Sabtu, 26 September 2009 09.17
Fallacious / I
"Nah, pelajaran selesai,"Ledak celotehan, gumaman, gelak tawa, ujung buku yang beradu dengan kayu, dan geser bokong botol tinta yang bersinggungan dengan meja, batuk pelan atau bersin yang tak disengaja, resleting yang ditutup, jubah yang dikibaskan, derap langkah massal—semua bunyi-bunyian yang mendadak saja menguar bagai dikail tali pancingan begitu kalimat terakhir Profesor Sprout diucapkan. Lalu mereka berpadu, melayang-layang dan memenuhi udara, saling menyahut dan diakhiri dengan cantik oleh debam pintu yang tertutup. Kaca yang terkungkung di sela-sela kusennya bergetar sebentar—menciptakan bunyi baru yang samar—namun setelah itu tak ada lagi.
Gerombolan yang semula memenuhi kelas itu berbondong-bondong melintasi halaman menuju kastil. Dengkur beberapa burung merpati menemani mereka—menyalip di antara beberapa celotehan ringan sore hari. Sosok-sosok itu tampak seperti bayangan, terbias sinar teduh matahari semi-oranye. Jika ditilik, satu sosok lebih pendek dan tambun yang berjalan di depan menandakan Profesor Sprout, enam atau tujuh barisan lain di belakang adalah murid-murid kelas dua Slytherin, berbaris membentuk koloni, kecuali satu yang di belakang berjalan bagaikan polip. Ada jeda antara sosok itu dan baris orang-orang di depannya, namun sepertinya ia tak merasa terganggu sama sekali.
Yang di belakang itu, seorang gadis. Rambutnya coklat emas jatuh ke bahu, dan di tangannya terdekap buku tebal bertajuk Herbologi. Matanya coklat terang, menatap bosan ke punggung-entah-siapa di depannya, ke rambut orang itu yang bergoyang, sebelum ke kiri dan ke kanan meskipun kakinya masih tetap melangkah sehingga jarak antaranya dan gerombolan di depannya tetap sama. Beberapa waktu, gadis itu terus begitu. Sampai ketika pemandangan di kirinya berubah jarang, jarak antara gadis itu dan teman-teman seangkatannya makin besar dan besar dan besar—kedua kaki sang gadis menjejak diam di tanah, satu sampai dua detik, sebelum kembali melangkah menyalahi jalur.
Nama gadis itu?—
Charlotte Demelza Ryan.
Ia berhenti, setelah langkah-langkahnya yang dilambat-lambatkan, kemudian menyusupkan tangannya ke saku mantel. Bola matanya bergulir sesaat dalam rongganya—memperhatikan detail tempat ini sejauh sudut pandangnya dapat meraih, sebelum kemudian menutupnya di balik kelopak dalam sekali pejam. Satu helaan panjang dan dalam berhasil mengganti karbon dioksida di paru-parunya menjadi oksigen. Lalu helaan nafas yang kedua, ketiga, dan kelopak matanya kembali membuka.
Menyajikan begitu saja pemandangan Dedalu Perkasa sedang menyapu udara dengan ranting-rantingnya yang berbonggol—sedikit hiburan bagi Charlotte yang memang belum pernah menghabiskan waktunya di tempat ini. Ini kali pertama, entah godaan apa yang mampir hingga menariknya sedemikian rupa; ada aura tersendiri dari tempat ini. Hal mistis yang ditangkapnya pakai hati.
Dan ternyata tempat ini menyenangkan juga. Banyak hal-hal tak terduga berputar di dalamnya. Seperti ternyata entah mengapa tak ada pohon lain di sekitar Dedalu meski Beech sekalipun (masuk akal juga mengingat dahan pohon gigantisme ini meliar ke segala arah), atau dengan anehnya tempat ini memiliki lebih banyak batu dari yang lain, bisa juga entah karena apa sepasang muda-mudi mendadak keluar dari balik pepohonan dengan tampang kesal, dan ada asap keputihan melayang-layang di udara dari balik pepohonan yang sama.
...
Asap?
Manik Charlotte memicing, seiring langkahnya yang semakin mendekat (padahal biasanya ia tak pernah sepeduli ini pada koloid macam asap), mencurigai terjadinya kebakaran, rasa penasarannya semakin terpicu. Langkahnya hati-hati, dan hidungnya mengendus waspada. Dahinya berkerut, ketika entah mengapa bau asap yang terbawa angin ini dikenalnya.
Ini—
—apa ya?
Masih penasaran. Tapi lalu tiba-tiba saja sosok bocah lelaki sedang menyulut batang menjelaskan semuanya. Asap itu, aromanya,
Davidoff. Siapa yang tak bisa mengenali, jika bahkan liburan musim panas lalu kau dicekoki beberapa batang dan sisanya kini masih tersimpan dengan apik di saku jubahmu?
"Kalau kau mau berbagi tempat, tak akan kulaporkan pada sekolah," ujarnya tiba-tiba. Beringsut mendekati si bocah yang ternyata beremblem Slytherin—duduk di samping anak itu dan mulai meletakkan buku-bukunya di pangkuan. Satu batang pertama dengan cepat terapit di dua jarinya yang bebas, dan tak lama kemudian mengeluarkan asap yang ikut memenuhi udara—bercampur dengan asap yang diciptakan anak tadi. Satu hisapan, dan helaan nafas lain menghamburkan asapnya ke udara. Charlotte yang sedari tadi memandang lurus ke arah langit mendadak ingat bahwa anak itu masih ada di tempatnya dan langsung menoleh.
Sudut bibirnya mencuat membentuk senyuman—tanpa arti. "Kau Slytherin juga? Kenalkan, Charlotte." ujarnya asal, sekedar basa-basi.