Sabtu, 26 September 2009 08.51
Gerbong #2 : Kompartemen #02 / I
31 September 1982, jarum panjang di jam tangan perak kecil yang melingkari tangannya menunjukkan pukul sebelas.
Seperti layaknya tempat-tempat lain di dunia sihir, Stasiun King's Cross bagian peron 9 3/4 baru pertama kali ini didatanginya. Meski selama ia hidup stasiun utama kota London itu sudah beberapa kali dipakainya sebagai tempat turun dan naik kereta, tidak ia sangka di antara peron 9 dan 10 terdapat peron 3/4. Cara melewatinya dengan ditembus, yang membuat iris coklat beningnya membesar tak percaya beberapa kali begitu menangkap bayangan beberapa penyihir berjalan menembus tembok. Baru beberapa menit kemudian ketika akhirnya ia bisa mengatasi kekagetannya, mereka berdua (ia dan Guiseppe) dengan air muka heran tak keruan berjalan menembus peron seolah tak tahu apa-apa. Seperti yang dilakukan penyihir lain yang dengan sengaja diperhatikannya.
Peron 9 3/4 penuh sesak oleh lautan orang saat ini; orang-orang berlalu lalang tak tentu arah dalam dua arus berbeda. Charlotte, yang untungnya tidak harus membawa semua koper dan barang-barangnya yang beratnya memuakkan dengan susah payah menerobos kerumunan, tanpa basa-basi naik ke atas kereta, diikuti Guiseppe yang dengan setia mengikutinya di belakang. Membawa koper-koper dan barang-barangnya yang sungguh berat. Kompartemen-kompartemen berjajar di gerbong yang ia masuki, sebagian besar di antaranya nampak kosong. Tapi Kompartemen satu sudah penuh, yang membuat Charlotte mengurungkan niatnya untuk masuk dan berlalu ke kompartemen selanjutnya.
Kompartemen nomor dua; masih kosong melompong.
Dengan tangan mungilnya yang sewarna susu, gadis sebelas tahun itu perlahan membuka pintu kompartemen; menggesernya tepatnya. Memperlihatkan sebuah ruangan tak cukup besar dengan kursi biasa di kedua sisi, jendela di ujung satunya memperlihatkan pemandangan peron yang masih penuh dengan lautan manusia. Tanpa menunggu aba-aba gadis itu lalu masuk, mengambil tempat di paling ujung dekat jendela lalu melempar pandangannya ke luar. Guiseppe mengikuti dari belakang, meletakkan kopernya di dekat tembok kemudian berjalan mundur, kepalanya tertunduk sedikit.
"Kereta akan berangkat sebentar lagi, Nona. Apa saya harus menunggu di sini sampai keretanya berjalan?" kata laki-laki itu, membuat pandangan Charlotte kembali teralih.
Sorot matanya yang tajam bak elang menatap Guiseppe sebentar, menimbang-nimbang sesuatu dalam benaknya. "Hm... pergilah Guiseppe, nanti akan ada orang lain yang datang menemaniku. Jaga ibuku baik-baik. Sampai jumpa nanti." ada tarikan di kedua ujung bibirnya, mengulas senyuman tipis yang manis. Lalu selaras kemudian sosok dengan jas lengkap itu pergi, dan pintu kompartemen kembali tertutup. Charlotte menghela nafas, mengalihkan lagi pandangan untuk menikmati pemandangan yang sempat tertunda.
(Sorry, pm for invite)