Sabtu, 26 September 2009 08.49
Kamar 116 : Serangan Billywig. / I
Ini memuakkan. Apapun yang membuatnya kembali mengunjungi tempat ini, pasti bukan alasan yang dapat ia terima dengan akal sehatnya. Tidak biasanya Charlotte masuk dua kali dalam perangkap—tidak biasanya tempat yang tidak ia sukai didatanginya dua kali. Entah mungkin karena ketidakpercayaannya yang masih menganggap semua ini seolah mimpi atau apa, yang pasti kedua kaki mungil Charlotte sedang menapak lagi lantai berdebu Leaky Cauldron, sementara manik coklat terangnya menyisir seluruh penjuru ruangan yang ramai seperti biasa.
Ia menghela nafasnya, dan udara berdebu Leaky Caudron serta merta memmenuhi paru-parunya, membuat nafas gadis itu sempat tertahan beberapa detik sebelum dihembuskan dengan sedikit susah payah. Dahinya berkerut sementara sorot matanya lagi-lagi menyipit sedikit tak suka. Tapi sayangnya semua ini nyata, tak dapat dipungkiri kalau beberapa hari lalu, surat yang diterimanya benar-benar surat pemberitahuan bahwa ia menjadi penyihir. Bahwa hidupnya sekarang benar-benar berubah, dan yang dihadapinya sekarang adalah bar penyihir.
Charlotte berjengit sedikit, menggulirkan bola matanya ke arah anak-anak tangga di samping bar; penasaran dengan apa yang akan ditemuinya di atas sana, ia kemudian beringsut mendekat, menaiki satu persatu anak tangga dengan langkahnya yang perlahan. Pandangannya tak lepas menatap ke atas, waspada jika ternyata ada makhluk mengerikan yang muncul ia tinggal lari. Tapi sampai anak tangga terakhir yang ditemukannya hanya pintu-pintu dengan nomor. Kamar-kamar penginapan berjajar dari ujung ke ujung, sebagian pintunya tertutup namun tak menutup kemungkinan ada yang memperlihatkan isi di dalamnya. Gadis sebelas tahun itu menghela nafas lega, entah mengapa ia malah meneruskan langkahnya. Kedua tangannya yang bebas menyusup ke dalam mantel.
Sejauh ini semua terlihat baik-baik saja; tidak ada makhluk mengerikan apapun yang ditakutkannya kecuali—
—sepertinya ada sesuatu di kamar dengan pintu terbuka sebelah sana. Ada suara-suara berdesing aneh dari tempat itu, dan dengan suara gedebuk lain yang mengerikan tampaknya ada yang tidak beres di sana. Charlotte melangkahkan kakinya dengan hati-hati, tetap waspada dan siap lari ia akhirnya sampai di ambang pintu. Memperlihatkan padanya sekelompok orang di dalam juga makhluk-makhluk kecil aneh yang berpusing—entah apa. Tapi kebanyakan dari mereka sepertinya kelelahan, tidak terlalu terganggu dengan apapun-itu-yang-berpusing, tak ada yang lari kecuali menatap makhluk-makhluk itu dengan tatapan antara takut dan ingin meringkus. Beberapa sibuk sendiri hanya tidak ada perlakuan berarti yang mereka berikan. Terlalu kelelahan, mungkin. Sejauh ini, sepertinya makhluk apapun itu tidak terlalu menyeramkan.
Dan entah mengapa membuatnya terpaku di tempat, mengamati seorang gadis yang berteriak-teriak dengan nafas tersengal. Tsk, ada apa ini sebenarnya?