Sabtu, 26 September 2009 08.47
Magic Wand
Hari sudah terlalu siang ketika akhirnya Charlotte memutuskan untuk meninggalkan Fleur de Lys, matahari sedang sangat-sangat teriknya ketiga gadis itu menyusuri sepanjang jalan Diagon Alley. Kedua kakinya masih membawa gadis itu melangkah sementara jari-jarinya bergerak membuka lipatan demi lipatan perkamen di tangannya, lain lagi dengan matanya yang sedang menyusuri papan demi papan nama yang terpajang di setiap toko. Entah toko mana yang akan ia masuki pertama kali, yang pasti tidak satupun menarik minatnya sampai detik ini.
Semua sama saja, kumuh seolah tidak pernah dirawat. Padahal Charlotte begitu menghargai kerja keras dan tidak pernah merawat toko milik sendiri tidak termasuk dalam konteks 'kerja keras'. Tapi bagaimanapun juga ia harus segera melengkapi barang-barangnya, karena sepertinya tidak akan ada lain waktu. Meski ia sendiri tidak yakin, jika semua barangnya dibeli hari ini dua tangan mungilnya sanggup membawa semua perlengkapannya. Mungkin ia bisa menitipkannya di Leaky Cauldron dan memanggil Guiseppe untuk menjemput, tapi bahkan bar itu juga tidak ia percayai sepenuhnya.
Kemudian sebuah tepukan pelan di bahu membuat kedua kakinya refleks terhenti. Dilanjutkan dengan dehaman dalam dan khas yang sudah dikenalnya, seorang lelaki sekitar tiga puluhan sedang membungkuk begitu ia berbalik. Memunculkan senyum tipis yang langsung terpatri di wajahnya; bercampur sedikit kekagetan mengapa penjaganya itu bisa ada di tempat ini. "Tegakkan tubuhmu, Guiseppe. Apa yang membuatmu ke tempat ini?" tanyanya tanpa basa-basi, ekor matanya menelisik Guiseppe dari atas ke bawah, yang seperti biasa dengan jas dan pantofel.
Guiseppe kemudian menegakkan tubuhnya, mengangguk rendah sebelum kemudian tersenyum sopan. Ia menjawab, "Aku hanya tidak bisa membayangkan anda membawa semua barang itu sendirian, Nona. Seseorang dari sekolah Nona mengantarkan saya ke sini. Tapi saya lihat sepetinya barang-barang sihir sama sihirnya—apa semua itu ringan dan tidak terlihat?" Charlotte tersenyum tipis, merentangkan rendah kedua tangannya kemudian mengangkat bahu. "Aku memang belum membeli apa-apa, Guiseppe. Baguslah kalau kau di sini, kita ke toko tongkat sebelum membeli semua yang berat-berat," ujarnya lagi sambil kemudian berbalik.
Derak pintu toko yang dibuka kemudian menunjukkan bahwa mereka sudah sampai.
Charlotte menyusupkan kedua tangannya ke dalam mantel begitu mereka tiba, dilihatnya tempat ini benar-benar sangat penuh. Ada tiga penjaga yang masih belia dan satu sudah sangat tua bertugas di balik meja, membuatnya sedikit bingung harus menghampiri yang mana. Tapi kemudian ia menemukan satu yang sedikit lenggang, berjalan mendekat kemudian mengerling papan bertuliskan daftar tanggal lahir di atas meja. "Tongkat untukku, 7 Juli please?" dan yang bisa dilakukannya hanya menunggu. Berharap tongkatnya tidak rapuh seperti pintu toko ini.