Sabtu, 26 September 2009 09.21
COLUMBINE / I
"—memangnya kau pergi ke mana sih?"Satu pertanyaan merajuk; andai Charlotte tak ingat siapa si pengirim surat yang kini tersimpan apik di saku jubahnya, mungkin kini gadis itu masih berdiri di Kandang Burung hantu dengan segulung perkamen yang siap ditulisi. Mungkin ia akan duduk di atas tumpukan jerami, menceritakan setiap detil pengalamannya tentang betapa janggalnya kehidupannya kini dengan sihir, sekolahnya, pelajaran-pelajarannya—atau mungkin juga perasaannya. Yang bosan sampai muak setiap kali ia harus membawa kaki sendirian ke berbagai tempat, atau pusing sampai rasanya ingin pingsan begitu masalah-masalah yang tak pernah ia duga tersaji begitu saja tanpa dipesan.
—Sebast.Namun satu nama yang tertera di akhir surat entah mengapa membuat minatnya langsung meruap begitu saja. Menyusupkan lembaran kertas dengan amplop penyampai pesan ke dalam saku. Sudut bibirnya tertarik kecut begitu melihat seplastik 'oleh-oleh' yang dibawa bersama pesanan. Setangkai...
mawar merah? Hal yang tidak asing dikirim oleh orang penuh maksud seperti Sebastian. Tapi dengan tanah dan pot? Sejak kapan laki-laki itu jadi ahli botani?
"Aku baru tahu kalau ternyata semua laki-laki memang suka berkebun," Ia (yang sedari tadi berjalan meninggalkan menara) berhenti, mengerling sosok di depannya di antara petak-petak bunga yang memenuhi kebun. Lalu ke plastik mawar yang ia jinjing, sudut bibir Charlotte lagi-lagi mengulas senyum. Formal. "Sore,
Dylan,"