Sabtu, 26 September 2009 09.19
Again and again and again / I
Mama bilang, '
Charlotte, jadilah anak baik di Hogwarts. Mama percaya padamu.' Kenyataannya banyak masalah yang telah ia timbulkan hingga detik ini.
Lalu giliran Gabriele menasihati,
'Charlotte, jaga kehormatan keluarga Bontade di sana,' Pertanyaannya : kapan ia menyandang nama Bontade di belakang namanya?
Dan Guiseppe dengan cemas berkata,
'Nona, jaga dirimu baik-baik,' Tak ada yang menjamin, kehidupan ini terlalu keras,
sayang. Meski sekolahmu berasrama dan dibatasi dengan selubung sihir dari ujung Danau Hitam sampai ke tribun paling atas Lapangan Quidditch.
Bahkan dulu cairan paling kuat yang pernah diminumnya hanya sebatas
Pharisäer yang dicampur rum; diminum petang menjelang malam bersama
Rehrücken—
spoge cake cokelat besar yang bentuknya seperti punggung rusa, diisi selai aprikot dan ditaburi almond—empat sampai lima kali selama seminggu. Lalu merambah ke cocktail; yang dicampur beer, brandy, cachaça, gin, rum, sake, tequila, bahkan vodka. Tapi tak pernah lebih dari itu. Sebatas campuran yang perbandingannya satu banding sepuluh dan tidak membuat mabuk sampai akalmu hilang.
Ada batas-batas kasat mata. Yang dipasang di sekeliling tubuhnya oleh mendiang Papa, Mama, Gabriele bahkan Guiseppe, tentang tuntutan bahwa ia harus menjadi seorang gadis
baik-baik sesuai standar mereka. Tidak merusak diri sendiri sebelum waktunya—setidaknya agar Charlotte tidak mati mengenaskan dalam usia muda dengan tubuh rusak. Gadis itu dijaga dan diperhatikan, seperti boneka hiasan dari porselen yang permukaannya rapuh. Dinastihati lalu diberi petunjuk-petunjuk tentang bagaimana seharusnya bersikap. Tapi siapa tahu? Hogwarts mereka agung-agungkan sebagai tempat aman dibanding 'kehidupan lain' mereka yang berbahaya ternyata lebih rusak dari apa yang mereka kira? Kepribadiannya yang telah tertata sedemikian rupa mulai keropos sedikit demi sedikit, dan kini gadis itu mulai menjadi pecandu.
Brengsek.
Menekankan punggungnya pada batang pohon yang berbonggol, Charlotte Demelza Ryan kemudian mengedarkan manik coklat terangnya pada sekitar selama beberapa saat. Kali ini tempatnya bersembunyi di balik sebatang pohon dan di depan sebuah batu semi-raksasa, berdiri dengan tanggung sementara angin mengaburkan rambutnya ke segala arah. Di depannya ada danau, yang permukaannya berdesir halus terbuai udara yang bergerak. Charlotte baru datang, tentu saja. Dan tanpa alasan jelas lagi-lagi mencari tempat sepi untuk melakukan hal
itu.
Terkutuklah Sebastian Harvey Joseph yang mencekokinya pertama kali. Dalam sekejap batang coklat muda ramping itu terpilin ragu di antara telunjuk dan jari tengahnya, menunggu untuk dinyalakan. Tapi kalau begini terus akan jadi apa nantinya gadis itu?
Ngomong-ngomong ini musim gugur. Hanya ketika awal-awal saja daun-daun belum berguguran; baru mulai menguning di pucuk-pucuknya.