Sabtu, 26 September 2009 09.19
Again and again and again / III
Tempat ini mungkin sudah beralih fungsi menjadi sebuah teater. Ketika pemeran-pemeran lain menyusup dari balik tirai dan berimprovisasi dengan dialog yang mereka ciptakan sendiri, membuat bingung sang pemeran yang tadinya tunggal menjadi ganda lalu berkembang biak semakin banyak. Panggung ini asalnya milik sendiri, sarana apresiasi yang disampaikan lewat pertunjukan solo tanpa judul, tanpa sutradara, tanpa penonton, dan tanpa batas waktu. Lalu ketika pemain mendadak beranak, jangan heran jika pentas ini menjadi pertunjukan autis tanpa alur apalagi klimaks yang jelas.
Lagipula, dari mana mereka datang? Dan untuk apa?
“Perlu kutemani?”Sosok di balik batang pohon lalu menjawab 'halo?' yang ia lontarkan tadi, lagi-lagi tak lebih dari satu-dua patah kata dalam nada muram. Dua alis coklat emas Charlotte kemudian terangkat, dan semuanya nampak jelas—setidaknya menurut persepsi pribadinya. Pemuda itu...
mau ini juga? (menatap Davidoff di tangan) Atau apa dia terlihat seperti gadis murahan yang kesepian? Hidupnya memang keras, tuan, latar belakangnya memang kotor. Mungkin Charlotte dan prasangka buruknya memang berlebihan; tapi pengalaman menceritakan, kalau orang-orang yang berotasi di sekelilingnya memang tidak baik-baik. Ayahnya saja brengsek, juga ibunya, apalagi percampuran antara keduanya?
Busuk? Bisa jadi. Ia rusak sejak awal, dan mungkin itu juga yang menjadi alasan orang-orang menjaga jarak beberapa meter jauhnya dari gadis itu. Mereka anak baik-baik dan suci yang tak mau tertular—yayaya.
Charlotte melengkungkan senyumnya samar, kali ini masam dan kecut. Menelengkan kepalanya sedikit, dirasakannya serpihan kulit kayu menekan garis pipinya yang mulus. Sakit... tapi sedikit. Rasa penasarannya akan sosok di balik batang pohon yang kini ia sandari begitu kuat, namun begitu juga dengan ketakutannya akan sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan. Ibunya atau Gabriele atau bahkan Guiseppe mungkin sama sekali bukan sosok yang membuatnya penasaran sedemikian rupa, tapi banyak sosok-sosok tak terduga lain berputar-putar dalam kepala. Tapi siapa?
"Apa yang kau mau?" ia balas berbisik, satu sudut matanya menyipit kecil. Uang? Beberapa bantuan untuk melenyapkan orang? Minat orang selalu tak lebih dari itu kan? Apalagi mengingat keluarganya klan mafia dari sebrang pulau, kau minta jagung tak akan mungkin diberi.
Sosok itu belum menjawab. Tapi—
"Sore,"
"Sverre. Salam kenal,"dan
"Accio"—sontak membuat gadis itu gelagapan. Siapa yang menyapa 'sore', siapa itu Sverre, dan siapa yang mengucapkan mantra? (tertegun sebentar) Lalu yang mengambil Davidoffnya?
Danaunya-indah-ngomong-ngomong.
"Nih."Charlotte mendongak, menatap kosong selama beberapa saat sesosok lain suara yang tanpa basa-basi berdiri di depannya menyodorkan rokok. Dua pertanyaan dan satu kemungkinan mendadak berkelebat dalam benak : 1. Siapa orang itu?; 2. Apa yang sedang dia lakukan; 1. Rokok yang sudah berpindah tangan dengan tidak wajar tak lagi aman untuk dikonsumsi—siapa yang tahu apa yang pemuda asing itu lakukan pada rokoknya beberapa waktu rokok itu tak di tangannya tadi?
Lagi-lagi prasangka buruk. Pada pemuda enam atau tujuh belas tahun yang berdiri di depannya.
Kelopak mata Charlotte lalu mengerjap beberapa kali, sebelum kepalanya turun kembali menatap lurus. Ia menekuk kedua lututnya ke dalam, lalu memeluknya. "Untukmu saja," katanya sambil tersenyum tipis tanpa arti. Dagunya menempel ke lutut. Ngomong-ngomong—
"Charlotte. Senang bertukar sapa denganmu," ujarnya, pandangannya lurus ke depan.
Denganmu—dengan siapa? Dengan angin? Dengan daun?