Sabtu, 26 September 2009 08.45
First Act : Introduction / II
Kalau Pureblood dan Mudblood itu sebutan untuk sebuah status, biarkan Charlotte mencibir sejenak. Karena dari dulu sampai sekarang ia tidak pernah menyukai apa yang diagung-agungkan orang sebagai status; status apapun itu baginya sama saja. Pikirnya setiap saat, apa yang bisa kau dapat dari sekedar status? Sementara yang paling penting dan mendasar dari tiap individu adalah hati dan kepribadian, status tidak memberikan banyak hal kecuali kesombongan dan egoisme. Status tinggi terkadang membentuk dua hal itu, merusak kepribadian-kepribadian yang pada dasarnya polos, menjadikan mereka penjahat yang tidak tahu aturan. Status boleh ada, tapi tidak untuk dijadikan tolak ukur apakah sesuatu baik atau tidak, layak atau tidak, maupun pantas atau tidak pantas. Apa karena dirinya seorang Mudblood dia tidak pantas duduk di sini bersama gadis itu? Kecuali kalau statusnya sebagai pasien berpenyakit menular, nona di sampingnya ini boleh saja bilang kalau dia tidak mau duduk dengan Mudblood karena cepat atau lambat, dia pasti terkena imbasnya. Tapi kalau hanya soal status darah?
Lagipula apa itu Pureblood dan Mudblood? Maksudnya—artinya apa? Sebagai orang awam yang baru kali ini menapaki dunia sihir, status darah justru menjadi hal di luar pengetahuannya. Dikiranya dunia sihir lebih beradab, tapi Charlotte bahkan lupa kalau penyihir-penyihir itu juga manusia, bukan sekumpulan peri kecil bersayap yang mengabulkan permintaan anak-anak. Jadi mari kita kembali ke realita.
Anak perempuan yang baru duduk beberapa saat di dekatnya tiba-tiba berdiri begitu Charlotte bilang bahwa dirinya darah-lumpur, dilihat dari air mukanya kemudian, gadis itu sepertinya tidak sehat. Ekor mata Charlotte memperhatikan anak itu dengan seksama, entah mengapa anggapan 'anak manja' langsung terlintas di benaknya saat itu juga. Ditambah lagi sepertinya perempuan yang sedari tadi berdiri di belakangnya itu adalah pelayannya, anggapan Charlotte semakin kuat saja. Kedua bibirnya membentuk senyuman tipis, ia tersentak halus ketika seseorang meraih lengannya sebelum kemudian mengecupnya kecil. Senyum gadis itu semakin tipis, sempat kaget sesaat, gadis itu kemudian ingat bahwa kegiatan mengecup-tangan adalah hal yang lumrah.
“Silakan duduk, Nona yang-sepertinya-ber-Darah-Lumpur. Aku yang akan pergi,”Lalu si
Nona muda buru-buru pergi setelah mempersilahkan Charlotte duduk (padahal dia sudah duduk sejak tadi), membuat gadis itu hanya bisa mengangguk kecil tanpa mengucapkan apa-apa, terlebih karena bibirnya sendiri yang sejak tadi tidak bisa berhenti tersenyum geli. Karena menggelikan menurutnya, baru dia temui orang macam si Nona muda tadi; sampai-sampai rasanya terlalu menarik untuk dipermainkan. Kira-kira apa yang akan terjadi jika Charlotte menyentuh sedikit saja permukaan kulitnya? Apa dia akan pingsan? Atau bahkan muntah-muntah? Akan menarik jika dicoba.
Tapi itu nanti, baru ia ingat kalau setelah ini masih ada banyak keperluan yang harus dibelinya sendirian. Charlotte harus buru-buru karena ia sendiri tidak yakin kalau dia akan selamat sampai akhir belanja di Diagon Alley. Kemungkinan tersasar selalu ada, apalagi ini tempat yang bahkan belum pernah dilihatnya. Siapa tahu di dunia sihir, toko-toko berada di atas daun raksasa? Sapaan Jutilainen belum sempat dibalasnya, "Senang juga bertemu denganmu Juutilainen, sayang sepertinya pertemuan kita singkat saja." ucapnya kemudian berdiri, melirik tertarik pada selembar sapu tangan biru di atas meja. Milik Nona muda tadi, Charlotte sangat ingat. "Aku harus pergi berbelanja sebelum petang. Juga mengembalikan sapu tangan ini pada si Nona muda kukira," lalu ia melanjutkan, meraih sapu tangan di atas meja dan menyusupkannya ke dalam saku. Menunggu Juutilainen mempersilahkannya, sekedar untuk kesopanan.