Sabtu, 26 September 2009 08.51
Which One / III
Entah setan apa yang merasuki gadis keturunan Italia itu hingga melontarkan pertanyaan memancing macam tadi, karena jika dilihat-lihat anak yang baru saja ditanyanya bahkan tidak lebih dari umur sebelas tahun.
Yang artinya seumur dengannya. Dan tak ada kata lain yang cukup menggambarkan selain dia sama mentahnya dengan Charlotte tentang pengalaman akan Hogwarts. Meski tidak ada yang menjamin kakak atau orang tua atau siapapun keluarga orang itu telah mengajari, tapi Charlotte ingin sesuatu yang lebih 'matang'. Yang bisa memberitahunya dengan jelas dan
pasti—bukan sekedar cerita-cerita yang bahkan belum jelas kebenaran dan keakuratannya. Tapi bukan Charlotte menganggap anak itu pembual; hanya saja, maksudnya—daya tangkap anak yang belum pernah berpengalaman jelas akan berbeda dengan mereka yang sudah merasakan. Pikiran yang belum terisi apa-apa akan menerima dengan mudah apapun yang dikatakan, entah yang mereka terima itu benar atau tidak, melebih-lebihkan atau tidak. Semua yang mereka dapat akan mereka anggap benar; karena kata ibuku hal itu begini dan kata ayahku yang itu begitu.
Tapi siapa yang tahu mana yang benar? Seperti layaknya tiga orang yang masih berbincang di hadapan Charlotte—bahasan mereka tak jauh dari Kau-Tahu-Siapa dan bagaimana dia keluaran dari Slytherin. Slytherin yang busuk dan jahat, dan betapa mereka tidak pantas dimasuki. Padahal mereka tidak tahu sedikit pun tentang apa yang mereka katakan; mereka tidak akan pernah tahu mana yang benar sebelum merasakan. Maka itu Charlotte diam saja, tidak mau sesumbar apapun akan hal yang bahkan belum dia ketahui. Dan itulah alasan utamanya mengapa gadis dengan rambut coklat sepunggung itu butuh seseorang yang bisa memberitahunya dengan pasti. Agar ia tak asal bicara dengan mulut besarnya.
"Apa yang ingin kau ketahui?" Anak laki-laki di depannya malah melempar balik pertanyaan, membuat kedua alis Charlotte terangkat naik. Dari nada bicara yang ia terima, entah mengapa sepertinya anak laki-laki itu tidak terlalu senang. Campur menantang, kalau pendengarannya masih belum terganggu. Dan Charlotte entah mengapa tidak terlalu suka akan hal itu. Siapa yang berani menantangnya? Tidak ada kata mundur dari seorang Charlotta Bontade, anak perempuan satu-satunya Stefano Bontade. Mata dibalas mata, tantangan tidak bisa ia biarkan begitu saja. Meski Charlotte tidak akan membalas dengan terang-terangan, selalu ada jalan untuk mencapai tujuan.
Ia tersenyum tipis, menatap si anak laki-laki berambut coklat dengan sedikit tertarik. "Apapun yang bisa kau beritahu padaku—
semuanya," katanya, bola matanya menyipit sedikit. "Bonus kalau kau bisa dengan tepat menebak asrama apa yang akan kudapat nanti—kau boleh minta satu hal dariku. Tertarik?" sudut bibirnya semakin tertarik, membuat senyuman gadis itu makin menipis. Tapi bukan senyum formal seperti biasanya, ada maksud lain di sana. Terbilang berani memang. Tapi apa sih yang akan diminta orang macam dia? (Bukan maksud meremehkan, maaf) Uang? Barang? Atau bahkan wanita? Kematian pun akan Charlotte beri, asal bukan seluruh kebahagiaannya saja. Berani taruhan, karena memang itu kan yang banyak diminati orang?
"Dan kau sebaiknya lebih menjaga mulutmu di depan umum, nak, atau mereka bisa menggigit—para ular manis yang kau bicarakan itu."Lalu satu wanita cukup dewasa menghampiri mereka. Yang lagi-lagi ditatap Charlotte dengan sorot tertarik. Sepertinya gadis berambut coklat sebahu itu murid Hogwarts dan bisa memberinya sesuatu dibanding cerita sebelum tidur dari orang tua mereka. Manik coklat beningnya menyipit, terlihat dari sorot matanya yang berbinar bahwa ia benar-benar tertarik. "Sejak kapan yang 'manis-manis' bisa menggigit, Nona?" tanyanya masih nampak tertarik.