Sabtu, 26 September 2009 08.50
Which One / II
Cukup menggelikan mengetahui bagaimana Charlotte bisa setertarik ini pada keempat asrama di Hogwarts. Bukan bagaimana bangunan sekolah itu yang berupa kastil, atapnya yang disebut-sebut bagai disihir, dan tangga-tangganya yang berpindah sesuka hati—detil-detil macam itu malah tidak terlalu menarik perhatiannya. Meskipun segala hal tentang sekolah itu benar-benar merupakan hal baru baginya, tak pernah ia menemukan asrama dikelompokkan berdasarkan sifat masing-masing individu. Lucu. Bagaimana membayangkan jika satu asrama dikhususkan bagi orang-orang bersifat busuk maka seluruh asrama itu akan berperangai busuk dan jika asrama lain dikhususkan bagi orang-orang polos maka seluruh asrama akan mudah ditipu. Suatu sistem yang entah mengapa tidak ia setujui sepenuhnya.
Keseimbangan apapun itu lebih baik daripada dominasi di satu pihak.
"Ehem.. Permisi teman. Sepertinya kursi itu kosong. Bolehkah saya bergabung di meja ini? Dari tadi tempat ini penuh dan saya bingung harus duduk dimana",Kedua alis gadis itu terangkat, lalu kemudian wajahnya. Manik coklat pekatnya menyorot seorang anak laki-laki berambut hitam sebayanya yang tiba-tiba saja duduk sambil menyapa sok ramah. Kedua bibir Charlotte tertarik hingga merah jambu itu menipis, juga ketika dua orang anak perempuan lagi datang, dan mereka bertiga terlibat obrolan dunia mereka. Dunia yang baru saja Charlotte coba pelajari dari buku, yang ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya. Tentang Quidditch, Slytherin, You-Know-Who—makhluk macam apa mereka? Dan apa yang salah dengan Slytherin? Mempunyai sedikit ambisi bukan hal yang buruk menurut Charlotte, orang tidak akan bisa sukses tanpa ambisi. Meski terkadang ambisi dengan jalan yang salah bisa mengakibatkan malapetaka.
Ingat ayahmu hm, Charlotte?Kau pikir siapa lagi sosok yang ia kenal begitu jauh selain ayahnya? Don Bontade—yang pabrik candunya sudah tersebar di banyak daerah di Italia dan jaringan penjualan senjatanya tak sebatas Santa Maria di Gesù. Dan semua itu didapat dengan ambisi, meski sayangnya sekarang ambisi yang terlalu meluap itu sendiri yang membunuhnya. Mati tertembak dalam mobil tertutup yang sedang melaju bukan hal umum meski pembunuhan sekali pun, tapi lain lagi jika yang membunuh adalah penembak kelas berat yang sudah terlatih.
Charlotte menghela nafasnya, mengalihkan pandangan kembali pada buku yang sempat dibacanya. Mengingat bagaimana ayahnya mati bukan topik yang nyaman meski untuk dipikirkan, membuat semua memori dan imaji itu kembali muncul menari-nari dan merusak sistem otaknya. Buktinya kepalanya pening sekarang, meski tidak ditunjukkan sedikit pun dengan raut wajahnya yang tetap khusyuk membaca buku. Berusaha mengacuhkan apapun yang sedang dibicarakan tiga orang di depannya, karena kenyataannya tidak ada satupun yang ia mengerti. Charlotte masih punya harga diri untuk tidak menunjukkan keawamannya pada orang-orang.
Jangan harap Charlotte merendahkan dirinya sepersekian derajat pun, lebih baik ia bekerja keras untuk mengetahui semua itu.
"Empat asrama Hogwarts, eh?"Tapi suara seorang anak laki-laki lain entah mengapa membuatnya menoleh. Laki-laki ini bukan yang menyapanya pertama tadi, tapi seorang lain dengan rambut coklat legam. Tanpa basa-basi entah-bertanya-entah-apa padanya tentang keempat asrama di Hogwarts. Air mukanya yang tidak seperti anak baik-baik (layaknya ketiga orang di depannya, sepertinya mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga-tanpa-masalah) entah mengapa membuatnya menarik tubuh, memicing tajam dengan tatapan semi-menilai. Manik coklat beningnya menatap lurus manik anak laki-laki itu, lalu tertawa tertahan; menyadari ada yang aneh dengan kedua mata si anak laki-laki. Entah itu hanya ilusi atau kenyataan, Charlotte tidak memperhatikannya lebih jauh.
Tubuhnya ia putar sekian derajat, condong ke arah anak itu meski tak kentara. "Apa yang kau ketahui tentang keempat asrama itu?" tanyanya, berusaha tidak terlalu kentara bahwa pengetahuannya hanya sebatas baris-baris kalimat yang tercetak di buku.