Sabtu, 26 September 2009 08.49
Which One / I
Seorang Charlotte Demelza Ryan, meski dilahirkan dari persilangan dengan bibit seorang Mafia, masih memiliki perasaan. Matahari sudah di puncak kepala ketika ia dan Guiseppe menyelesaikan transaksi di toko buku dan meninggalkan tempat itu dengan setumpuk kertas yang dibundel dengan tebal satuan tak kurang dari lima senti. Dikali sembilan buku, dan itu berarti setengah meter kurang sekian, tumpukan yang harus dibawa Guiseppe dalam dekapannya selain satu bungkusan yang tak kalah besar berisi kuali dan timbangan dan lain-lain. Sementara toko yang belum mereka datangi masih banyak, tegakah Charlotte meneruskan berbelanja?
Guiseppe tidak mengizinkannya membawa apapun selain kotak tongkat yang kenyataannya tak lebih dari dua puluh lima kali lima kali tujuh senti, dan karena itu sangat tidak sebanding dengan semua yang dibawa Guiseppe, mereka harus beristirahat barang sebentar saja.
Leaky Cauldron masih lumayan ramai ketika Charlotte dan Guiseppe memutuskan untuk kembali, mencoret Florean Fortescue's Ice Cream Parlour dari tujuan yang tadinya akan mereka datangi begitu melihat tempat itu yang benar-benar penuh. Jadilah mereka kembali ke bar kumuh Leaky Cauldron (kini berdua), mengambil satu meja di dekat gerbang menuju Diagon Alley, lalu meletakkan semua belanjaan mereka di atas sana. Guiseppe masih berdiri ketika Charlotte melepas mantelnya, memperlihatkan terusan tipis merah hati membaluti kulit putih pucatnya. Ekor manik gadis itu menyipit sambil menatap Guiseppe penuh arti, yang kemudian dibalas laki-laki berambut legam itu dengan anggukan sebelum dia duduk. Charlotte berdeham pelan, mengulurkan tangan untuk meminta bukunya yang kemudian langsung diserahkan oleh Guiseppe. Sejarah Hogwarts langsung menarik untuk dibuka sesaat kemudian.
"Duduklah dan jangan bersikap berlebihan, Guiseppe. Kau di London ayahku," ujarnya tanpa menatap penjaganya itu, membuka sampul depan Sejarah Hogwarts dengan perlahan. Guiseppe terlihat sediki canggung meski pembawaannya setenang biasanya, membetulkan dasi di balik jasnya sambil menatap sekitar. Dari raut wajahnya dapat Charlotte tebak bahwa laki-laki itu sama tidak setujunya bahwa Leaky Cauldron bukan tempat yang cukup layak dan higienis untuk makan. "Anda yakin akan memesan makanan dari tempat ini, Nona?" tanyanya dalam bisikan, tubuhnya yang jangkung sedikit tercondong ke arah Charlotte.
Yang dibalasnya lagi-lagi dengan senyuman tipis yang formal. Manik coklat beningnya tak sedikit pun beranjak dari buku di tangannya, sedikit tertarik pada bahasan tentang keempat asrama; Gryffindor, Hufflepuff, Slytherin dan Ravenclaw. "Tentu saja tidak. Tapi kalau kau mau, pesan saja nanti aku yang bayar. Tenang saja, aku tidak selapar itu sampai harus makan di tempat ini." balasnya lagi, lalu kemudian Guiseppe mengangguk dan berdiri. Membuat Charlotte mau tidak mau mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu biarkan saya saja yang melanjutkan berbelanja. Tidakkah anda keberatan untuk menunggu di sini sendirian? Saya berjanji akan menyelesaikannya secepat mungkin," ujar Guiseppe lagi, wajahnya sedikit menunduk. Charlotte terdiam beberapa saat, garis wajahnya sedikit mengeras ketika ia akhirnya mengangguk. "Pergilah," katanya lagi, dan secepat kilat Guiseppe sudah menghilang dari pandangan, dengan langkah lebar-lebar yang anggun, penjaganya itu menghilang di balik tembok aneh menuju Diagon Alley.
Charlotte menggeleng kecil, menghela nafasnya dalam sebelum kembali menekuni buku di hadapannya. Entah mengapa tertahan di topik tentang keempat asrama di Hogwarts, bibir kecilnya mengulang tanpa suara deskripsi yang tertera di buku. Gryffindor hanya untuk kau yang pemberani, Ravenclaw untuk para cendikia, Slytherin tempat orang dengan ambisi, dan Hufflepuff di mana kau punya loyalitas dan kemurnian hati. Sedikit menggelitiknya, memikirkan sepertinya tak ada satupun dari deskripsi yang disebutkan cocok dengan dirinya. Pemberani? Cerdik? Ambisi? Loyalitas? Pfft, Charlotte mencibir dalam diam. Membaca sekali lagi tentang asrama di Hogwarts dengan teliti.
Ia butuh yang lain, yang bisa memberitahunya lebih jauh daripada sekedar beberapa halaman minim deskripsi. Penilaian, yang bisa membantunya mengetahui asrama mana yang mungkin nanti akan menjadi rumah kedua—ketiganya setelah Italia dan Waterloo.
Widely open untuk yang ingin berdialog cukup serius tentang asrama :-?