Sabtu, 26 September 2009 09.22
COLUMBINE / III
Plastik mawar di tangannya mendadak berat; tapi kini, langkahnya bahkan seringan kapas.
Pertemuan ini tak disengaja, tentu. Dan sapaannya tadi tak lebih dari sekedar basa-basi. Satu atau dua kata, lalu ia akan pergi. Angin timur berhembus ke timur, angin barat tak pernah ke utara—meski di tengah jalan mereka akan beradu, namun lintasan mereka milik sendiri. Satu pertanyaan tentang apa itu Columbine membelokkan alurnya yang sudah terpeta dan jika ada yang terganggu, itu jelas bukan salahnya. Apa itu Columbine? Siapa yang peduli—bahkan jika itu
memang peradaban kuno bawah laut yang tertimbun semen vulkanik dan mengeras selama berjuta-juta tahun di tengah samudra.
Mereka penuh sandiwara. Dan topeng-topeng mereka terpasang lekat seolah menyatu dengan kulit wajah. Dylan Klebold, juga Charlotte Demelza Ryan.
"Jadi itu apa? Dari pacarmu?"Satu lagi pertanyaan basi. Charlotte tersenyum tipis, menunduk untuk sekedar mengelus mahkota-mahkota mawarnya dengan punggung telunjuk. Tak berniat sedikit pun membalas pertanyaan klise dari Dylan. Lelah, muak, tak ada minat untuk berdebat—dan sepertinya bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu, hm? Ada yang bilang bahwa Slytherin itu
selfish, dan karenanya mereka tak suka jika diganggu.
"Kau kira apa?" Sepertinya Charlotte memang harus pergi.
"Kukira? Kukira apa ya..." jawabnya, nada bicara gadis itu bergelombang dipenuhi dengan sindiran. "Kukira aku sudah mengganggu acaramu. Nih, untukmu saja," lanjutnya lagi, menjatuhkan pelan plastik mawarnya begitu saja ke atas tanah, dekat segerombolan Aster pucat warna ungu yang petaknya tak jauh dari mereka.
"See ya,
tuan kebun," ia tersenyum, melambaikan tangan; sebelum berbalik—
—dan langkahnya yang ringan tersapu angin.