkar, berganti merah marun yang di atasnya tulisan 'Pengantar Transfigurasi bagi Pemula' sewarna emas tercetak jelas. Lalu di bawahnya, nama
Emeric Switc sebagai pengarang tak kalah mentereng. Emeric Switch sebenarnya, hanya saja di atas huruf 'h' paling akhir, segaris tulang terbalut daging menghalangi. Sebuah jari, lentik milik seorang gadis. Yang sedari tadi menopang kepalanya dengan tangan, sementara manik coklat terangnya menyisir buku, rambutnya yang coklat emas terurai jatuh ke bawah. Namanya Charlotte. Charlotte Demelza Ryan―panggil saja Charlotte.
Halo, Charlotte.Dua alisnya yang terangkat pertanda ia sadar bahwa kelas akan dimulai. Jadi ia kini menutup buku dan bangun, meluruskan tangannya yang sedikit kesemutan sebelum menegakkan punggung untuk menatap ke depan. Hari ini Transfigurasi,
Animate to Inanimate―mengubah benda hidup ke benda mati. Beberapa menit pertawa diawali dengan ceramah dah penjelasan singkat, sebelum mereka akhirnya dihadapkan dengan seekor tikus yang harus dimantrai menjadi cangkir. Tikus, yang bulunya coklat, dan matanya besar sedang menggaruk-garuk kandang di depannya.
Merlin, tikusnya betulan. Dan dia muncul begitu saja.
Charlotte mengernyit jijik
―sedikit. Refleksnya yang bagus membuat gadis itu sontak berdiri hingga tempurung lututnya membentur meja cukup keras.
'Duk' lalu
'Aww' tertahan, dan kini ia benar-benar kesakitan. Berlebihan memang, tapi ayolah, siapa yang tidak setuju kalau tikus itu benar-benar binatan yang sangat tidak menyenangkan? Apalagi yang ini ukurannya besar, dengan bulu-bulunya yang runcing mencuat tajam, dan ekornya yang seperti cacing pita dalam perut babi. Eugh...
Tidak bisakah... tidak bisakah mereka memakai sesuatu yang lebih lucu dan berbulu lembut macam...
kelinci?...
Oke, lupakan. Lebih menyayat hati jika itu kelinci ketika melihatnya berubah menjadi cangkir―atau gelas duduk atau apapun itu.
Ia berdeham pelan, menggulung lengan jubah dan kemejanya sebatas siku. Dengan tongkat tergenggam mantap dan tepat teracung, juga konsentrasi penuh, kecil kemungkinan mantranya akan gagal. Mungkin. Tapi pengalaman pertama berbicara, yang diperlukannya kini hanya ayunan tongkat dan pembuktian. Ekor mata gadis itu menyipit sedikit, lalu satu sentakan―
"Vera verto,"
―diikuti langkah seribu, cicit panik yang berubah lengkingan panjang, ekor menghilang, tubuh menyusut, naik ke atas, dan―plop!―sebuah cangkir emas murni melahap habis tikus coklat yang sayangnya, tak berdaya tadi. Kemudian ada lengkungan puas, begitu wajah itu perlahan mendekat dengan waswas, tapi lalu tergantikan oleh gurat kecewa. Ketika ternyata... cangkirnya...
...punya hidung yang mengendus.
Sigh.