Sabtu, 26 September 2009 08.28
Surat Tahun Pertama
Siapa orang di dunia ini yang menghitung sudah berapa hari ayahnya mati? Sudah dua tahun sekian bulan sejak 23 April 1981 dan memori itu masih tidak bisa ia lepaskan sedikit pun dari benaknya. Terpatri begitu jelas dan terulang sekian kali dalam sehari. Membuat gadis itu seringkali bermimpi buruk dalam tidurnya, terbayang kelebatan kejadian ketika ayahnya mati tertembak, dan itu jelas-jelas membuat tidurnya tak pernah bisa nyaman. Siapa yang bisa tidur nyenyak kalau yang terlihat di matamu hanya darah? Mayat, dan orang yang kau sayangi sudah tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan. Bahkan seringkali dadanya sesak karena indra penciumannya seolah mencium amis darah.
Cukup, Charlotte lelah meski sebenarnya tak ada yang bisa ia ubah. Dia bisa ikut-ikutan mati kalau begini caranya. Tidak adakah yang bisa mengalihkan perhatiannya? Sementara semua orang begitu sibuk tentang harta dan musuh, siapa yang peduli akan perasaan seorang gadis yang kehilangan ayahnya?
Angin bertiup cukup kencang ketika Charlotte sampai di atas batu karang favoritenya, dan dilihatnya ombak berdebur lebih kencang dari biasanya. Menyendiri di tepi laut merupakan kegiatan rutinnya sejak dua tahun lalu, entah perasaannya saja atau memang begitu, laut bisa membuatnya melupakan masalah untuk sejenak. Dan seperti waktu yang lalu-lalu juga, kini gadis itu duduk sambil memain-mainkan kakinya yang tercelup sedikit air laut. Matanya menatap kosong ke depan memperhatikan burung-burung yang mencari ikan, meratapi betapa nasibnya sungguh mengenaskan. Berlebihan memang, tapi kau akan berpikir seperti itu juga kalau yang kau inginkan hanya keluarga sederhana yang bahagia, dan betapa kau sangat mengidolakan ayahmu.
Itulah Charlotte Demelza Ryan, terlepas dari kenyataan bahwa ayahnya seorang mafia italia pemanen candu yang mati ditembak suruhan bos mafia italia lain ketika pulang dari pesta ulang tahun. Karena kenyataannya, yang baru dideskripsikan dengan mengenaskan tadi hanyalah gadis berumur delapan tahun. Sekarang sebelas. Yang bahkan belum mengerti bagaimana caranya memperlakukan orang dengan baik, dan kini sudah dirumitkan dengan berbagai masalah yang seharusnya untuk tanggungan orang dewasa pun, itu terlalu berat.
Sudah hampir satu jam Charlotte di tempat ini, hanya menatap lurus sekumpulan burung camar di batu sebelah sana. Tak ada perubahan yang berarti dari gesturenya kecuali tubuhnya yang naik-turun seiring helaan nafasnya yang lembut, tapi beberapa detik kemudian setelah satu jam kedatangannya, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir : dahi gadis itu berkerut hebat sebelum dia meninggalkan tempat ini. Ini aneh, karena lihat! Kenapa ada burung hantu yang terbang ke arahnya? Dari kumpulan burung camar?
"Sekolah Sihir Hogwarts. Kepala Sekolah : Albus Dumbledore (Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional). Miss Ryan yang baik, dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda—"Siapa yang mengira kalau ternyata, burung hantu itu akan membawanya menuju kehidupan yang lain. Yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan di mimpi terliarnya sekalipun. Selamat, Charlotte.