Sabtu, 26 September 2009 08.46
Sebuket Bunga : Siapkan Hidung dan Uangmu!
Berpisah dengan Juutilainen selepas mereka melewati tembok aneh yang bisa bergeser menjadi gerbang, Charlotte akhirnya bisa bernafas lega ketika mengedarkan pandangannya, ternyata anggapan tentang toko-toko di dunia sihir berada di atas pohon raksasa salah. Sebagai gantinya bangunan-bangunan normal namun kumuh terlihat berjajar di sepanjang jalan, sebagian dengan pintu terbuka dan papan-papan nama menggantung hampir coplok, menampilkan etalase-etalase hidup yang lain dari toko-toko yang biasa ia lihat. Penyihir-penyihir berlalu-lalang dalam dua arus berlawanan, keluar masuk dari toko ke toko dengan setumpuk barang belanjaan menggelembung dalam dekapan.
Charlotte mengernyit, mengamati setiap toko dengan seksama selepas urusannya mengambil uang di bank beres. Dengan kedua tangan tersusup dalam saku, kaki kurusnya membawa gadis itu menikmati keadaan dalam langkah yang lambat-lambat. Sebentar saja, biarkan dia melihat dan menilai seperti apa dunia baru yang akan ditinggalinya nanti. Apakah Charlotte memang harus bersekolah dan menjadi penyihir atau tidak, tergantung pilihannya. Buang yang busuk, pelihara yang baik—sedetik pun tidak akan pernah ia lupakan prinsip dari mendiang ayahnya. Kita lihat, kalau dalam prakteknya dunia sihir tidak lebih baik dari dunia manusia normal—untuk apa dijalani? Hidup ini pilihan, tentu. Dan semua orang ingin yang terbaik untuk hidupnya. Begitu juga Charlotte, yang selalu menginginkan semuanya sesempurna harapan.
Dan tebak apa penilaian pertamanya tentang penyihir—entah perasaannya saja atau bukan;
mereka suka yang kumuh-kumuh, eh? Dua, atau mungkin banyak tempat para penyihir yang didatanginya tidak memberikan kesan baik. Pertama Leaky Cauldron dengan bangunannya yang hampir roboh, lalu sekarang? Bahkan mereka tidak berpikir jauh untuk menyihir angin agar menerbangkan debu-debu di rumah-rumah mereka. Membuat Charlotte benar-benar tidak berselera mengunjungi toko manapun di tempat ini. Kecuali mungkin yang satu ini...
Fleur de LysMengingatkan Charlotte pada taman bunga pribadinya di Italia, meski toko ini sederhana saja, tapi tanpa sedikit pun terlintas dalam benak kedua kaki gadis itu terpaku pada bumi. Di tengah jalan pula. Sementara bola mata coklat cemerlangnya menyisir bertangkai-tangkai bunga yang terpajang di dalam toko, kaki gadis itu lagi-lagi membawa sang gadis, kali ini masuk ke dalam. Menampilkan sepetak ruangan berhias warna-warni alami kembang sebagai pemandangannya. Juga beberapa orang di sini, sekitar empat atau mungkin lima laki-laki dan satu perempuan, yang banyak di antaranya membeli tulip.
Tulip—apa cantiknya di banding mawar favoritnya?
Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar, Charlotte beringsut mendekati bertangkai-tangkai mawar merah segar dalam ember. Memperhatikan dengan seksama sebelum meraihnya satu, ia kemudian berjalan ke arah seorang laki-laki dewasa yang sepertinya pemilik toko. Memilin bagian batang yang tak berduri, Charlotte lalu menatap si penjaga toko dengan senyum formal terulas. "Aku mau satu tangkai. Juga flower of the day untuk hari ini kalau ada," katanya lugas.
[Eamnnon]