Sabtu, 26 September 2009 09.19
Again and again and again / II
Tuk Tuk Tuk. Seekor burung gereja mematuk-matuk dahan di atas kepala cepat, menggugurkan beberapa helai daun rapuh kekuningan ke atas helai-helai coklat emas terurai milik Charlotte. Sejenak gadis itu mengalihkan fokusnya dari batang ramping yang sedari tadi dipelototinya dalam-dalam, menghalau kepalanya lembut dengan tangan lain yang bebas. Daunnya turun ke bahu, kemudian tertiup angin dan tiba di tanah—statusnya mendadak berubah menjadi tak perlu diperdulikan. Sebentar lagi musim gugur masuk ke tengah, teman-teman si daun akan menyusul turun ke bawah dan mereka akan bercampur, tertimbun tanah dan terurai bakteri. Lalu mereka menjadi kompos, menggemburkan dan memberi nutrisi bagi pucuk-pucuk baru yang akan muncul di dua musim mendatang.
Kesampingkan soal daun, kembali ke persoalan apakah dia akan menghirup asap hasil pembakaran benda yang kini ada di tangannya lagi atau tidak.
Pilihannya hanya dua : ya, atau tidak. Jika ya, tak akan ada yang jamin berapa waktu lagi yang akan Charlotte habiskan di tempat ini maupun tempat tersembunyi lain; tapi jika tidak, semuanya sudah sangat tanggung dan di depan mata. Apa susahnya? Keluarkan pemantikmu dan bakar, lalu sesap beberapa kali dan tak akan ada yang memberi tahu siapapun keluarganya jauh di Waterloo sana. Tapi siklus itu berulang,
sayang. Dan kita tak bicara soal reinkarnasi. Tapi diameter roda tak pernah berubah kan? Di putaran kedua, ketiga dan keempat, kau tanpa sadar akan berdiri di tempat yang sama, melakukan hal yang sama, dan bersama orang-orang yang sama. Dan mungkin di putaran ke-sekian kau akan mendapati seseorang memergokimu?
Merry go round and round and round.
“Halo?”Tapi siapa sangka di putaran pertama sudah ada yang memergokinya? Charlotte mendadak terpaku, mendudukkan diri di atas batu yang sedari tadi berada di belakang kakinya dengan cepat. Punggungnya masih menempel dengan batang dan wajahnya tak berani menoleh. Bagaimana jika yang menyapanya tadi Prefek? Atau Profesor? Severus Snape? Tequilla Sirius tidak akan menawarkan lolos dengan sebatang rokok untuk kedua kali. Tapi
halo?Halo?
"Halo?" nadanya bagai gema, hanya kini lebih lembut khas suara anak wanita. Mungkin orang ini bukan Prefek atau Profesor, tapi siapa? Halo? Charlotte penasaran, tapi enggan sama sekali untuk menoleh.
“Menikmati angin?”"Hm? Tidak,"
Sok tahu—alisnya naik satu. Bahkan untuk suara lain yang menyela kemudian, ia masih menatap lurus ke depan. Ke derai ombak kecil di permukaan Danau Hitam.
Ah ada burung hantu lewat.