Sabtu, 26 September 2009 08.43
First Act : Introduction / I
Gusar—mungkin satu kata lima huruf itulah yang paling tepat melukiskan keadaan seorang Charlotte Demelza Ryan detik ini, begitu kaki mungilnya menapak di jalanan depan Leaky Cauldron (sebuah bar kumuh aneh yang katanya menjadi pintu masuk pusat perbelanjaan sihir). Berkali-kali gadis sebelas tahun itu mondar-mandir tak karuan di tepian jalan, berharap ada seseorang yang dikenalnya menyapa, namun setelah sekitar lima belas menit yang didapatnya malah tatapan heran dari orang-orang yang berpapasan. Ini baru pertama kalinya Charlotte ke tempat ini dan sialnya, dia sendirian. Kalau di Italia pengawalnya banyak, di Inggris dia bagai sebatang kara. Tidak ada yang mengenal keluarganya, mafia terkenal pemasok senjata; tapi justru itulah esensinya. Charlotte ingin dikenal sebagai anak biasa, menjalani kehidupan biasa, dan mendapat hal-hal layaknya orang biasa.
Meski kini ia sendiri tidak yakin, apakah mendapat undangan untuk bersekolah di sekolah sihir itu termasuk hal yang
biasa. Maksudnya—siapa yang percaya kalau sihir itu ada selain cerita-cerita penipu anak kecil dalam buku dongeng? Cerita-cerita yang hanya melambungkan imaji dan harapan anak-anak ingusan yang masih polos, mencekoki mereka dengan hal yang bahkan di luar nalar manusia. Tidak, dan begitu juga Charlotte, tapi itu sebelum dia menerima surat abnormal yang dikirim seekor burung hantu yang muncul dari kumpulan burung camar.
Benar-benar aneh, dan nampaknya keanehan itu berimbas pada gerak-gerik Charlotte beberapa hari ini. Siapa yang pernah melihat dirinya gusar sebelum ini? Kecuali saat hal mengerikan 'itu' terjadi pada ayahnya, kepribadiannya tetap tenang setenang biasanya dalam—mungkin—tiga tahun belakangan ini. Layaknya gadis-gadis kecil polos kebanyakan, yang memiliki hidup aman, damai, dan tentram kecuali ketakutan akan nilai-nilai mereka yang hancur lebur. Ia sendiri bahkan tidak percaya semua ini terjadi pada dirinya hanya karena sepucuk surat! Bukan—mungkin lebih pada kenyataan bahwa dunia sihir itu benar-benar ada, dan Charlotte baru mengetahuinya sekarang.
Kalau saja dari dulu...
bisakah ia melindungi ayahnya, dengan sihir, agar tetap hidup sampai detik ini?Gadis itu memekik pelan ketika seseorang menabrak bahunya, mengangguk pelan untuk meminta maaf sebelum kembali menatap pintu Leaky Cauldron cemas sambil menggigiti bibir bawahnya. Jantungnya berdegup kencang—tunggu, ini tidak benar! Ada apa denganmu Charlotte? Kenapa kau jadi gadis cengeng begini?! Ayahmu tidak pernah mengajarkan anak gadisnya untuk takut, dia selalu memerintahkanmu untuk tak gentar menghadapi apapun; apapun meski itu hal yang baru kau temui sekalipun. Kenapa sekarang—
—
yeah, tapi dia juga tidak pernah menceritakan apapun tentang sihir, bukan?Itu karena dia tidak tahu, Charlotte. Dan jangan pernah salahkan dia! Andai dia ada—oh oke, dia mengerti. Menggeleng pelan untuk meyakinkan diri, Charlotte akhirnya menatap mantap pintu kayu yang sudah reyot di depannya. Satu penyihir dengan jubah lusuh keluar, menatapnya heran sebelum menghilang ditelan kerumunan, meninggalkannya kembali sendiri berhadapan dengan pintu. Detik selanjutnya ia kemudian menghela nafas dalam, dengan langkah-langkah tegas yang pasti memasuki bar kumuh bernama Leaky Cauldron. Mantel bepergian coklat panjangnya terlihat sangat kontras di tengah lautan jubah.
Lalu beberapa detik berlalu lagi dan gadis berkulit putih itu sudah ada di tengah-tengah ruangan, berdiri terpaku sementara sorot matanya menyisir sekitar. Di tengah-tengah lautan anak sebaya lain dan orang dewasa yang berlalu lalang, Charlotte bagai menghalangi jalan. Dia harus mencari tempat duduk, tapi di mana? Lagi-lagi pandangannya menyisir, dan sama sekali tidak ada yang dikenalnya. Sang gadis kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku, sadar bahwa sudut matanya menangkap sosok seseorang yang sepertinya dikenalnya, ia kemudian berpaling. Dahinya berkerut sebentar sebelum langkah kakinya membawa gadis itu mendekat.
“Aku tidak bisa duduk semeja dengannya jika ia adalah Darah-Lumpur. Karena itu, kutanyakan status darahnya,”
“Kalau begitu—saya meminta maaf padamu nona, karena status darahku adalah pureblood.”Lalu menarik sebuah kursi dan duduk. Baru yakin bahwa anak laki-laki di depannya benar-benar Juutilainen setelah ia mengamati wajahnya dari dekat. Charlotte kemudian menyunggingkan senyum formal, sebelum mengerlingkan pandangannya pada seorang gadis yang sejak tadi bicara sambil berdiri. Tentang Pureblood dan Darah-Lumpur, sebelum kemudian duduk ketika orang-yang-sepertinya-dikenalnya menjawab bahwa dia Pureblood. Apa itu Pureblood? Darah-Lumpur? Kiasan dunia sihir, hm? Charlotte tidak boleh menunjukkan kalau dia tidak tahu, dan dia paling mahir berpura-pura. Buktinya bahkan dahinya tidak berkerut sedikit pun tanda orang kebingungan.
"Aku Darah-Lumpur sepertinya, dan kalau aku sudah terlanjur duduk di sini, kau akan mengusirku? Sayangnya aku tidak mau pindah, kecuali kau yang mau pindah karena tidak mau semeja denganku. Tapi karena tempat ini sudah penuh, kukira tidak ada pilihan bagimu kecuali kau mau duduk di lantai," tukasnya kemudian beralih pada Juutilainen. "Halo Juutilainen, hidup tenang?" dan menyapa—sapaan yang normal di
kalangan mereka.