Sabtu, 26 September 2009 08.53
Gerbong #2 : Kompartemen #02 / II
Kereta berderak sekali; Charlotte terhenyak dari lamunannya.
Kilasan-kilasan buram tentang masa lalu yang beberapa waktu barusan tersaji di benaknya mendadak saja buyar. Pandangannya yang sempat takfokus selama beberapa saat mendadak menajam, mengaburkan imaji-imaji maya yang membuatnya terbuai berkedok mengamati keadaan di luar. Kereta belum berjalan, hanya bergoyang sedikit. Tapi pintu kemudian terbuka dan seorang anak laki-laki dengan kucing masuk. Rambutnya hitam dengan tubuh tinggi menjulang—yang belum pernah Charlotte temui atau bahkan lihat sebelumnya. Meminta izin masuk bonus pemberitahuan bahwa kucingnya tidak galak.
Alis Charlotte terangkat dua, benaknya bertanya-tanya kapan dia bilang dia takut kucing.
Charlotte tidak takut kucing tentu saja, tapi ia juga tidak bisa begitu saja membiarkan laki-laki itu masuk ke kompartemen
nya. Maksudnya, meski ini jelas bukan kompartemen miliknya, tapi tidak bisakah dia memilih siapa-siapa saja yang boleh sekompartemen bersamanya? Bukan maksudnya Charlotte pilih kasih, tapi—
Belum sempat ia bicara, satu laki-laki lebih dewasa lain menyelinap masuk, kali ini rambutnya kecoklatan. Bertanya singkat, dia langsung membereskan kopernya, duduk dan tertidur. Charlotte mengerjap lambat, bulu matanya yang lentik bergerak-gerak cepat. Dan tiba-tiba saja sudah ada dua laki-laki hendak bergabung di kompartemen
nya—satu masih berdiri sementara satu sudah tidur bak di rumah sendiri. Padahal ia ingin sendiri.
Setidaknya bersama orang-orang yang dikenalnya.
Dahi gadis itu berkerut hebat, masih linglung karena efek dari lamunannya tadi, tidak ada kata yang sanggup dikeluarkannya. Ia hanya menatap sebal, melenguh pelan kemudian menyandarkan kepalanya ke jendela. Bayangan-bayangan tadi mau tak mau masih berbayang di benaknya, seolah menekan-nekan otaknya hingga kini rasanya kepala gadis itu mau pecah. Biarlah mereka sesuka hati, perasaan Charlotte rasanya aneh hari ini. Mungkin karena kehidupannya sebentar lagi akan berubah dan dia masih belum yakin akan keputusannya? Entahlah, yang pasti meninggalkan Ibu dan Guiseppe begitu saja bukan hal yang tak sulit. Sulit, sangat sulit sampai terus-menerus memikirkan hal itu membuat dadanya sesak.
“Charllote—nice to meet you again eh?”Tapi satu suara yang tak asing lagi di telinganya membuatnya menoleh, duduk tegak kemudian ketika menyadari Juutilainen duduk di sampingnya sejurus kemudian. Charlotte kembali mengulas senyum tipis, mengangguk kecil pada pemuda itu. "Ya, kebetulan sekali kita bertemu lagi," senyumnya, sementara manik coklat terangnya mengekor dua orang... diikuti satu orang lain yang tiba-tiba saja masuk dan duduk. Tanpa basa-basi, tapi setidaknya satu dari mereka pernah Charlotte temui di toko bunga. Fleur de Lys.
Laki-laki dengan rambut hitam tadi lalu pergi, tapi satu datang lagi dan basa-basi minta izin masuk. Padahal sejauh pandangan manik coklat terangnya kompartemen itu penuh. Lalu dia mau duduk di mana? Bodoh. Charlotte berdeham sekali, melirik anak itu penuh arti. "Maaf Tuan, tapi semua tempat di sini sudah terisi," katanya dengan nada khas yang tenang.
((Maaf Mr. Demos, tapi tempat ini penuh. Saya, Alviss Croe Rhouzier, Karl L. Juutilainen, Eduardo C. Dawne, Marcell Henry Dubonnet, Call H. Sanders. Enam orang))