Sabtu, 26 September 2009 09.16
Pesta Awal Tahun Ajaran / V
Meja Slytherin"Ah, bisa kau bantu para Prefek dan Fenrir untuk menjaga teman-temanmu...?"Maksudnya bukan begini. Ini semua tak ada maksud apa-apa selain bantuan kecil yang cukup dilupakan sebelum gadis itu akhirnya pergi. Kenapa Charlotte jadi disuruh-suruh? Meski hanya
menjaga, bukahkah ada lima Prefek dan satu Ketua Murid di sini—tidakkah itu cukup? Satu kata
menjaga bukan frasa yang mudah untuk diaplikasikan, Tuan. Apalagi di sini ia berperan sebagai makhluk gaib yang transparan dan tak terlihat—sangat riskan baginya untuk berinteraksi dengan orang lain, karena tak ada satupun yang akan menyadari. Pengalaman setahun ini berbicara,
opaquenya tak lebih dari sekian persen kurang dari dua digit. Orang ini yakin menyuruh Charlotte?
Satu alis gadis itu naik sebelah, mengedarkan pandangan ke sekitar begitu Kristobal Morcerf melanjutkan kata-katanya tentang betapa dia tahu bahwa Charlotte gadis yang
baik dan atasi dengan cara yang menurutnya cocok jika ada yang bertingkah.
...
Memangnya ada yang bertingkah?
Oh
well, jujur jika dikatakan Charlotte begitu tak peka terhadap sekitar, gadis itu tak akan mengelak, karena memang itulah yang sejak tadi ditekuninya. Hanya makan lalu pergi, ia tak ada urusan lain di tempat ini. Matanya dibutakan dan telinganya ia tulikan dengan sengaja—hatinya? Toh sudah membeku sejak lama, bahkan jauh sebelum ia memasuki Hogwarts. Sejak ayahnya mati, mungkin? Tapi kini kelopak itu mulai mengerjap dan semuanya sedikit tampak lebih jelas. Lamat-lamat, disadarinya ada seorang anak berparas Asia membawa benda aneh yang menguarkan bau busuk dan satu orang lagi yang sedang mengoceh. Dua-duanya—Gryffindor, eh?
Apa yang mereka lakukan di sini? ia bertanya dalam hati. Tapi kemudian paham akan apa yang terjadi begitu manik coklat pekatnya mengarah ke meja para singa di sebrang sana.
Inginnya
sih, mengangguk karena mafhum; tapi hanya satu sudut bibirnya yang tertarik kecut sementara pandangannya menyorot dua singa nyasar kandang dengan tatapan prihatin seprihatin-prihatinnya. Gryffindor... prefeknya saja berulah bagaimana muridnya bisa dididik dengan benar?
Kampungan—keberanian mereka terlalu memuncak hingga membuat muka mereka tebal dan tak mempan penolakan ternyata.
Hm... hm...
Charlotte menghela nafas panjang, seiring bola mata coklat terangnya yang berputar dalam rongga. Mendengar selewat-selewat saja begitu si anak dari Gryffindor—Linchestan namanya, si penjual bunga di hari Valentine—mengoceh panjang lebar tentang betapa-baiknya-Asgar-membawakan-mereka-hadiah (lagipula siapa itu Asgar?), pengrusakan-inventaris-sekolah dan bab-dua-pasal-tigabelas-tentang-blahblahblah. Lalu dia menggerecoki Tequilla Sirius. Dan Wilmer Pixies—dua Prefek baru mereka.
Astaga... Charlotte tak habis pikir deh. Kalau mau memberi hadiah, kenapa tidak di meja mereka saja? Kalau mau menggerecoki Prefek—dia kira Prefek mereka sudah bertingkah dengan layak? Lihat Jose Dawne yang kelakuannya begitu jauh dari manusia beradab! Apa Dawne yang sebegitu besar tak terlihat di mata Linchestan?
Sudut bibir Charlotte lagi-lagi tertarik membentuk senyum ambigu. Gadis itu kini mulai membetulkan rambut coklat emasnya dengan bosan. Ia menghela nafas sekali lagi, kemudian berjalan lambat-lambat mendekati Linchestain yang masih bercuit-cuit. Dirangkulnya bahu gadis itu dengan lembut, lalu tangannya menyentak sedikit keras, membalikkan tubuh gadis itu ke arah Meja Gryffindor dengan sedikit paksa. Urusan apakah Linchestan menolak atau kesakitan bukan bagiannya, ia hanya melaksanakan amanat Kristobal Morcerf untuk
mengatasi teman-temannya yang sedikit
nakal.
Gadis itu lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Linchestain, sebelum berbisik—
"Buka mata dan lihat betapa urakannya meja asramamu, Linchestain. Pergi dan berkhutbahlah di sana. Bawa temanmu, dan tak akan ada lagi kerusuhah,
rite?" (mengusap pelan ujung rambut hitam legam Linchestain) "
Would you, Linchestain?"
Dan itu berarti perintah.