Sabtu, 26 September 2009 09.20
Fallacious / II
Lalu semuanya terjadi begitu saja; seperti hembusan angin, juga aliran air, atau berkas-berkas sinar matahari. Alami. Tak pernah ada alasan yang bisa dijelaskan tentang mengapa Charlotte akhir-akhir ini selalu memutuskan untuk merokok, karena seperti alam, proses itu terjadinya tak disadari. Terkadang, tahu-tahu kedua kaki gadis itu sudah membawa tubuhnya mencari tempat sepi, lalu tangannya merogoh-rogoh saku dan mengepit batang ramping itu di kedua jari, lalu—bum! Seluruh udara tiba-tiba saja dipenuhi asap. Apa yang terjadi? Kau bisa simpulkan sendiri. Charlotte kini sudah mulai terbiasa; bahkan saking biasanya kini ia sudah tak batuk-batuk lagi begitu tar dan nikotin yang terkandung masuk dan meracuni tubuhnya sedikit demi sedikit.
Tuhan memberkati
Sebastian Harvey Joseph yang memberinya Davidoff pertama kali, semoga dia diberi ketenangan di neraka sana setelah mati.
Sakrasm. Kenyataannya, Charlotte membenci Sebastian dalam hal ketergantungannya pada rokok. Taruhan seratu Galleon, pemuda itu pasti sedang menertawakan begitu puas surat yang Charlotte kirim beberapa hari lalu. Nasi telah menjadi bubur, jam pasirnya tidak dapat dibalikkan lagi.
Charlotte lalu menghela nafas. Menekuk kedua kakinya yang terjulur untuk kemudian memeluk lutut. Davidoff di tangannya habis seperempat, ujungnya yang terbakar melayangkan asap tipis yang naik terus ke atas. Masih tak habis pikir, yang dilakukan gadis itu kemudian hanya manggut-manggut menanggapi apa yang dibicarakan bocah bernama Bradley Crook. Sekali-kali dihisapnya Davidoff di tangan hingga habis setengah. Sementara pandangannya lurus ke depan, dagunya yang lancip bertengger manis di atas lutut.
"Di tempatku senjata lebih penting daripada makanan. Kau pernah coba makan senjata, Crook?" ucapnya asal, sudut bibirnya tertarik sedikit membentuk senyuman. Kepalanya dimiringkan; pertama fokus ke arah Crook, lalu mengawang lurus ke langit. Matahari di sebelah sana mulai merangkak sedikit demi sedikit, ke balik bayang-bayang pepohonan sebelum tenggelam. Dan di sekitarnya, sapuan merah-oranye perlahan berubah biru gelap.
Senja ini begitu damai untuk dilewatkan, pikirnya. Selain karena otaknya benar-benar tanpa beban, di sampingnya ada seseorang untuk diajak bicara. Mungkin ia dan Crook memang baru mengenal, tapi anak ini tak terlihat seperti seorang cerewet yang membocorkan rahasia ke mana-mana seperti tanggul bocor. Awalnya begitu, sebelum mendadak sebuah suara seolah mendadak turun dari langit bagai wahyu mengancam mereka dengan detensi.
Tequilla Sirius....
Terpujilah Merlin, bahkan Charlotte tak menggerakkan kepalanya barang sesenti. Yang ia lakukan hanya mengatupkan kelopak matanya sebentar, sebelum manik coklat terang di baliknya berputar malas dalam rongganya. Munafik nomor dua, Mister Prefek dari Slytherin;
please welcome to our community. Mana tepuk tangannya?
"Say, prefek, apa ada media pelepas stress selain pacaran di Hogwarts?""Aku tidak yakin pacaran bisa melepas stress," selanya sambil mematikan puntung rokok yang sudah habis. Ia kemudian bangun, sekedar untuk meluruskan kembali kaki punggung dan lehernya yang kelewat pegal. Rokoknya dimatikan, abunya yang memerciki jubah dan kemeja ia halau. Sekejap, manik coklat terangnya menatap tajam Tequilla Sirius sebelum sebuah tepukan kembali mengalihkannya. Membuat kepala gadis itu menengadah.
Adyasa Devindra, yang senyum dan sapaannya Charlotte balas sekedar dengan anggukan.
Mau coba?”Tapi ketika sebuah tawaran diajukan dan sebuah botol disodorkan, mau tak mau kedua alis sempurna gadis itu naik keheranan. Satu pertanyaan : apa isi botol itu?
"Charlotte, jangan terima apapun yang mencurigakan dari orang tak dikenal. Nanti kau diculik—""Apa itu?" tanyanya, hanya memastikan cairan di dalamnya bukan kencing Unicorn yang difermentasi dan diberi syrup. Ingat Charlotte, kata Gabriele,
nanti kau diculik.