Sabtu, 26 September 2009 09.22
COLUMBINE / II
"Sore, Charlotte."Itu—ada gema di situ. Ketika sapaannya dibalas serupa, dengan irama yang senada. Ada sedikit perubahan sebagai pemanis yang diletakkan di akhir; sebagai pertanda bahwa kalimat itu merupakan balasan. Terlontar lebih berat dari bibir pemuda jangkung di sebelah sana, yang jubah sekolahnya masih melekat dan kemejanya masih terkancing penuh sampai ke pergelangan tangan. Bahkan dasinya masih terpasang—karena pelajaran memang baru berakhir tak lebih dari satu atau dua jam lalu. Betul-betul mengherankan melihat pemuda itu sudah ada di sini dalam waktu cepat.
"Jadi kau berminat pada botani? Kau tahu Columbine?"Satu alisnya naik sebelah, dan kakinya perlahan berjalan mendekat. Meletakkan plastik bunganya di pelukan, benaknya masih bertanya-tanya tentang apa itu Columbine.
Columbine—nama bunga? Atau apa? Tapi kalau si-Columbine itu dicari di tempat ini berarti—pandangannya menyisir sekitar, tahu-tahu sesuatu yang mengantuk kakinya menandakan bahwa gadis itu sudah
sampai. Kepalanya terangkat sedikit, kakinya mundur dua langkah dan Dylan Klebold hanya beberapa meter di kanannya.
"Botani? Aku tidak selemah itu untuk menekuni sesuatu yang bisa dipetik dengan jari." lagi-lagi senyumnya tanpa arti, "Apa itu Columbine? Peradaban yang terkubur?"
Ia kira, itu sejenis
Pompeii.